Perang Iran Mengguncang Bursa Asia, Nikkei dan Kospi Jatuh, IHSG Turun Drastis

Posted on



Pasarmodern.com, JAKARTA — Pasar saham Asia mengalami penurunan yang signifikan pada awal pekan ini. Hal ini terjadi setelah lonjakan harga minyak dan eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah memicu aksi jual dari para investor global. Bursa saham Jepang dan Korea Selatan menjadi yang paling terpukul dalam kawasan tersebut.

Melansir data Bloomberg, indeks saham utama Jepang, Nikkei 225, sempat mengalami penurunan hingga 6,9% pada perdagangan Senin (9/3). Ini adalah penurunan terbesar sejak awal April. Pelemahan juga terjadi pada indeks Topix, yang turun hingga 5,7%.

Saham-saham teknologi menjadi salah satu penyebab utama penurunan indeks, termasuk perusahaan seperti SoftBank Group Corp. dan Advantest Corp. Aksi jual ini terjadi karena harga minyak global melonjak hingga menembus angka US$110 per barel. Kenaikan harga energi dipicu oleh berlanjutnya konflik di sekitar Iran, yang kini memasuki hari kesembilan setelah serangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel.

Sebelumnya, pasar saham Jepang mencatat kinerja yang kuat sepanjang awal 2026. Indeks Nikkei bahkan mampu mengungguli banyak indeks global utama, didorong oleh kebijakan fiskal ekspansif dari Perdana Menteri Sanae Takaichi. Namun, penurunan terbaru membuat indeks acuan Tokyo kini mengarah pada koreksi teknikal, setelah turun lebih dari 10% dari level puncaknya pada akhir Februari.

Shoji Hirakawa, chief global strategist Tokai Tokyo Intelligence Laboratory Co., mengatakan bahwa saham Jepang menjadi lebih rentan terkoreksi karena sebelumnya telah mencatat kenaikan yang cukup besar. “Saham Jepang telah naik cukup tajam dalam beberapa bulan terakhir, sehingga pasar menjadi lebih sensitif terhadap sentimen negatif seperti lonjakan harga minyak dan risiko geopolitik,” ujar Hirakawa.

Selain itu, ketergantungan Jepang terhadap impor minyak dari Timur Tengah juga memperbesar risiko bagi pasar saham domestik. Negara tersebut memperoleh sekitar 90% kebutuhan minyaknya dari kawasan tersebut. Hiroshi Matsumoto, senior client portfolio manager di Pictet Asset Management Japan Ltd., menyatakan bahwa Jepang termasuk negara yang paling terdampak oleh lonjakan harga minyak. “Jika harga energi terus naik, dampaknya tidak hanya pada inflasi tetapi juga pada margin perusahaan Jepang yang sangat bergantung pada impor energi,” kata Matsumoto.

Sentimen investor juga memburuk setelah laporan ketenagakerjaan terbaru dari Amerika Serikat menunjukkan perusahaan secara tak terduga memangkas jumlah pekerja pada Februari, yang menambah kekhawatiran terhadap prospek ekonomi global. Di sisi lain, aliran dana asing yang sebelumnya menjadi pendorong kenaikan saham Jepang mulai berbalik. Mamoru Shimode, chief strategist di Resona Asset Management Co., menilai investor asing jangka pendek mulai mengurangi eksposur terhadap saham Jepang.

Di Korea Selatan, tekanan lebih dalam terjadi. Indeks Kospi sempat merosot hingga 8,8% pada Senin dan memicu penghentian sementara perdagangan selama 20 menit melalui mekanisme circuit breaker. Saham raksasa semikonduktor seperti Samsung Electronics Co. dan SK Hynix Inc. menjadi penekan utama indeks dengan penurunan lebih dari 10%. Konflik Iran dinilai berdampak lebih besar terhadap pasar Asia karena kawasan tersebut sangat bergantung pada pengiriman energi melalui Strait of Hormuz.

Jung In Yun, chief executive officer di Fibonacci Asset Management Global, mengatakan investor khawatir konflik tersebut akan berlangsung lebih lama dari perkiraan. “Pasar khawatir ketegangan di Timur Tengah tidak akan selesai dalam waktu dekat. Ketidakpastian ini mendorong investor global untuk mengurangi aset berisiko, termasuk saham Korea,” ujar Jung.

Dana asing tercatat menjual bersih sekitar 1,8 triliun won atau sekitar US$1,2 miliar saham Kospi pada perdagangan Senin pagi setelah sebelumnya melepas sekitar 14 triliun won sepanjang pekan lalu. Sebaliknya, investor ritel menjadi pembeli bersih pada hari tersebut.

Lonjakan harga minyak juga memicu kekhawatiran inflasi di Korea Selatan yang merupakan importir energi bersih. Di tengah aksi risk-off yang menekan saham teknologi, saham sektor energi justru mencatat kinerja positif. Daesung Energy Co. bahkan melonjak lebih dari 20% pada perdagangan Senin.

Mata uang won turut melemah sekitar 0,7% terhadap dolar AS, sementara imbal hasil obligasi pemerintah tenor tiga tahun melonjak 20 basis poin. Bank sentral Bank of Korea menyatakan siap mengambil langkah stabilisasi pasar apabila diperlukan, menyusul meningkatnya volatilitas di pasar keuangan akibat risiko geopolitik di Timur Tengah.

Meski demikian, indeks Kospi sebenarnya masih mencatat kenaikan lebih dari 20% sepanjang tahun ini, didorong oleh reli saham teknologi yang dipicu lonjakan permintaan chip memori di tengah ekspansi global teknologi kecerdasan buatan. Namun, reli tersebut juga membuat saham Korea Selatan lebih rentan terhadap aksi ambil untung setelah ketegangan geopolitik meningkat dalam beberapa pekan terakhir.

Di Indonesia, IHSG juga mengalami penurunan tajam. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah tajam pada perdagangan Senin (9/3/2026). Berdasarkan data Stockbit Sekuritas pada pukul 09.02 WIB, IHSG ambles 4,38% ke level 7.253,29. Sejumlah saham berkapitalisasi besar dibuka di zona merah, antara lain saham Bumi Resources (BUMI) yang turun 8,70% ke Rp210, Bank Central Asia (BBCA) yang melemah 1,79% ke Rp6.875, serta Telkom Indonesia (TLKM) yang terkoreksi 4,39% ke Rp3.050.

Di tengah pelemahan indeks, sejumlah saham sektor energi justru bergerak menguat seiring lonjakan harga minyak global. Saham Energi Mega Persada (ENRG) naik 4,11% ke Rp1.900, sementara Medco Energi Internasional (MEDC) menguat 5,10% ke Rp1.855.

Secara sektoral, seluruh indeks dibuka di zona merah dengan koreksi terdalam terjadi pada sektor basic materials yang turun 7,67%, diikuti sektor infrastruktur yang melemah 5,97% dan sektor konsumer siklikal yang turun 5,89%.

Tim Riset Phintraco Sekuritas menilai pelemahan IHSG tidak terlepas dari sentimen global, terutama lonjakan harga minyak dan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu aksi risk-off di pasar keuangan global.