Pengakuan Ayu Puspita bertolak belakang dengan aslinya, fakta ini terkuak padahal mau jual rumah

Posted on

PasarModern.com– Pengakuan pemilik wedding organizer (WO) Ayu Puspita soal ganti rugi kepada kliennya bertolak belakang dengan kondisi keuangannya saat ini.

Padahal, Ayu Puspita berniat menjual rumah mewahnya untuk membantu menutupi dana calon pengantin yang dipakai olehnya.

Alih-alih meredakan kemarahan publik, penjelasan Ayu Puspita justru membuka rangkaian fakta baru yang semakin memperkeruh kasus.

Sebab, kondisi keuangannya saat ini sangat miris karena saldo direkeningnya hanya Rp463 Ribu.

Saat digeruduk di rumahnya, Ayu Puspita mengaku tidak punya tabungan berupa emas dan uang untuk mengembalikan uang klien.

Saldo di rekeningnya hanya Rp463 ribu yang tidak sebanding dengan kerugian para korban.

Ayu Puspita mengaku, menggunakan uang klien untuk membeli rumah serta jalan-jalan ke luar negeri.

Ia berjanji, akan mengembalikan uang klien setelah rumahnya terjual.

“Cuma saya ada KPR (kredit pemilikan rumah), cuma memang kan di situ, memang di situ saya DP-nya (uang muka) lumayan besar,” kata Ayu Puspita, dalam tayangan video viral yang beredar di Threads.

“Nah, itu saya lagi berusaha untuk saya jual. Itu asetnya nanti bisa untuk refund inilah, salah satu usaha saya,” bebernya.

Manajemen keuangan WO milik Ayu Puspita berantakan karena uang dari klien baru digunakan untuk menutup kekurangan klien lain.

“Makanya itu kemarin benar-benar yang waktu bermasalah, yang masalah katering itu, itu memang baru sekali, untuk masalah katering. Sebelumnya, kami  tidak pernah untuk kekurangan katering, malah lebih,” imbuhnya.

Kini, Polres Metro Jakarta Utara menangkap Ayu Puspita, pemilik wedding organizer (WO) PT Ayu Puspita Sejahtera (APS).

Selain Ayu, ada empat pegawai WO tersebut yang juga ikut diamankan untuk diperiksa lebih lanjut.

Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Pol Erick Frendriz mengatakan, pihaknya telah menerima laporan dari para korban terkait dugaan penipuan dan penggelapan yang dilakukan WO tersebut.

“Polres Metro Jakarta Utara menerima laporan dari beberapa pelapor terkait penipuan atau penggelapan yang dilakukan salah satu wedding organizer di wilayah Jakarta,” ujar Erick di Mapolres Metro Jakarta Utara.

Menurut Erick, modus yang dilakukan adalah WO menerima pembayaran penuh untuk penyelenggaraan acara pernikahan, termasuk catering.

Namun, ketika hari H, layanan tersebut tidak diberikan.

“WO ini sudah menerima uang untuk melaksanakan resepsi, kemudian pada hari H tidak terlaksana sesuai kesepakatan. Salah satu contoh, makanan yang harusnya dihadirkan saat pesta tidak datang,” kata Erick.

Imbasnya, para korban yang merasa dirugikan kemudian membuat laporan polisi.

Erick menyebut sebagian korban mengaku telah membayar hingga puluhan juta rupiah.

“Ada lima orang yang sedang kami periksa, termasuk pemilik, manajer, dan karyawan,” jelas Erick.

Diamankan di Jaktim

Adapun Ayu Puspita dan para pegawainya sebelumnya diamankan di wilayah Jakarta Timur, setelah warga memberikan informasi kepada polisi.

Mereka kemudian diserahkan ke Polres Metro Jakarta Utara lantaran laporan resmi berada di wilayah tersebut.

Erick mengatakan jumlah korban diperkirakan masih bertambah.

“Termasuk dari korban lain masih banyak yang berdatangan. Ternyata banyak yang menjadi korban WO tersebut,” ujarnya.

Ia menambahkan, laporan yang masuk ke Polres Metro Jakarta Utara baru satu, namun kejadian serupa juga muncul di wilayah lain dan berpotensi ditangani lintas polres.

Terkait kerugian, polisi belum dapat memastikan total nominalnya.

“Kerugian masih dihitung, karena banyak korban-korban baru,” kata Erick.

Trik Jahat Ayu Puspita

Di balik viral-nya ratusan calon pengantin yang menggeruduk kantor WO tersebut, terungkap salah satu trik marketing yang diduga membuat banyak korban terjerat.

Salah satu korban, Satrio Yuda mengungkapkan, dirinya tergiur iming-iming bonus 14 gubukan makanan dalam satu paket pernikahan yang dipesannya dari WO Ayu Puspita.

Satrio mengaku awalnya tertarik dengan paket yang ditawarkan, karena harganya lebih murah dibanding WO lain.

Selain itu, setiap pembayaran termin disertai bonus tambahan.

“Kita diiming-imingi bonus-bonus yang lumayan banyak lah gitu. Dari total, jadi kan kita ada pembayaran itu ada tiga termin gitu. Jadi untuk termin pertama itu DP 50 persen, nah terus dari marketingnya itu biasanya WhatsApp,” kata Satrio di Mapolres Metro Jakarta Utara, Senin (8/12/2025).

“Untuk kalau mau pembayaran lagi nanti kita dapat beberapa bonus-bonus, jadinya banyak yang tergiur lah. Saya itu bonusnya sekitar 14 gubukan. Jadi kalau mungkin kalau dihitung secara yang lain lagi itu ya, 14 gubukan dengan harga Rp 170 juta ya terhitung murah sih,” sambungnya lagi.

Satrio mengungkap, dirinya dan pasangan sudah membayar sekitar Rp 147 juta dari total paket Rp 170 juta.

Menurut Satrio, sejak awal WO tersebut tampak meyakinkan karena aktif mengikuti pameran pernikahan di berbagai tempat.

Satrio dan pasangannya yang merupakan customer WO Ayu Puspita sedianya menikah pada 24 Januari 2026 di salah satu gedung di Depok, Jawa Barat.

Ia mengaku pertama kali mengetahui adanya masalah dari pihak gedung yang mengabarkan kasus viral WO Ayu Puspita pada akhir pekan kemarin.

“Pihak gedung ini punya grup sesama venue. Mereka ngasih tahu bahwa WO Ayu Puspita ada masalah, makanan nggak datang pas acara salah satu pasangan,” kata dia.

Dari informasi yang tersebar di grup WhatsApp, disebutkan ada lebih dari 200 pasangan calon pengantin yang menjadi korban, dengan total kerugian ditaksir mencapai Rp 16 miliar.

Satrio juga menceritakan nasib korban lain yang pernikahannya digelar pada 6 Desember 2025.

Saat itu, pihak catering tidak datang, dekorasi setengah jadi, tamu sudah terlanjur hadir, hingga keluarga mempelai jatuh pingsan karena panik.

“Kebanyakan catering-nya nggak datang. Ada yang desainnya cuma setengah jadi. Tamu udah datang semua. Akhirnya ada yang pesan nasi padang sama makanan sekitar gedung,” ucapnya.

Saat ini, Satrio bersama para korban lain sudah membentuk grup komunikasi dan tengah melapor resmi ke Polres Metro Jakarta Utara.

Mereka berharap ada penyelesaian yang jelas dari pihak berwajib.

“Harapan saya sih semoga uang kami bisa kembali. Kalau nggak bisa kembali, minimal gimana caranya acara kami tetap bisa berjalan sebagaimana mestinya,” kata Satrio.

Berita Terkait

Baca berita PasarModern.comlainnya di Google News atau langsung di halaman Indeks Berita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *