Kasus Pembunuhan Tragis di Sampang: Kehidupan dan Fakta yang Terungkap
Pada 2 November 2025, seorang remaja bernama Raffa Galang Prayoga (19) ditemukan tewas dalam kondisi mengenaskan di hutan Kabupaten Sampang. Ia ditemukan dengan luka bacok di sekujur tubuh, tangan terikat ke belakang, dan mata tertutup kain. Kejadian ini mengejutkan seluruh masyarakat, terutama keluarga dan rekan kerjanya.
Peran Galang dalam Keluarga dan Pekerjaan
Galang bukanlah seorang pengemudi ojek online (ojol) seperti yang sempat disebut-sebut dalam berita awal. Menurut pengakuan ayahnya, Bambang Kusnandar, Galang bekerja di perusahaan ekspedisi paket barang milik tantenya, Titik. Galang bertugas mengirimkan paket dan dokumen ke pelanggan di wilayah Jawa Timur.
Sejak usia sembilan tahun, Galang tidak lagi diasuh oleh ibunya karena perceraian. Ia kemudian diasuh oleh ayahnya sendiri, Bambang, yang kini menjadi disabilitas tunadaksa setelah mengalami kecelakaan beberapa tahun lalu. Dengan kondisi ayahnya yang tidak bisa melakukan banyak hal, Galang menjadi tulang punggung keluarga. Ia juga merawat dua adik kembarnya yang masih berusia enam tahun.
Kehidupan Galang sangat sederhana dan terbatas. Ia jarang bepergian jauh dari rumah. Biasanya, ia lebih suka bermain di rumah bersama adik-adiknya atau nongkrong di rumah teman dekat rumah tantenya. Galang juga sering menghabiskan waktu bersama kerabat dan teman-temannya di sekitar lingkungan tempat tinggalnya.
Kepribadian Galang yang Tertutup
Meski tampak pendiam dan tertutup, Galang memiliki kepribadian yang ramah dan sopan. Menurut ayahnya, Galang tidak pernah membantah jika diperintahkan untuk melakukan sesuatu di rumah. Bahkan, ketika Bambang marah dan memukulnya karena ketahuan meninggalkan salat, Galang hanya diam dan menerima tanpa marah.
Bambang mengaku bahwa ia tidak tahu pasti motif pelaku yang membunuh anaknya. Namun, ia menyatakan bahwa Galang tidak memiliki kekayaan berarti. Beberapa barang miliknya seperti gelang dan kalung hilang, namun itu hanya asesoris biasa. Motor Honda Revo yang digunakan Galang juga hilang.
Pengakuan dari Tante Galang
Tante Galang, Titik, menjelaskan bahwa ia yang membiayai pendidikan Galang dan kedua adiknya. Meskipun Galang diberi kesempatan melanjutkan studi hingga jenjang sarjana, ia menolak karena takut memberatkan keluarga. Titik menganggap Galang sebagai anak sendiri dan mengakui bahwa ia adalah sosok yang pekerja keras dan bertanggung jawab.
Galang ditempatkan sebagai tenaga lapangan di perusahaan Titik. Ia dikenal cepat dan cekatan dalam menyelesaikan pekerjaan, bahkan sampai melebihi jam kerja. Karena sikapnya yang baik dan profesional, banyak pelanggan perusahaan Titik merasa sedih saat mendengar kabar duka tersebut.
Kehidupan yang Sederhana dan Tidak Pernah Ke Madura
Menurut Titik, Galang tidak pernah bepergian ke Pulau Madura, termasuk untuk urusan apapun. Bahkan, keluarga besar mereka tidak memiliki kerabat yang tinggal di pulau tersebut. Hal ini membuat Bambang dan Titik meragukan dugaan penculikan atau jebakan yang mungkin terjadi.
Galang merupakan sosok yang penurut dan tidak pernah melakukan hal-hal yang berisiko. Kehidupannya terbatas dan sangat sederhana, tetapi ia selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi keluarganya. Sayangnya, nasib buruk menghampirinya di usia muda, dan kini keluarga hanya bisa berdoa agar keadilan segera tercapai.


