Pesan Arjuna Sebelum Tewas: Pamit Cari Uang, Abang Ikut Kapal

Posted on

Kehilangan yang Mendalam

Cahaya Amonta, adik dari Arjuna Tamara, mengungkapkan pesan terakhir sang kakak sebelum meninggal dunia akibat dikeroyok di Masjid Agung Sibolga. Kejadian tragis ini memicu duka mendalam bagi keluarga dan kerabatnya. Arjuna, yang sebelumnya berpamitan hendak melaut selama tiga bulan untuk mencari uang, juga berjanji akan pulang pada bulan Januari.

Kini, Cahaya sedang menempuh pendidikan di Jurusan Teknik Komputer, Universitas Syiah Kuala (USK). Ia mengaku hatinya benar-benar hancur ketika mendengar kabar duka bahwa sang kakak meninggal dunia dengan cara begitu kejam dan tidak manusiawi. Padahal, menurut Cahaya, Arjuna tidak sedang melakukan kesalahan apa pun, melainkan hanya menumpang beristirahat di masjid untuk melepas lelah setelah bekerja.

Kenangan tentang Arjuna

Cahaya mengenang kembali perjalanan hidup Arjuna sebelum peristiwa tragis itu menimpa. Ia menceritakan bagaimana sang abang merantau ke luar kota dengan tekad kuat untuk beribadah dan mencari rezeki halal demi membantu ekonomi keluarga di kampung halaman. Meski hidup penuh tantangan, Arjuna selalu menanamkan nilai-nilai kejujuran dan kerja keras kepada adik-adiknya.

“Abang saya pribadi yang baik dan tangguh. Kadang menjengkelkan karena suka gangguin adik-adiknya. Tapi ia royal kalau punya uang. Sering kirim uang jajan untuk saya, ajak jalan-jalan. Banyak yang bilang ia baik sering bantu orang sekitar,” kata Cahaya.

Bagi Cahaya, pesan terakhir Arjuna menjadi warisan moral terindah dari seorang kakak yang semasa hidupnya tak pernah berhenti berjuang, bahkan hingga detik terakhirnya.

Pamit ke Adik

Sebelum tewas dikeroyok, Arjuna sempat pamit ke sang adik lewat handphone. “Pada Rabu (29/10/2025), abang pamit ke saya lewat telepon. Saya saat itu sedang di perpustakaan,” kata Cahaya.

“Dek, abang berangkat ya selama tiga bulan ikut kapal viser.” Saya jawab, “Hati-hati ya bang, baik-baik di sana,” sambungnya. Dikatakan Cahaya, sang kakak sempat bilang agar saya menjaga diri di Banda Aceh.

“Saya tanya kapan pulang, katanya mungkin sebelum puasa, sekitar bulan Januari. Itu terakhir kami teleponan,” jelasnya. Menurut Cahaya, sang kakak biasa memilih ngekos di Sibolga, namun saat itu Arjuna memilih tidur di Masjid.

Kronologi Kejadian

Sebelumnya, Kasat Reskrim Polres Sibolga AKP Rustam Silaban menjelaskan bahwa korban adalah seorang musafir yang hendak beristirahat di masjid. Namun, seorang pelaku berinisial ZP alias A (57) melarang korban tidur di sana. Arjuna tetap ingin beristirahat sehingga memicu kemarahan ZP yang kemudian memanggil empat kawannya, termasuk HB alias K (46) dan SS alias J (40).

Peristiwa bermula saat korban Arjuna Tamaraya hendak beristirahat di area Masjid Agung Sibolga untuk menunggu waktu subuh tiba. Tiba-tiba seorang pelaku berinisial ZP Alias A (57), melarang korban untuk tidur di area dalam masjid. Beberapa saat kemudian, ZP melihat korban tetap beristirahat di dalam masjid. Merasa tersinggung, ZP lantas memanggil empat temannya, termasuk pelaku berinisial HB Alias K (46) dan SS Alias J (40).

Para pelaku lantas memukul dan menyeret tubuh korban keluar. Dalam keadaan tak berdaya, kepala korban terbentur di anak tangga masjid. Keberingasan para pelaku tak berhenti di sana. Tubuh korban pun diinjak dan dilempar menggunakan buah kelapa.

Tukang Sate Provokator

Pengeroyokan itu rupanya dipicu oleh fitnahan seorang tukang sate yang menuduh Arjuna Tamaraya mencuri kotak infak di masjid. Jefri merupakan penjual sate di belakang masjid agung. Adapun kelima tersangka pengeroyokan yakni Chandra Lubis alis CL (38), Rismansyah Efendi Caniago alias REC (30), Zulham Piliang alias ZP (57), Hasan Basri alias HB (46) alias Kompil, dan Syazwan Situmorang alias SS (40) sudah ditangkap pihak kepolisian.

Hal tersebut diketahui dari pengakuan saksi mata berinisial MZ yang diwawacarai Tribunmedan.com, selasa (4/11/2025). MZ merupakan warga sekitar lokasi kejadian. Ia tak mau identitasnya terungkap karena alasan kenal dengan para pelaku. Bermula dari Kompil, satu dari lima pelaku dini hari itu mengaku mendengar Arjuna teriak di Masjid Agung Sibolga.

“Jadi ceritanya si Kompil inilah yang pertama kali melihat korban di dalam masjid. Dia dengar teriakan dan ternyata itu dari korban,” ucap MZ. Setelah mendengar teriakan itu, Kompil kemudian memanggil rekannya Jefri alias Cokme. Jefri merupakan penjual sate di belakang masjid agung.

Dari mulut Cokme si penjual sate. Ia memanggil keponakannya bernama Juan, dan dua pelaku lainnya, Risman dan Iccan. “Jefri alias Cokme masuk ke masjid. Dia kemudian pergi untuk memanggil tiga pelaku lainnya,” katanya. Mereka langsung menghajar hingga menyeret korban. Padahal sebelumnya, Arjuna hanya lah seorang musafir yang hendak istirahat di masjid. Arjuna bahkan sempat diberikan makan nasi goreng oleh sang penjual untuk mengisi perut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *