Pengumuman Pahlawan Nasional 2025 oleh Presiden Prabowo
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, secara resmi menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada 10 tokoh yang dianggap berjasa dalam memperjuangkan kemerdekaan dan membangun bangsa. Penghargaan ini diserahkan di Istana Negara, Jakarta, pada Senin (10/11/2025). Gelar tersebut diberikan kepada para ahli waris dari tokoh-tokoh tersebut sebagai bentuk penghormatan atas perjuangan mereka.
Daftar pahlawan nasional 2025 mencakup berbagai latar belakang, seperti mantan presiden, tokoh militer, ulama, serta tokoh buruh. Berikut adalah daftar 10 tokoh yang terpilih:
- Abdurrahman Wahid atau Gus Dur (Jawa Timur)
- Jenderal Besar TNI Soeharto (Jawa Tengah)
- Marsinah (Jawa Timur)
- Mochtar Kusumaatmadja (Jawa Barat)
- Hajjah Rahmah El Yunusiyyah (Sumatera Barat)
- Jenderal TNI (Purn) Sarwo Edhie Wibowo (Jawa Tengah)
- Sultan Muhammad Salahuddin (NTB)
- Syaikhona Muhammad Kholil (Jawa Timur)
- Tuan Rondahaim Saragih (Sumatera Utara)
- Zainal Abidin Syah (Maluku Utara)
Usulan Tokoh dari Riau Ditolak
Meskipun ada usulan dari Provinsi Riau untuk mengajukan satu nama tokoh asal daerahnya sebagai pahlawan nasional, nama Mahmud Marzuki tidak masuk dalam daftar resmi yang diumumkan. Tokoh ini berasal dari Kampar, Riau, dan telah melakukan perjuangan besar dalam masa perlawanan terhadap penjajah.
Profil Mahmud Marzuki
Mahmud Marzuki adalah seorang pejuang dari Kampar, Riau, yang dikenal sebagai tokoh yang memimpin perlawanan melawan penjajah. Ia lahir pada tahun 1911 di Kumantan, Bangkinang, dan wafat pada 5 Agustus 1946. Ia dimakamkan di depan Perguruan Mualimin, Desa Kumantan, Kecamatan Bangkinang Kota.
Dalam buku yang berjudul “Riwayat Perjuangan Mahmud Marzuki: dari Singa Podium ke Penjara Kolonial Hingga Gugur (1938-1946)”, disebutkan bahwa Mahmud Marzuki adalah seorang tokoh pejuang yang memiliki semangat belajar yang tinggi. Ia mengenyam pendidikan formal dan nonformal, termasuk di Nazmia Arabic College Lahore, India, serta Sekolah Rakyat (SR) Bangkinang.
Ia juga aktif dalam bidang pendidikan dan agama. Sebagai pemimpin Pasukan Hizbullah dan Harimau Kampar, ia menjadi ketua Komite Nasional Indonesia (KNIP) Daerah Kampar, Sumatera Tengah. Selain itu, ia juga pernah menjadi Ketua Muhammadiyah Wilayah Kampar.
Peran Mahmud Marzuki dalam Perjuangan Kemerdekaan
Mahmud Marzuki dikenal dengan julukan “Singa Podium” karena pidatonya yang ikonik saat berbicara di hadapan pasukan dan masyarakat. Salah satu pidatonya yang terkenal adalah saat di depan pasukan dan masyarakat di Lapangan Komisi Tiga Negara (KTN) Pulau Balai, Kuok. Ia berkata, “Jangan takut mati dalam berjuang, karena mati dimanapun akan sama rasanya.”
Selain itu, ia juga memberikan pidato ikonik di hadapan peserta upacara pengibaran bendera pertama setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Lapangan Kontroler Belanda atau Wedana Bangkinang pada 11 September 1945. Ia berkata, “Siapa yang coba menurunkan Bendera Merah Putih yang telah dikibarkan ini, niscaya akan melihat banjir darah di lapangan ini.”
Pembangunan Sekolah dan Keberlanjutan
Mahmud Marzuki juga sangat peduli terhadap pendidikan. Ia mendirikan banyak sekolah di berbagai daerah, seperti di Kuok, Air Tiris, Bangkinang, Salo, dan Rumbio. Total sekolah yang dibangunnya mencapai lebih dari 60 sekolah, termasuk yang didirikan oleh teman-temannya.
Perguruan Mualimin Muhammadiyah Bangkinang, yang didirikan pada tahun 1944-1945, merupakan kelanjutan dari sekolah-sekolah ibtidaiyah dan sekolah rakyat (SR). Kini, Perguruan Mualimin memiliki 40 lokal dari tingkat Ibtidaiyyah sampai Aliyyah.
Peristiwa Penting dalam Sejarah
Sejarah mencatat bahwa Mahmud Marzuki memimpin pengibaran bendera Merah Putih yang pertama di Bangkinang setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. Ia juga mengumumkan kemerdekaan di Kampar pada 9 September 1945 dan membakar semangat masyarakat untuk mempertahankannya.
Pada 11 September 1945, masyarakat mengibarkan Bendera Merah Putih di Lapangan Merdeka (dulunya dikenal sebagai Lapangan Marosse) Bangkinang. Bendera tersebut dijahit oleh istri Mahmud Marzuki, yaitu Maimunnah binti Yusuf.
Perlawanan dan Kematian
Setelah perundingan dengan pihak sekutu, Mahmud memimpin perlawanan untuk mengusir penjajah. Namun, ia akhirnya ditangkap bersama 13 temannya setelah terkepung oleh 700-an tentara Jepang di rumahnya. Ia mengalami penyiksaan yang kejam selama berminggu-minggu.
Setelah bebas, Mahmud sakit-sakitan akibat siksaan yang dialaminya. Namun, semangatnya tetap tak surut. Ia akhirnya wafat pada 5 Agustus 1946. Pemakamannya dihadiri ribuan orang dari Limo Koto, tokoh dan sahabat dari berbagai kota di Sumatera Tengah.


