Petualangan Rasa di Negeri India — oleh Hanna Rambe

Posted on

Pengalaman Belajar di Inggris

Hanna Rambe, seorang jurnalis yang pernah menghabiskan tiga bulan belajar di Inggris, berbagi kisah petualangannya sebagai koki dadakan, mencoba kuliner India, dan bertemu dengan Sahabat Pena. Cerita ini diceritakan dalam Majalah PasarModern.com edisi Juni 1975.

Kehidupan di London

Saat tiba di London, Hanna tinggal di sebuah hotel yang baik mutunya. Di sana ada restoran Italia dengan harga sedang, dan rekening makannya menjadi tanggungan organisasi yang mengundang. Meski awalnya tidak membayangkan lapar, keadaan berubah ketika ia harus menghadapi makanan yang tidak sesuai harapan.

Selama tiga bulan yang dingin (Januari hingga awal April), Hanna dan 12 orang rekan wartawan dari negara-negara berkembang mengikuti kursus di Cardiff. Mereka tinggal di asrama mahasiswa yang mewah. Namun, penginapan mereka terletak di dusun Penarth dekat pantai, jauhnya naik bis 20 menit ke Cardiff.

Pertemuan Awal di Asrama

Di hari pertama, mereka disambut dengan upacara resmi di antara para pengurus asrama dan penghuni lainnya. Lalu dihidangkan teh Inggris beserta kue kering. Setelah upacara, mereka duduk mengobrol untuk mempererat persahabatan.

Namun, setelah lama tidak ada panggilan makan, Hanna mulai merasa lapar dan menggigil. Ia berbisik pada teman-teman lain agar bertanya soal makanan. Setelah tanya sana sini, akhirnya mereka bertanya kepada Pak Asrama. Jawabannya membuat Hanna merasa lemas.

Kehabisan Makanan

Pak Asrama bergegas ke dapur menghampiri istrinya yang mengurus makanan. Sayangnya, saat mereka tiba di muka pintu, sang istri mengunci pintu kamar makan. Makanan sudah habis, bahkan kamarnya telah selesai dibersihkan!

Ini sebenarnya kesalahan pimpinan rombongan. Dia masih bujangan, dan konon biasa puasa untuk melangsingkan tubuhnya. Mungkin karena itu dia tak ingat masih ada 13 manusia asuhannya yang harus diberi makan malam. Ketika kejadian ini, dia sudah naik bis kembali ke London.

Mencari Makan di Luar

Mereka mencari makan ke luar. Hari itu hari Minggu. Tak ada lagi tempat makan yang buka di dusun mungil itu. Apalagi karena angin kencang yang sangat dingin, orang menutup pintu lebih awal dari biasanya.

Akhirnya mereka singgah di sebuah “pub” (warung minum). Sayang di situ hanya ada minuman keras. Roti dan sebangsanya sudah habis. Untuk menghargai kawan-kawan, Hanna ikut minum sekedarnya.

Makan di Rumah Nyonya

Pulangnya, tetap lapar. Untunglah ada seorang Nyonya yang tinggal di asrama dengan putrinya berumur 9 tahun. Dia sedang kuliah tentang mengurus anak cacat. Di kamarnya ada kaleng-kaleng persediaan. Dia mengundang kami semua ke kamarnya yang sangat sempit. Dengan cekatan dia membuka kaleng makanan, memasaknya di dapur 5 menit. Dan kami pun melahap apa saja yang terhidang, sekalipun rasanya jauh dari pada lezat.

Makanan yang Membosankan

Makan pagi terdiri dari roti panggang dengan telur goreng atau bacon (semacam ham). Siapa yang suka, boleh makan bubur. Susu merupakan minuman wajib. Begini saja sepanjang tiga bulan rasanya memualkan.

Makan siang di kantin sekolah di Cardiff. Makanan kantin yang dipersiapkan dari kaleng, kardus, peti es, dalam keadaan tergesa-gesa pula, rasanya hambar. Makan malam di asrama, jam 18.00 sampai 18.30. Hidangannya pun tak berbeda dari di kantin. Hari Senin anu, hari Selasa begini, Rabu seperti itu, dan begitu seterusnya mungkin sampai semua mahasiswa tamat belajar.

Makan di Luar dan Masak Sendiri

Seminggu pertama, Hanna masih gagah. Kalau makanannya keterlaluan tak menarik selera, ia makan di luar. Tapi ini tak dapat dipertahankan lama-lama, berhubung keadaan dompet yang sangat gawat.

Menulis surat ke rumah, dikirimi setengah kilo abon dengan tambahan ejekan:
“Tadinya kamu sok aksi. Disuruh bawa sekedar bekal seperti sambal, rendang, dan sebangsanya, berkata tak usah. Sekarang rasakan”.

Berbelanja dan Masak Sendiri

Pada suatu hari Sabtu, Hanna ikut nyonya temanku yang baik hati tadi pergi berbelanja ke kota. Di sana ibu-ibu atau penanggung jawab dapur berbelanja keperluan selama seminggu pada hari Sabtu pagi. Lalu disimpan di peti es. Tiap hari dimasak berdikit-dikit.

Dia memperlihatkan pula padaku toko tempat beli beras, cabai, bumbu-bumbu India dan Tionghoa. Hanna mencatat harga-harga. Wanita ini sudah lama memasak sendiri di asrama, karena anaknya tidak bisa menyesuaikan diri dengan jadwal makan yang mengikat. Kalau terlambat, makanannya habis. Dia pun memperlihatkan dapur asrama di tingkat lima, peti es tempat menyimpan bahan makanan milik mahasiswa, alat-alat masak dan cara membersihkannya.

Menjadi Koki Dadakan

Mulailah timbul niatan untuk masak sendiri. Biayanya pasti jauh lebih besar daripada makan makanan ala Inggris. Bayangkan cabai, bawang putih, kayu manis, dan sebangsanya di sana sangat mahal.

Sebetulnya Hanna hanya pandai makan, dan awam soal masak. Kecuali masak air dan menggoreng telur. Masak nasi, nol besar. Kalau tidak hangus, pasti mentah.

Sabtu berikutnya Hanna ikut berbelanja. Wortel, tomat, kembang kol, dan jamur serta bawang besar ia tumis dengan bawang putih dan jahe. Untuk penyedap rasa, ia beri kaldu ayam sedikit. Jumlahnya sengaja kubuat sangat banyak, sebab punya pikiran akan menjamu rekan-rekan sekelas. Nasi tak termasuk hitungan, sebab ia tak pandai menanaknya. Gantinya ia merebus sejumlah besar spaghetti. Untuk lauk, ia beli beberapa potong ayam dan digoreng dengan mentega. Dagingnya bisa empuk sekalipun rasanya tidak seperti ayam kampung.

Delapan orang teman sekolahnya yang terdekat ia undang makan ke dapur. Kami tak punya ruangan. Mau makan di ruang makan yang rapi di lantai bawah, merasa tak enak pada pengawas asrama. Kami pesta pora bersembilan di dapur. Hidangannya semuanya bersih, sampai perabot masak rasanya tak perlu dicuci lagi.

Masak Sendiri dan Uang Saku Tambahan

Selama hampir tiga bulan Hanna jadi koki “internasional” dengan pengetahuan memasak yang sangat minim, para langgananku tak pernah mengeluh. Sekilas timbul pikiran, sekiranya dari dulu ia memilih karier masak dan belajar masak seperti untuk hotel, mungkin sekarang kantongnya sudah padat. Namun pekerjaan keluyuran sebagai kuli tinta tak kurang pula mengasyikkannya, meskipun kantong sukar menjadi penuh.

Makanan yang Menggemparkan

Kolak yang menggemparkan seluruh asrama. Saat Hanna mau masak kolak ubi, beberapa kawan penggemar masak berlagak bodoh. Pada suatu petang, ia mau masak kolak ubi. Teman-teman sudah kujanjikan jajan enak di sore yang dingin itu. Setelah segalanya siap, ia menyalakan kompor listrik. Sekali ini kurasa ada yang salah pada api, karena sudah lama santan tak kunjung mendidih. Tiba-tiba ada asap mengepul dari oven di bawah panci. Waktu ia buka, api berkobar-kobar menjilat dari dalam oven. Apa ini, pikirnya ketakutan. Sejenak ia terdiam tak bernapas, tak tahu apa yang harus dilakukan. Hampir setiap hari di surat kabar setempat mereka membaca berita kebakaran dan orang mati lemas terperangkap asap di gedung yang tinggi-tinggi. Untung tiba-tiba ia tergerak untuk mematikan aliran listrik di tombol pada dinding. Sekalipun demikian, kobaran api tak segera padam. Rupanya alat pemberitahu kebakaran di dinding yang sangat peka terhadap asap segera memberi tanda. Orangpun ramai berlarian mencari di mana api. Beberapa di antaranya masuk ke dapur dan menemui ia yang pucat pasi, tegak seperti patung.

Jamuan Khusus

Beberapa hari menjelang akhir kursus, Hanna banyak dijamu orang. Beberapa orang pengurus asrama yang tinggal berdekatan di dusun Penarth mengundang minum teh atau makan malam. Makanannya ya khas Inggris, hampir seperti di asrama dan kantin, hanya rasanya sedikit lebih sedap. Mungkin karena dipersiapkan seksama, tidak tergesa-gesa seperti di warung.

Kembali ke Indonesia

Setelah kursus bubar, Hanna tinggal di rumah sastrawan Sori Siregar di London selama seminggu. Isterinya, Yus, sangat pandai memasak masakan rumah tangga. Sehari-hari ia melepaskan rindu pada sayur tauco dengan tauge, gulai buncis, bahkan juga goreng ikan teri kering.

Yus kerap berbelanja di sebuah toko serba ada milik orang Tionghoa di sana. Segala keperluan masak untuk dapur Indonesia ada di sana, kecuali lengkuas, kencur, salam dan sereh segar.

Rindu Sayur Asam

Makanan di warung “vegetarian” (orang yang tak makan daging) rasanya sangat ganjil bagi lidahnya. Di lidah asam tak keruan. Namun sebagai tamu yang baik, ia harus menghargai tuan dan nyonya rumahnya. Kawan mereka banyak yang tak makan daging, dan kerap mengajaknya makan.

Esok paginya, jam 4 pagi ia sudah bergegas ke lapangan terbang untuk pulang. Ia hanya minum teh. Di kapal udara pun ia hanya minum sesuatu yang hangat dan makan kue. Hidangan pesawat sedikitpun tak kujamah, karena kehilangan selera.

Setiba kembali di rumah, ibunya sedang bepergian. Pelayan yang datang menyambut dan bertanya sekedarnya, dipotong saja dengan pertanyaan:
“Ada sayur asam?”
“Ada, non”.
“Ada ikan asin dan sambal?”
“Ada”.
“Saya mau makan yang banyaaaaak, tolong disiapkan”.
Seisi rumah tertawa gemuruh melihat anak rantau yang minta sayur asam dan ikan asin terburu-buru. Sekalipun telah mengecap berbagai hidangan asing yang lezat dan penuh kenangan, dan telah pula memeras otak dan tenaga menjadi koki di negeri orang, yang paling kurindukan saat itu hanyalah hidangan sederhana itu.