Presiden Prabowo Subianto Menyampaikan Capaian Pemerintah dalam Sidang Kabinet Paripurna
Presiden Joko Widodo (Jokowi) memimpin Sidang Kabinet Paripurna, yang diselenggarakan di Istana Negara, Jakarta, Senin (20/10/2025). Dalam acara tersebut, Presiden Jokowi membeberkan sejumlah capaian kinerja pemerintahan pada satu tahun pertama. Jokowi menyampaikan program prioritas, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG). Kemudian, Jokowi juga membeberkan capaian ekonomi yang telah dilakukan pemerintahannya.
Tercatat, 90 menit Presiden Jokowi memberikan pernyataan terbuka. Setelah itu, Jokowi melakukan pertemuan tertutup di Sidang Kabinet Paripurna, pada (20/10/2025).
Berikut pidato lengkap Presiden Jokowi:
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Salam sejahtera bagi kita sekalian, salom, salve, Om swastiastu namo buddhaya salam kebajikan.
Yang saya hormati, Wakil Presiden Republik Indonesia Saudara Gibran Rakabuming Raka, para menteri koordinator yang saya hormati, para menteri, para kepala badan, Ketua Dewan Ekonomi Nasional, para Penasihat Khusus Presiden, Jaksa Agung, Kepala BIN, Kapolri, Panglima TNI serta para wakil menteri dan wakil kepala badan, seluruh anggota Kabinet Merah Putih yang saya hormati dan saya banggakan.
Selamat sore,
Tentunya, sebagai insan yang bertakwa, tidak henti-hentinya memanjatkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Maha Besar, bagi umat Islam Allah SWT yang memiliki sekalian alam, hanya kepadaNya lah kita berdoa dan hanya kepadaNya lah kita memohon pertolongan. Kita bersyukur atas segala karunia, atas kesehatan dan kebaikan yang diberikan kepada bangsa dan kepada kita sekalian dan keluarga kita, kita bersyukur kita dapat hadir melaksanakan Sidang Kabinet Paripurna pada 20 Oktober 2025, yaitu tepat 1 tahun saya dilantik, disumpah di MPR, dan karena itu saya kira saudara-saudara tepatlah kita berkumpul untuk melihat apa yang sudah kita kerjakan satu tahun ini. Tentunya saya dilantik tanggal 20, tanggal 21 saya melantik saudara-saudara, kemudian kalau tidak salah tanggal 22 para wakil, habis itu langsung kita berangkat ke Magelang untuk retreat. Saya lagi pikir-pikir setelah satu tahun juga perlu retreat lagi.
Rupanya saudara-saudara sudah nostalgia untuk tinggal di tenda.
Sebagai warga negara yang bertanggung jawab, saya ingin pertama tentunya mengucapkan terima kasih kepada saudara-saudara semua yang telah dengan tekun, kerja keras, dan disiplin, memberi dharma baktimu yang sebaik-baiknya kepada bangsa dan rakyat kita di pemerintahan yang saya pimpin.
Saya berterima kasih, yang berasal dari berbagai sumber, yang berbeda-beda, daerah yang berbeda-beda, suku dan agama berbeda-beda, dari parpol yang berbeda-beda, ada yang dari parpol yang berjuang dalam koalisi kita di pemilu pilpres, ada juga yang tidak kemudian terpanggil dan bergabung.
Bukan sadar tapi terpanggil. Nggak, ini saya ini… nggak apa-apa kan saya tidak terlalu serius, serius tapi santai, sersan.
Tapi intinya, terima kasih saya. Kalau ibarat kita tim sepak bola, saya boleh dianggap sebagai manajer atau coach, saudara adalah pemain-pemain.
Saudara-saudara ada dalam babak-babak pertama, ada yang striker, ada yang bertahan, ada yang cadangan, masih menunggu kapan diperankan secara maksimal. Walaupun saudara-saudara sudah mengambil inisiatif dan sudah bergerak masing-masing, saya terima kasih. Tapi saya paham ada yang saya gunakan pertama sebagai striker untuk merebut hasil terbaik cepat.
Saudara-saudara, kita patut bersyukur bahwa kita telah bekerja keras. Untuk itu saya juga mohon maaf terutama kepada keluargamu karena sering menyita hari istirahatmu. Sepertinya di kabinet kita tidak ada tanggal merah, dan saudara-saudara sigap, Sabtu-Minggu malam-malam, dan kadang juga saya telepon malam-malam sekali atau pagi sekali saudara langsung jawab. Saya tidak mengerti, mungkin telepon di sebelah bantal. Saya terima kasih, karena kalau saya ingat sesuatu saya harus hubungi segera, takut saya lupa.
Capaian Ekonomi yang Menggembirakan
Kita saya kira boleh berdiri di depan rakyat kita dengan rasa penuh kehormatan dan kepercayaan diri. Kita telah bekerja keras tapi telah menghasilkan hal-hal yang dirasakan oleh rakyat.
Pertama, kita telah mencapai hal-hal yang sangat positif di bidang ekonomi. Di tengah ketidakpastian dunia, di tengah perang pecah di mana-mana, hitungan terakhir tadi malam ada 110 perang saat ini, 110 konflik bersenjata di seluruh dunia. Di tengah kondisi seperti ini di mana keadaan geopolitik begitu tidak menentu, geoekonomi tak menentu, di mana mata rantai komoditas-komoditas strategis pasti terpengaruh oleh keadaan geopolitik yang tidak menentu.
Energi dan pangan sangat rawan terhadap ketidakpastian geopolitik dan geoekonomi ini. Alhamdulillah kita mampu menjaga pertumbuhan ekonomi masih tetap tinggi dibandingkan seluruh dunia, kita berada di 5%, di antara negara G20 kita salah satu yang tertinggi di kondisi sekarang.
Kita mampu menjaga inflasi di sekitar 2%, salah satu terendah di G20. Ini juga berkat hasil kerja keras kita semua. Kita punya teknik-teknik memantau dan mengendalikan inflasi, saya kira yang kurang diajarkan di fakultas ekonomi dunia, dan ini salah satu teknik mengendalikan inflasi yang dirintis pendahulu saya, Presiden Joko Widodo. Harus kita akui, mungkin pengalaman beliau sebagai wali kota sehingga dengan teliti bisa menemukan bagaimana memantau dan mengendalikan inflasi. Ini jangan dianggap remeh. Banyak negara hebat pertumbuhannya bagus tapi inflasinya sangat luar biasa. Industri nya bagus tapi inflasi sangat tinggi. Argentina saya kira yang begitu optimis 1–2 tahun lalu, kondisi sekarang juga tidak bagus dan banyak negara yang inflasinya sulit dikendalikan.
Defisit APBN dikendalikan di bawah batas 3% dari PDB, juga salah satu terendah di antara G20, mungkin terendah di dunia. IHSG telah tembus 8.000, tertinggi sepanjang sejarah republik kita. Ini juga di luar dugaan.
Ini juga saya kira akibat kerja keras para menteri di bidang ekonomi. Selalu kita ditakuti-takuti bahwa IHSG mencerminkan kepercayaan investor, kepercayaan pasar pada kita. Ternyata kita telah mencapai tingkat yang tertinggi, walaupun saya selalu ingatkan kita jangan takut dengan harga-harga saham. Yang penting fundamental ekonomi kita harus kuat. Dan fundamental ekonomi setiap bangsa yang paling asasi adalah pangan, energi, dan air.
Asal kita sadar ini, kita fokus ini, kita yakinkan kebijakan-kebijakan kita menjamin kita mampu memproduksi dan mendistribusikan pangan dengan baik dan efisien, energi juga demikian, mampu mengelola air dengan kuat.
Mata uang, harga saham bisa fluktuatif, tapi yang paling pokok kita harus jamin produksi pangan, distribusi pangan, dan energi serta pengelolaan air yang baik. Yang ketiga ini kadang-kadang kita karena diberi karunia Tuhan air yang berlimpah di sebagian besar republik kita, tapi ada sebagian yang mengalami kesulitan, tapi kita masih kurang pandai mengelola. Kadang-kadang air ini malah jadi bencana banjir dan sebagainya.
Tapi kita bersyukur di banyak bagian dunia, ketersediaan air sangat sulit. Tidak mungkin pangan kita aman kalau tidak ada air yang cukup. Jadi ini catatan PR kita ke depan, kita harus dalami masalah air ini. Saya juga minta Mendikti Saintek coba dipelajari prodi-prodi universitas kita, apakah cukup mempelajari masalah air ini. Bagaimana mencari air, bagaimana mengelola distribusi air, bagaimana mencegah banjir. Air harus jadi sumber produktivitas, jangan menjadi sumber bencana. Saya kira sudah ratusan ribuan tahun kita pasti tahu daerah-daerah rendah pasti banjir kalau musim hujan, apalagi hujan tiba-tiba begitu padat karena kondisi perubahan iklim. Karena itu harus kita antisipasi.
Kalau tidak salah bidang air ini masih sedikit yang dipelajari di fakultas kita, ini tergolong mungkin hidrologi.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG)
Kita bersyukur juga angka kemiskinan turun ke 8,47%, ini saya diberi tahu catatan oleh para pakar, ini angka terendah sepanjang sejarah RI. Kita bersyukur walaupun kita tidak boleh puas.
Tingkat pengangguran terbuka juga turun ke angka 4,76%, ini terendah sejak krisis 1998. Sekali lagi kita tidak boleh puas karena 4,76% dari 287 juta orang itu angka yang cukup besar dan bagi mereka yang butuh pekerjaan segera, ini sesuatu yang harus kita pikirkan dengan seksama. Kita paham bahwa tingkat pengangguran ini sangat meresahkan bagi mereka yang butuh pekerjaan. Kita paham, karena itu kita kerja keras. Tapi ini masalah dunia, dengan perkembangan teknologi yang pesat terjadi disrupsi dalam produksi dan industri. Ini harus kita perhitungkan.
Munculnya AI, kecerdasan buatan, ini membuat sekarang faktor riset dan penelitian lebih cepat sekali luar biasa, dan mungkin tidak terlalu membutuhkan terlalu banyak pekerja di bidang itu. Juga munculnya robotik, ini juga harus kita catat. Di Jerman, di pabrik Volkswagen yang biasa menggunakan 5.000–6.000 pekerja, sekarang hanya 30 orang, sisanya robot. Ini harus kita catat.
Juga terima kasih para menteri, para menko. Untuk pertama kali dalam sejarah republik kita sekarang punya satu sistem data tunggal sosial ekonomi nasional, DTSEN, pertama kali. Sekarang tidak ada kementerian, tidak ada lembaga yang boleh pakai data sendiri-sendiri. Satu data. Ini kita ingin meningkatkan ketepatan dalam aliran bantuan-bantuan sosial. Data keliru bisa mengakibatkan penghamburan uang, data yang keliru bisa mengakibatkan mereka yang berhak menerima bantuan jadi tidak menerima, mereka yang tidak berhak jadi menerima.
Digitalisasi dan Teknologi dalam Pemerintahan
Kita juga terus bekerja keras untuk melakukan digitalisasi dan penggunaan teknologi untuk menjalankan pemerintahan yang efisien di bidang kesehatan, pendidikan, dan kemanusiaan. Hari ini program Makan Bergizi Gratis sudah sampai pada tahap 12.508 SPPG,
ataupun unit dapur terpusat mencapai 12.508 dari target kita 32.000. Artinya, hari ini sudah 1,410 miliar porsi MBG sudah dimasak dan dibagikan sejak tanggal 6 Januari 2025. Hari ini ada 36,7 juta anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita yang menerima MBG ini.
Ini mungkin tiap hari kita beri makan enam Singapura, mungkin. Ini prestasi yang dipantau banyak negara. Yang saya tahu, Presiden Brasil memberi tahu saya mereka butuh 11 tahun untuk 40 juta, kita alhamdulillah satu tahun sudah 36 juta. Memang Kepala BGN bekerja keras pada hari ini mencapai 40 juta. Saya bilang jangan dipaksakan, ojo ngoyo, yang penting baik pelaksanaannya. 36,7 juta ini bukan tanpa kekurangan.
Ada beberapa ribu yang keracunan makan, sakit perut, tetapi kalau diambil statistik 8.000 dari 1,410 miliar masih dalam koridor error yang manusiawi. Kalau tidak salah, kekurangannya adalah atau katakanlah angka yang sakit itu mungkin sekitar 0,0007, yang berarti 99,99% berhasil.
Jadi saya kira dalam sepanjang usaha manusia, hampir tidak ada usaha manusia yang dilaksanakan dalam satu tahun dengan volume yang demikian besar yang zero error, zero defect — sangat sulit. Walaupun kita tidak boleh menerima, terus saya tekankan Kepala BGN dan jajaran untuk menghasilkan suatu prosedur tetap yang ketat, menggunakan alat-alat yang terbaik untuk kita jamin kekurangan atau penyimpangan tidak terjadi. Tetapi kita juga harus yakinkan para guru-guru yang terlibat untuk mendidik anak-anak kita kalau mau makan pakai tangan harus cuci tangan dengan sebaiknya. Berarti di sekolah harus tersedia air bersih juga dengan sabun. Tapi juga kita didik anak-anak kita, namanya anak-anak mungkin dia merasa sudah dicuci atau apa, mungkin kita harus sekarang membagikan sendok sederhana, tidak apa-apa. Saya kira sendok itu tidak terlalu mahal.
Walaupun saya tahu kebiasaan rakyat kita makan lebih enak pakai tangan, tapi kita sebagai pemimpin tidak boleh malas mengingatkan.
Inovasi dalam Pendidikan
Selain itu, 43 juta orang sudah menggunakan program cek kesehatan gratis. Ini saya kira program pertama kali dalam sejarah republik kita: setiap warga negara berhak cek kesehatan gratis sekali dalam setahun pada hari ulang tahunnya. Dan ini mampu mencegah sejak dini, supaya nanti biaya pengobatan lebih ringan karena kekurangan penyakit rakyat kita dapat diketahui lebih awal. Walaupun ini juga membuat suatu PR besar bagi kita, karena ternyata hasil cek kesehatan gratis ini sebagian besar rakyat kita punya masalah di gigi, di penyakit gigi.
Artinya bahwa sekarang kita harus menghasilkan dokter gigi yang cukup banyak, padahal kita tahu dokter umum saja masih kekurangan. Kekurangan kita sangat besar. Kalau tidak salah, kekurangan kita di atas 140 ribu dokter. Kita juga kekurangan ribuan dokter spesialis. Tidak hanya kita — hampir semua negara yang saya kunjungi, saya minta pendapat, hampir semua menganggap mereka kekurangan dokter. Dan tentunya negara yang kaya bisa mengambil dokter dari negara-negara yang kurang kaya. Lulusan dari mana-mana tergiur, karena Inggris kekurangan dokter banyak, dia ambil dokter dari mana-mana; Jerman, Eropa Barat, Amerika, dokter dan perawat dari mana-mana. Mereka mampu membayar sangat tinggi. Ini jadi masalah bagi kita.
Artinya kebijakan pendidikan kita harus disesuaikan. Artinya, kita harus menambah fakultas kedokteran, dan yang ada ditambah jumlah mahasiswanya. Jika perlu, kita tambah beasiswa atau mungkin LPDP diprioritaskan, antara lain paling atas untuk bidang kedokteran.
Kita juga sudah berhasil, dari 500 Sekolah Rakyat yang kita perjuangkan sudah berdiri 166 Sekolah Rakyat yang beroperasi. Ini luar biasa. Saya terima kasih kepada para menteri yang terkait. Saya berharap 100 itu di pertengahan tahun 2026, ternyata saudara-saudara sudah beroperasi justru di 2025. Sekarang ada 15.945 siswa dan siswi dari keluarga paling bawah di bidang ekonomi, desil 1 dan 2, yang tadinya banyak tidak sekolah sama sekali, ada yang bantu jadi pemulung, hidup di jalan, sekarang bisa sekolah di Sekolah Rakyat.
Sekolah itu dirancang untuk memotong rantai kemiskinan. Biasanya anak orang miskin, anaknya miskin. Kita mau potong itu. Anak orang miskin, cucu orang miskin, tidak perlu untuk miskin. Kita harus berani mengubah, kita harus memotong rantai kemiskinan. Kita tidak boleh menyerah kepada keadaan, dan orang yang paling bawah ini paling tidak dilihat. Kelompok elit tidak melihat apalagi merasakan kesulitan mereka. Mereka bisa digolongkan the invisible people. Kita berharap kalau kita tidak melihat penderitaan mereka, mereka tidak menderita. Padahal keliru — justru karena kita tidak melihat, kita tidak merasakan.
Investasi untuk Pendidikan dan Lapangan Kerja
Apakah ini cukup usaha? Pasti tidak cukup. Tapi minimal kita berusaha, berupaya. Kalau tidak bisa membantu banyak orang, kita bantu beberapa orang. Kalau tidak bisa, kita bantu satu orang. Kalau satu pun tidak bisa dibantu, jangan kita bikin sulit orang itu. Ini pendekatan sederhana: we must do what we can do, and we can do if we want to.
Insya Allah, saya percaya dengan berdirinya 500 sekolah ini, kita akan membantu 500 ribu keluarga miskin, keluarga sangat miskin. Karena konsep Sekolah Rakyat ini adalah satu sekolah untuk 1.000 siswa: SD, SMP, SMA, dan SMK.
LPDP akan saya tambahkan. Uang-uang dari sisa efisiensi, penghematan, uang-uang dari koruptor itu sebagian besar kita investasikan di LPDP. Mungkin yang Rp13 triliun disumbangkan, diambil oleh Jaksa Agung hari ini ke Menkeu. Mungkin Menkeu bisa menaruh sebagian di LPDP untuk masa depan.
Salah satu program dan upaya kita untuk memperkuat pendidikan, tahun ini kita akan memberi interactive panel, interactive flat panel, seperti layar digital 75 inci di tiap sekolah — SD, SMP, SMA — yang sudah kita adakan sekarang. Kalau tidak salah, sudah dibagikan ke mendekati 50 ribu sekolah, ya Mendikdasmen. Kemudian nanti totalnya tahun ini 288 ribu flat panel. Di situ ada komputer, yang bisa memuat ratusan ribu bahkan jutaan konten, ya Mendikdasmen, cukup banyak konten di situ. Jadi semua silabus kita ada di situ, sehingga sekolah-sekolah terluar, terpencil, dan yang tidak punya akses guru yang baik, umpamanya Bahasa Inggris, Mandarin, Matematika — ini pelajaran yang susah — bisa dibantu dengan ini.
Dan ini kalau sudah selesai dan mau kembali, bisa kembali anytime. Kalau tidak puas, gurunya bisa kumpul siapa yang kurang mengerti, nanti kita kembalikan dan tambahkan pelajaran. Guru-guru itu bisa dibantu, dan di tempat terpusat di Jakarta nanti saya mau cek ke Dikdasmen, kita mau bikin studio. Nanti guru-guru terbaik akan mengajar dan pelajaran mereka bisa diterima di seluruh pelosok Indonesia. Jadi tiap sekolah akan dapat akses ke guru yang paling baik di bidang-bidang sulit. Yang sangat sulit adalah di gunung-gunung dan pulau terpencil. Saya yakin di pinggir Jakarta ini masih ada sekolah yang tidak punya guru yang menguasai pelajaran sulit. Sekarang di studio terpusat bisa mengajar dan diterima oleh 330 ribu sekolah.
Yang sulit itu akses internet atau wifi, tapi ada teknologi murah yang bisa kita pasang di tiap sekolah — tidak terlalu mahal. Starlink mungkin masih agak mahal untuk bayar tiap bulan, tapi ada teknologi lain yang murah. Tahun depan rencananya kita akan tambah tiga layar. Tahun ini kita mampu satu layar, tahun depan kita bagi tiga layar. Jadi tiap sekolah ada empat ruangan yang punya layar ini. Mudah-mudahan tahun 2027 bisa tambah dua lagi, jadi enam kelas tiap sekolah punya layar.
Saya dapat laporan dari Mendikdasmen bahwa antusiasme sekarang meningkat untuk sekolah. Selain MBG, pelajaran juga menjadi lebih menarik. Ini saya kira penting, karena fokus kita tidak boleh lepas — kita harus fokus pada investasi bagi rakyat kita, investasi pada anak-anak kita, SDM kita. Saya juga perhatikan waktu berkeliling, anak-anak kita karena kurang biaya menghemat kertas, mereka menulis tulisan sangat kecil. Saya minta ditinjau lagi, saya kira perlu kembali ada pelajaran menulis — menulis dengan baik, menulis halus — tapi sebenarnya tulisannya harus besar. Menkeu, kalau perlu kita bagikan buku-buku sekolah yang besar-besar. Anak-anak harus dididik menulis dengan tulisan besar. Saya khawatir kalau tulisannya sangat kecil, ujungnya nanti semua pakai kacamata. Ini masalah kecil tapi mendasar.
Dan saya tergerak karena saya tahu anak ini tidak mau memberatkan orang tuanya, jadi menghemat kertas. Bisa dibayangkan.
Pembangunan Sekolah Terintegrasi
Terakhir, ini masih dalam konsep dan rencana. Sekarang ada Sekolah Rakyat untuk desil 1–2. Bagaimana dengan desil 3, 4, 5? Mereka tidak miskin ekstrem, tapi mereka juga harus dapat akses pendidikan. Ini saya susun, saya minta Dikti Dasmen mungkin dibantu kementerian lain membuat satgas khusus mempelajari dan membangun sekolah terintegrasi di setiap kecamatan.
Berarti harus membangun mungkin 7.000 sekolah terintegrasi. Maksudnya, sekarang SD, SMP, SMA, SMK terpisah, padahal ada fenomena karena mungkin angka kelahiran kita menurun, banyak SD kita kosong. Ada guru enam orang, murid hanya empat–lima. Jadi ini tidak efisien. Mungkin kita konsolidasikan, tapi di kecamatan ada salah satu sekolah yang fasilitasnya sangat baik.
Tiap sekolah terintegrasi harus punya laboratorium yang bagus — lab matematika, kimia, biologi, lab bahasa. Bahasa sangat penting. Lapangan kerja orang Filipina banyak diterima di mana-mana karena mereka bisa bahasa Inggris. Kita diminta jutaan tenaga kerja di Eropa, minta pekerja hotel, kafe, restoran — mereka minta satu juta tiap tahun. Kepala-kepala pemerintahan Eropa bertanya ke saya, “Can you send?” Hotel-hotel sekarang tidak ada yang bekerja, restoran kewalahan, rakyat mereka tidak mau bekerja sebagai pelayan. Dan mereka terkesan orang Indonesia ramah-ramah. Berarti kita harus didik mereka agar bisa bahasa Inggris, mungkin juga bahasa-bahasa Eropa, bahasa Mandarin, bahasa Jepang, Korea. Kita juga diminta perawat untuk rumah sakit dan caregiver, di sana tidak ada yang mau jadi perawat atau caregiver.
Karena caregiver dan perawat itu berat secara fisik — berdiri dari tempat tidur ke tempat tidur, berurusan dengan orang sakit. Berbahaya, di rumah sakit pusat banyak bakteri dan virus, mereka harus berani, harus memandikan pasien. Ini pekerjaan yang membutuhkan rakyat kita yang terkenal tabah, sopan, dan ramah. Jadi ini harus kita siapkan, karena kita sadar lapangan kerja seperti ini yang kita butuhkan.
Jadi sekolah terintegrasi ini belum boleh saya gunakan sebagai prestasi — ini baru embrio konsep. Tapi sekolah-sekolah seperti ini sudah saatnya kita pikirkan. Fasilitas Sekolah Rakyat dikurangi berasrama karena anak-anak yang paling bawah kita taruh di asrama supaya keluar dari lingkungan kemiskinan, sehingga mereka punya kepercayaan diri. Mungkin hanya bertemu orang tuanya di akhir pekan, tidak apa-apa, tapi dia keluar sementara 5–6 hari dari lingkungan kemiskinan.
Tapi sekolah terintegrasi ini pulang-pergi, tidak berasrama. Artinya kita harus berani siapkan bus antar jemput untuk anak sekolah itu. Ini jalan keluar. Ini Dikdasmen dibantu Sains dalami ini, susun, dan kita mulai bekerja. Mungkin 2026 sudah ada sebagian sekolah-sekolah terintegrasi ini. Sekolah Rakyat untuk yang paling bawah, sekolah terintegrasi untuk yang menengah, sekolah unggulan untuk yang terpintar. Belum tentu yang terpintar dari kelas atas — dari manapun akan kita cari.
Tunjangan guru kita tingkatkan dan dikirim langsung dari pusat, dan penerimaannya tidak melalui jalur lain yang biasa tertahan beberapa hari atau minggu.
Juga kita teruskan, 1.044.174 mahasiswa mendapatkan beasiswa KIP Kuliah. Dan kita berterima kasih, ucapkan selamat, untuk pertama kalinya UI tembus top 200 QS Ranking Universitas — top 200. Tapi Menteri Dikti Sains, Wamen saya minta top 100. Bisa? Bisa!
Pasti nanti akan disusul oleh ITB, UGM, ITS, dan sebagainya.
Juga kita mendirikan Kementerian Haji atas permintaan pemerintah Arab Saudi, karena mereka bilang, “Kami urusan haji sama Menteri Haji,” jadi minta urusannya sama pejabat setingkat menteri. Ini kepala badan, bukan menteri. Apa boleh buat, kita menyesuaikan, dan alhamdulillah kita bisa turunkan biaya haji.
Dan saya minta terus Menteri Haji — dia tidak hadir karena berada di Arab Saudi berurusan dengan mereka — saya minta biaya haji terus turun, bisa dengan efisiensi dan pelaksanaan yang bersih.
Waktu tunggu haji juga bisa dipercepat. Dari tunggu 40 tahun, sekarang hampir setengah, kita potong jadi 26 tahun. Tapi itu masih lama juga, kita berusaha untuk memotong lebih jauh lagi. Pemerintah Arab Saudi, untuk pertama kali dalam sejarah, membangun Kampung Indonesia di Kota Mekkah. Jadi pemerintah Arab Saudi akhirnya saya datangi beberapa kali, saya lobi terus. Mungkin beliau kasihan sama kita. Pertama kali dalam sejarah, negara asing diizinkan memiliki lahan, memiliki tanah di kota suci. Diubah UUnya khusus untuk kita. Kita negara pertama, ya, sesudah kita terserah yang lain menyusul. Tapi ini luar biasa. Kita ditawari, kalau tidak salah, ada beberapa puluh lahan. Mudah-mudahan kita dapat lahan, kalau tidak salah ada beberapa lahan tidak terlalu jauh dari Masjidil Haram, ada yang nyambung langsung. Mudah-mudahan Menteri Agama sudah merintis. Nanti saya serahkan saja, Kepala Danantara juga merintis, beliau bolak-balik ke situ sampai kepalanya botak.
Tapi alhamdulillah, prestasi. Mudah-mudahan tidak berapa lama lagi kita punya Kampung Haji sendiri. Berarti nanti fasilitas kita atur sendiri, makan semua kita atur supaya tidak ada lagi kekurangan atau penyimpangan dan kekecewaan dari jamaah haji kita. Ini terobosan luar biasa — pertama dalam sejarah, mereka ubah UU, negara asing punya tanah, dan dia tawarkan lahan terbaik. Walaupun tender terbuka, kalau tidak salah tender ditutup 30 Oktober ini, jadi kita kerja keras. Tapi saudara-saudara, saya lobi terus. Waktu kemarin saya ketemu Menteri Luar Negerinya, saya bilang, “Pak, ini ada lelang ditutup 30 Oktober, tapi yang daftar lelang berapa ribu ya? 90 entitas lain juga ikut bidding lahan yang kita inginkan.” Mudah-mudahanlah, Menteri Agama pimpin doa khusus nanti, mudah-mudahan kita dapat lahan yang kita inginkan. Ini prestasi kita di bidang kesra, pendidikan, termasuk agama.
Investasi dan Penciptaan Lapangan Kerja
Saya lanjut ke investasi penciptaan lapangan kerja dan Danantara. Untuk pertama kali dalam sejarah, pengemudi ojek online menerima bonus hari raya. Dan kita diskusi terus dengan perusahaan besar ojol untuk mencari pelayanan terbaik bagi pengemudi, dengan efisiensi dan tanpa persaingan yang saling merugikan. Kita ingin lapangan kerja ojol ini terjamin. Kalau tidak salah, ada 4 juta pengemudi ojol di dua perusahaan besar itu dan sekitar 2 juta pengusaha yang menggunakan ojol sebagai sarana jual-beli UMKM. Jadi 6 juta orang hidup dari ini.
UMP kita naikkan sampai 6,5%, tertinggi dari beberapa tahun sebelumnya. Kita juga hitung sudah menghasilkan hampir 1 juta lapangan kerja baru di SPPG, dan mungkin tahun depan mencapai minimal 1,5 juta yang bekerja langsung untuk SPPG. Kita punya 30 ribu SPPG nantinya. Kalau berfungsi semua, tiap dapur ada 50 orang kerja, jadi 50 kali 30 ribu, jadi 1,5 juta. Tiap dapur sekarang rata-rata menerima supplier yang menjual telur, sayur, dan macam-macam itu rata-rata 15 per dapur. Masing-masing supplier mempekerjakan 5–10 orang, jadi kita bayangkan multiplier effect dari ini.
Saya kedatangan rombongan dari Rockefeller Institute. Mereka meninjau MBG kita, mempelajari, dan mereka sampaikan bahwa kita ini sedang disorot dunia. Program kita, kata mereka, adalah program terbesar roll-out-nya dan paling cepat. Mereka sudah meninjau beberapa negara dan mengatakan ada 112 negara yang ikut program atau melaksanakan program ini. Waktu kita mulai, kita berada di urutan ke-78 atau 79. Sekarang sudah tambah lagi sekian puluh negara yang merasakan pentingnya MBG ini.
Dan mereka katakan, setiap 1 dolar yang dikucurkan untuk MBG, return-nya atau dampaknya — menurut hitungan mereka — antara 5 dolar sampai nanti di ujungnya 37 dolar. Anda bisa bayangkan, 5 kali lipat minimal dampak ekonominya. Jadi kalau tahun depan kita akan turunkan Rp330 triliun untuk MBG ini, yang artinya itu sekitar 20 miliar dolar, kalau 5 kali berarti ada 100 miliar dolar beredar di desa, kecamatan, dan kabupaten. Jadi untuk pertama kali dalam sejarah Indonesia, uang yang selama ini tersedot dari daerah ke pusat, banyak dari pusat ke luar negeri, sekarang kita balikkan. Kita gelontorkan di desa-desa, kecamatan, dan kabupaten. Dan ini menurut ahli, bukan dari saya — Rockefeller Institute, kalau tidak salah SVP-nya Pak Roy Cohen atau Steiner. Maaf kalau saya lupa, maklum baru menginjak usia 74 tahun. Terima kasih, ucapan selamat saudara-saudara.
Juga pelaksanaan MBG kita menggunakan mitra 18.895 koperasi dan BUMDes sebagai bagian dari ekosistem MBG. Juga sesuatu yang menggembirakan, realisasi investasi kita Januari


