Prakiraan Cuaca Jambi: Senin Hujan, Selasa-Minggu Berawan

Posted on

Prakiraan Cuaca Jambi Selama Seminggu ke Depan

Selama seminggu ke depan, dari 27 Oktober hingga 2 November 2025, cuaca di Jambi akan dominan berawan. Namun, pada Senin, 27 Oktober 2025, beberapa daerah seperti Merangin, Sarolangun, Batanghari, Muaro Jambi, Tanjung Jabung Barat, Tanjung Jabung Timur, Bungo, Tebo, dan Kota Jambi mengalami hujan. Meski begitu, BMKG tetap menyarankan masyarakat untuk tetap waspada saat musim hujan.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan kondisi cuaca berawan yang merata di 11 kabupaten/kota di Provinsi Jambi. Berikut adalah prakiraan cuaca Jambi di 11 kabupaten/kota menurut bmkg.go.id:

Kabupaten/Kota

Hari Kerinci Merangin Sarolangun Batanghari Muaro Jambi Tanjung Jabung Barat Tanjung Jabung Timur Bungo Tebo Kota Jambi Kota Sungai Penuh
Senin, 27 Okt Berawan Hujan Ringan Hujan Ringan Hujan Ringan Hujan Ringan Hujan Ringan Hujan Ringan Hujan Ringan Hujan Ringan Hujan Ringan Udara Kabur
Selasa, 28 Okt Berawan Udara Kabur Udara Kabur Udara Kabur Udara Kabur Berawan Berawan Udara Kabur Udara Kabur Berawan Udara Kabur
Rabu, 29 Okt Berawan Berawan Berawan Berawan Berawan Berawan Berawan Berawan Berawan Berawan Berawan
Kamis, 30 Okt Berawan Berawan Berawan Berawan Berawan Berawan Berawan Berawan Berawan Berawan Cerah Berawan
Jumat, 31 Okt Berawan Berawan Berawan Berawan Berawan Berawan Berawan Berawan Berawan Berawan Berawan
Sabtu, 01 Nov Berawan Berawan Berawan Berawan Berawan Cerah Berawan Berawan Berawan Berawan Berawan Berawan
Minggu, 02 Nov Berawan Berawan Berawan Cerah Berawan Cerah Cerah Berawan Cerah Berawan Berawan Cerah Berawan Kabut/Asap

Suhu dan kelembapan juga bervariasi setiap hari, dengan rentang suhu antara 14–34°C dan kelembapan berkisar antara 39–99%.

Cuaca Panas Mulai Mereda, Waspada Peningkatan Hujan di Sejumlah Wilayah

Dalam beberapa hari terakhir, BMKG mencatat kejadian hujan sangat lebat (curah hujan mencapai ≥ 100 mm/hari) di sejumlah wilayah di Indonesia, seperti Palangka Raya, Kalimantan Tengah (122,6 mm/hari), Balikpapan, Kalimantan Timur (116,9 mm/hari), Jakarta Selatan, DK Jakarta (141,4 mm/hari), Manggarai, Nusa Tenggara Timur (100 mm/hari).

Sementara itu, kondisi cuaca panas di sejumlah wilayah Indonesia mulai menurun dibandingkan dengan sepekan sebelumnya, suhu maksimum tercatat dalam beberapa hari terakhir di Kupang, Nusa Tenggara Timur (37,0°C), Majalengka, Jawa Barat (36,4°C), Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara (36,2°C), frekuensi wilayah dengan suhu di atas 36°C mulai berkurang.

Dalam sepekan ke depan, potensi hujan diprediksi meningkat di sebagian wilayah Indonesia meliputi sebagian besar Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Maluku, Papua, serta sebagian Pulau Sumatra, Kalimantan, Sulawesi.

Peningkatan ini berkaitan dengan faktor dinamika atmosfer pada skala global, regional, dan lokal yang turut memberikan kontribusi terhadap kondisi cuaca di wilayah Indonesia. Pada wilayah Indonesia bagian barat, terindikasi peningkatan suplai uap air berdasarkan indikator DMI negatif serta peningkatan awan konvektif dari aktifnya MJO terutama di wilayah Sumatra, Kalimantan, serta Jawa.

Selain itu, aktifnya gelombang atmosfer rossby equator di Samudra Hindia barat daya Banten hingga selatan NTB dan keberadaan sirkulasi siklonik di Laut Cina Selatan, Laut Sulu, Kalimantan dan Maluku serta faktor lokal di masing-masing wilayah yang dapat memicu kondisi atmosfer yang relatif labil sehingga mendorong terjadinya hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang.

Memasuki Pekan Akhir Oktober, BMKG Memprediksi Sejumlah Wilayah Indonesia Akan Mulai Memasuki Musim Hujan

Memasuki pekan akhir Oktober, BMKG memprediksi sejumlah wilayah Indonesia akan mulai memasuki musim hujan, terutama di bagian selatan ekuator seperti Jawa, Bali, Nusa Tenggara, serta sebagian Kalimantan dan Sulawesi bagian selatan.

Pada awal musim hujan umumnya ditandai dengan siang yang masih terik dan hujan tidak merata di sore atau malam hari, serta perubahan pola angin dan peningkatan kelembaban udara.

Masyarakat Sebaiknya Waspada

Seiring dengan perubahan tersebut, masyarakat diimbau untuk mewaspadai potensi cuaca gerah yang kerap terjadi menjelang turunnya hujan, akibat peningkatan kelembaban udara dan pemanasan permukaan yang kuat sebelum awan hujan berkembang.

Mempertimbangkan peningkatan potensi hujan dalam waktu mendatang, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan dan antisipasi dini terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu banjir, genangan, dan longsor yang berdampak pada aktivitas harian maupun transportasi.

Sebagai langkah mitigasi, masyarakat diharapkan dapat menjaga saluran drainase agar tidak tersumbat serta rutin memantau informasi cuaca resmi BMKG sebelum beraktivitas.

Dinamika Atmosfer Sepekan ke Depan

Selama sepekan ke depan, pertumbuhan awan hujan yang signifikan berpotensi terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia. Kondisi ini dipicu oleh interaksi berbagai faktor atmosfer skala global, regional, hingga lokal, yang mempertahankan atmosfer berada dalam kondisi labil dan mendukung perkembangan awan konvektif. Aktivitas atmosfer tersebut berpotensi menghasilkan hujan dengan intensitas bervariasi, mulai dari ringan hingga lebat.

Pada skala global, indikator Dipole Mode Index (DMI) saat ini menunjukkan nilai negatif sebesar −1.27, yang mengindikasikan peningkatan suplai uap air dari Samudra Hindia menuju wilayah Indonesia bagian barat, sehingga mendukung pembentukan awan hujan di kawasan tersebut. Faktor lain diantaranya terpantau Madden-Jullian Oscillation (MJO) di sebagian besar wilayah Sumatra, Kalimantan dan Jawa, mengindikasikan tingginya konvektifitas di wilayah tersebut. Selain itu, gelombang atmosfer diprediksi aktif yang memberikan potensi peningkatan pertumbuhan awan hujan di wilayah yang dilaluinya.

Aktivitas Gelombang Rossby Ekuator yang berpropagasi ke arah barat diprediksi aktif di Samudra Hindia barat daya Banten hingga selatan NTB dan Samudra Pasifik sebelah timur laut Papua.

Fenomena lain yang turut mempengaruhi kondisi cuaca di Indonesia adalah Sirkulasi Siklonik yang terpantau di Laut Andaman, Laut Natuna Utara, Laut Cina Selatan, Laut Sulu, Kalimantan, dan Laut Maluku yang membentuk daerah perlambatan kecepatan angin (konvergensi) memanjang di Teluk Thailand, di Laut Natuna, dari Laut Natuna hingga Laut Sulu, di Selat Malaka, dari Kalimantan Timur hingga Laut Sulawesi, dari Maluku hingga Maluku Utara, dan dari perairan utara Maluku Utara hingga Laut Seram.

Daerah konvergensi lainnya memanjang dari Jawa Timur hingga perairan utara Jawa Tengah, di perairan selatan Bali hingga Jawa Timur, dari Laut Jawa hingga Kalimantan Timur, di Laut Sulawesi, dan dari Papua pegunungan hingga Papua Barat Daya.

Kondisi tersebut mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar sirkulasi siklonik dan di sepanjang daerah konvergensi/konfluensi tersebut. Sementara itu, labilitas atmosfer lokal yang mendukung proses konvektif pada skala lokal diprediksi terjadi di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Kep.Riau, sebagian besar P.Jawa, Bali, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Maluku dan sebagian besar Kep.Papua.

Berdasarkan hasil pemantauan dinamika atmosfer terkini, BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem, seperti hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat/petir, angin kencang, serta gelombang laut tinggi di sejumlah wilayah di Indonesia.

Masyarakat diharapkan secara rutin memantau informasi prakiraan dan peringatan dini cuaca melalui kanal resmi BMKG, serta menjaga kebersihan lingkungan dan memastikan saluran drainase berfungsi dengan baik sebagai langkah antisipatif terhadap kemungkinan genangan air maupun bencana hidrometeorologi lainnya.