Perjalanan Inspiratif Anggi Wahyuda:
Ringkasan Berita:
- Dari Keterbatasan Menjadi Inspirasi
- Awal Perjalanan dan Tantangan
- Bangkit dari Bullying dan Depresi
- Prestasi dan Rekor yang Membanggakan
- Hobi Mendaki Gunung dan Bukti Ketangguhan
PasarModern.com – Tongkat kruk aluminium terkempit ketiak, menopang tubuh pemuda itu. Tap, terdengar bunyi saat ujung kruk mengenai ubin, lalu ia mengayunkan tubuh ke depan. Tap, ayun, tap, ayun, menaiki anak tangga. Tap, ayun, tap, dan ayun lagi melangkah lalu tiba di atas panggung. Kaki kiri melangkah, silih berganti dengan tongkat. Kaki kanan diganti dua tongkat kruk menyokong badan gempalnya, tubuh berdiri rileks di atas panggung yang disaksikan sekitar 200 pasang mata.
Tangan kanan memegangi corong mikrofon, sementara tangan kiri bergerak mengikuti nada bicara lantang. Ia mengenakan kemeja lengan pendek dominan warna cokelat corak garis vertikal putih.
Jam analog warna hitam melingkar di pergelangan tangan kiri berimpit dengan gelang bahan rotan. Kaki kiri mengenakan celana panjang hitam, dan sepatu. Kaki kanan hanya sampai pertengahan paha, antara lutut dan pangkal paha.
Dia adalah Anggi Wahyuda, penyandang disabilitas yang aktif mendaki gunung, komika (stand-up comedy), dan kreator konten yang menginspirasi banyak orang.
Awal Perjalanan dan Tantangan
“Selamat pagi bapak, dan ibu. Saya berdiri di sini untuk stand-up (comedy), bukan untuk ngemis. Tapi kalau ada yang memberi, tidak menolak,” ujar Anggi memulai lelucon setelah menyampaikan salam.
Anggi diundang sebagai komika pada acara Genting (Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting) Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Dukbangga)/Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) di Jakarta Selatan, Rabu (10/12/2025) pagi. Acara ini dihadiri sekitar 200 orang termasuk Menteri Dukbangga/Kepala BKKBN Wihaji, sejumlah pengusaha nasional, kepala daerah, dan rektor perguruan tinggi.
Berdasarkan amatan Tribun, Anggi tampil selama 11 menit. Ia mengeksplor bahan cerita atas kenyataan yang dialaminya sebagai penyandang disabilitas, yang menghadapi banyak permasalahan, antara lain perlakuan tidak mengenakkan, bullying, atau perundungan.
Bangkit dari Bullying dan Depresi
Kerap mengalami bullying, tidak lantas membuat Anggi hanyut meratapi nasib dan bermuram durja. Ia tidak mau tenggelam dalam kesedihan. Ia tidak kalah, juga tidak mengurung diri karena malu. Melainkan ia bangkit, bergairah, dan bersemangat lalu menginspirasi orang lain.
“Aku adalah salah satu kader terbaik disabilitas yang pernah dimiliki Kementerian Kemenduk Bangga. Aku selama tiga tahun depresi, kemudian ketika aku bisa bangkit, aku mencatatkan lima rekor terbaik disabilitas di Indonesia. Aku bisa menjadi stand-up comedian, jujur, saya mampu sampai tahap ini karena masuk dalam komunitas yang benar, yaitu Genre. Sebab dulu, aku sering kali kena bully,” ujar Anggi, pemuda 25 tahun asal Kota Binjai, Sumatera Utara.
Komunitas Genre (Generasi Berencana) merupakan program Kementerian Dukbangga/BKKBN untuk menyentuh kelompok remaja disabilitas di Indonesia. Melalui program Duta Genre Inklusi, edukasi kesehatan remaja dan reproduksi yang setara disampaikan kepada komunitas penyandang disabilitas di berbagai kota. Program ini inklusif terhadap disabilitas dan membahas isu remaja yang lebih luas, bukan hanya masalah ketidakmampuan disabilitas, tetapi juga kesehatan mental, stunting, penguatan kemampuan dan kompetensi, termasuk latihan public speaking.
Prestasi dan Rekor yang Membanggakan
Melalui pelatihan dalam komunitas itulah, bekal lelaki pemegang gelar sarjana ekonomi syariah ini mempunyai keterampilan berbicara di depan umum. Lalu ia mengikuti acara komika di salah satu stasiun televisi swasta tahun 2018, dan lolos sampai pada babak 13 besar.
Anggi mengaku dapat berdamai dengan diri sendiri, yang bermakna mengakui dan memahami diri sebagai penyandang disabilitas. Namun tidak berarti harus pasrah dan terpuruk, melainkan bangkit dan kreatif mengikuti segala kegiatan. Ia bahkan telah mendaki lebih dari 30 gunung di dalam dan luar negeri.
“Aku bisa meraih lima rekor karena dukungan rekan-rekan Genre. Salah satunya, pada 28 Oktober lalu, bersamaan dengan Hari Sumpah Pemuda, atau bersamaan dengan 10 tahun setelah aku diamputasi, rekor aku dicatatkan sebagai orang disabilitas pertama yang mampu naik dan turun Gunung Rinjani selama 14 jam. Rekor lainnya, tahun ini, saya sebagai orang disabilitas kedua Indonesia yang berhasil mencatat rekor mencapai base camp Gunung Everest di Nepal, pada ketinggian 5.364 meter di atas permukaan laut,” kata Anggi di atas panggung.
Anggi Wahyuda aktif dalam gerakan sosial “Satu Langkah Lagi” untuk menginspirasi masyarakat. Ia punya prinsip bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk mencapai mimpi. “Saya tidak kuat, saya benci kata menyerah.”
Hobi Mendaki Gunung dan Bukti Ketangguhan
Dalam setiap aktivitas mendaki gunung, Anggi kerap memperlihatkan kepada publik melalui akun media sosial Instagram @anggiwahyuda. Terbaru, Anggi mengibarkan bendera Merah Putih di base camp Gunung Everest (5.364 meter di atas permukaan laut) di Nepal pada 26 Mei 2025.
Hobi mendaki gunung dimulai Anggi sejak 2021. Hingga kini telah menaklukkan sekitar 30 gunung. Mendaki sebagai perwujudan tekad, bahwa tidak cukup berucap saya kuat dan tangguh, namun perlu bukti nyata kepada masyarakat luas.
Setelah mendaki Everest, tahun Juni 2026, ia menjadwalkan mendaki Gunung Kilimanjaro setinggi 5.895 meter di atas permukaan laut, gunung tertinggi di Benua Afrika, terletak di Tanzania, Afrika Timur.
Kisah Kecelakaan dan Awal Disabilitas
Anggi Wahyuda mengalami luka parah dalam kecelakaan lalu lintas di Kota Binjai, Sumatera Utara, tahun 2015. Ketika itu, ia mengendarai sepeda motor dan bertabrakan dengan truk tangki. Akibatnya, kaki kanannya diamputasi di atas lutut.
“Kaki saya diamputasi ketika saya kelas 1 SMA. Saat itu saya kecelakaan, saya naik sepeda motor ditabrak truk tangki,” ujar Anggi ditemui Tribun Network usai penampilan sebagai komika tunggal pada acara Genting di Jakarta Selatan, Rabu (10/12/2025).
Peran dalam Gerakan Pencegahan Stunting
Genting atau Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting merupakan program pemerintah Indonesia melalui Kemendukbangga/BKKBN. Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis, terutama dalam 1.000 hari pertama kehidupan. Anak stunting memiliki risiko penurunan kemampuan kognitif dan kekebalan tubuh yang lemah.
Program ini melibatkan masyarakat, BUMN, swasta, dan LSM sebagai orang tua asuh untuk intervensi langsung ke keluarga berisiko stunting. Fokusnya memberi nutrisi, sanitasi, dan edukasi untuk ibu hamil, menyusui, dan anak usia 0-23 bulan.
Bantuan berupa makanan tambahan harian, perbaikan rumah, akses air bersih, dan pendampingan diberikan untuk memastikan anak menerima gizi optimal hingga usia 2 tahun.
Proses Berdamai dengan Diri Sendiri
Mengalami situasi luka parah dan kehilangan kaki kanan tentu bukan persoalan mudah. Emosi dan kejiwaan tentu terguncang. Anggi mengalami depresi selama tiga tahun karena ketinggalan pelajaran dan kehilangan teman-teman.
Ia menemukan cara mengatasi depresi dengan bergabung dalam komunitas Genre, yang memberi ruang dan panggung untuk bangkit. Latihan public speaking di komunitas ini membuatnya lebih berani tampil di depan umum dan belajar stand-up comedy.
“Saya berpikir, yang bisa membuat aku bangkit ya pribadi aku sendiri. Untuk bangkit, tidak bisa berharap dan bergantung pada orang lain, tapi mengandalkan diri kita sendiri,” ujar Anggi.
Makna berdamai dengan diri sendiri bagi Anggi adalah menerima kenyataan disabilitas dengan ikhlas, namun tidak pasrah. Ia menyadari kondisi fisik sambil berdialog dengan Tuhan untuk mengambil hikmah dan bangkit.
Menghadapi Bullying dengan Mental Kuat
Bullying yang dialami Anggi kadang membuat mentalnya jatuh. Ia pernah mendapat komentar nyinyir di media sosial, seperti “itu foto editan ya?” Namun ia mengatasi dengan kemampuan dan rasa percaya diri.
“Kalau seseorang tidak mempunyai kemampuan mental dan rasa percaya diri, tidak ada yang bisa dibanggakan, maka tidak mungkin bangkit dari bullying. Ketika aku memiliki satu kemampuan dan kebanggaan, maka bullying itu anggap angin lalu saja,” kata Anggi.
Perjalanan hidup Anggi Wahyuda adalah bukti nyata bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk meraih mimpi dan menginspirasi banyak orang. Semangatnya untuk bangkit, berkarya, dan berbagi inspirasi menjadikannya sebagai teladan.
Profil Singkat
– Nama: Anggi Wahyuda
– Anak ke: 3 (bungsu) dari bersaudara
– Ayah: Muhammad Yamin
– Ibu: Sofia
– Pendidikan: Sarjana Ekonomi (Syariah) dari STAI Al-Ishlahiyah Binjai
(Tribunnetwork/amb)
Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News
Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter dan WA Channel
Berita viral lainnya di Tribun Medan


