Profil Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran yang Gugur dalam Serangan AS-Israel

Posted on

Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, meninggal dalam serangan gabungan yang dilakukan oleh Israel dan Amerika Serikat. Media pemerintah Iran mengonfirmasi kematian pemimpin berusia 86 tahun tersebut pada Minggu dini hari (1/3), setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Khamenei telah tewas dalam serangan udara gabungan AS-Israel yang menyerang kompleks kediamannya pada Sabtu (28/2).

“Diumumkan kepada rakyat Iran bahwa Yang Mulia Ayatollah Agung Imam Sayyid Ali Khamenei, Pemimpin Revolusi Islam, telah gugur dalam serangan gabungan yang dilancarkan oleh Amerika dan rezim Zionis pada pagi hari Sabtu, 28 Februari,” laporan kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim News Agency.

Media pemerintah Iran melaporkan bahwa putri, menantu, dan cucu Khamenei juga turut tewas dalam serangan tersebut. Trump sebelumnya menyatakan bahwa Khamenei dan pejabat Iran lainnya “tidak dapat lolos dari intelijen AS dan sistem pelacakan canggih”.

Proses Pemilihan Pemimpin Tertinggi Iran Segera Dimulai, Bagaimana Mekanismenya?

Setelah kematian Khamenei, proses pemilihan pemimpin tertinggi Iran akan segera dimulai. Berikut adalah mekanisme yang digunakan:

  • Dewan Perwakilan Rakyat: Dewan ini akan memilih calon pemimpin tertinggi dengan mempertimbangkan kelayakan dan kepatutan.
  • Ketua Dewan Pengawas: Ketua Dewan Pengawas akan meninjau kelayakan calon dan menentukan apakah mereka layak untuk diangkat sebagai pemimpin tertinggi.
  • Pemilihan Akhir: Jika semua persyaratan terpenuhi, calon akan diangkat sebagai pemimpin tertinggi.

Israel Serang Iran, Ada Kepulan Asap dan Suara Ledakan di Teheran

Serangan Israel terhadap Iran mengakibatkan kepulan asap dan suara ledakan yang terdengar di Teheran. Warga setempat mengaku kaget dan khawatir atas peristiwa tersebut. Beberapa saksi mata mengatakan bahwa mereka melihat kebakaran besar di sekitar area pusat pemerintahan Iran.

Siapa Ali Khamenei?

Ali Khamenei lahir pada tahun 1939 di kota suci Syiah Mashhad di timur laut Iran. Ia adalah putra seorang pemimpin Muslim terkenal dan etnis Azerbaijan dari negara tetangga Irak. Keluarga tersebut pertama kali menetap di Tabriz di barat laut Iran sebelum pindah ke Mashhad, tempat yang disukai oleh para peziarah agama, di mana ayah Khamenei memimpin sebuah masjid Azerbaijan.

Ibunya, Khadijeh Mirdamadi, dikenal sebagai pembaca Al-Quran dan buku yang tekun yang menanamkan kecintaan pada sastra dan puisi kepada putranya. Ibunya kemudian mendukung putranya ketika ia bergabung dengan gerakan melawan pemerintahan dinasti Pahlavi.

Latar Belakang Pendidikan dan Karier Politik

Khamenei memulai studinya pada usia empat tahun, mempelajari Al-Quran, dan menyelesaikan pendidikan dasarnya di sekolah Islam pertama di Mashhad. Ia tidak menyelesaikan sekolah menengah atas, melainkan bersekolah di sekolah teologi dan belajar dari para ulama Islam terkenal pada masa itu, seperti ayahnya, dan Syekh Hashem Ghazvini. Pada tahun-tahun berikutnya, ia melanjutkan studinya di pusat-pusat pendidikan tinggi Syiah yang lebih bergengsi di Najaf dan Qom.

Di Qom, ia belajar dari dan menjadi dekat dengan sejumlah ulama Muslim terkenal lainnya, termasuk Ayatollah Khomeini, yang populer di kalangan seminaris muda karena penentangannya terhadap Shah.

Peran Khamenei dalam Pemimpinan Iran

Khamenei mengajar mata kuliah hukum Islam dan kelas interpretasi teologi publik, yang juga memungkinkannya untuk menjangkau audiens yang semakin luas, terutama mahasiswa muda yang mulai kecewa dengan monarki.

Monarki pada saat itu telah dipulihkan ke kekuasaan absolut setelah kudeta yang diatur oleh MI6 dan CIA pada 1953. Peristiwa itu menggulingkan Perdana Menteri Mohammad Mosaddegh yang terpilih secara demokratis setelah ia mencoba menasionalisasi industri minyak Iran.

Sebagai aktivis politik, Khamenei berulang kali ditangkap oleh polisi rahasia Shah (SAVAK) dan dijatuhi hukuman pengasingan di kota terpencil Iranshahr di Iran tenggara, tetapi kembali untuk ikut serta dalam protes tahun 1978 yang menyebabkan berakhirnya pemerintahan Pahlavi.

Pemimpin Tertinggi

Setelah monarki digulingkan, Khamenei menjadi tokoh kunci dalam membangun Iran yang baru. Ia sempat menjabat sebagai menteri pertahanan pada 1980 dan kemudian sebagai pengawas Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) setelah pecahnya perang Iran-Irak. Sebagai orator yang berapi-api, ia juga mendapatkan posisi berpengaruh, yaitu pemimpin salat Jumat di Teheran.

Tahun 1981 terbukti menjadi momen yang penting bagi Khamenei. Ia kehilangan fungsi lengan kanannya setelah nyaris lolos dari upaya pembunuhan oleh Mojahedin-e Khalq (MEK), sebuah kelompok oposisi yang memulai pemberontakan bersenjata melawan teokrasi Iran yang baru didirikan setelah berselisih dengan Khomeini. Pada tahun yang sama, Khamenei memenangkan kursi kepresidenan, menjadi presiden ulama pertama Iran.

Akhir Kepemimpinan

Meskipun Khomeini adalah kekuatan ideologis di balik revolusi yang mengakhiri kekuasaan monarki Pahlavi, Khamenei-lah yang membentuk aparat militer dan paramiliter yang membentuk pertahanan Iran terhadap musuh-musuhnya dan memberikannya pengaruh jauh di luar perbatasannya.

Di bawah visi ini, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) berevolusi dari pasukan paramiliter menjadi lembaga keamanan, politik, dan ekonomi kuat yang menjadi pusat pengaruh Iran sehingga jadi lebih luas di seluruh kawasan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *