Kondisi Anggaran Negara yang Cukup Kuat Menghadapi Eskalasi Global
Pemerintah memastikan bahwa kondisi anggaran negara masih cukup kuat dalam menghadapi eskalasi global, termasuk potensi kenaikan harga minyak dunia. Dengan gejolak yang tidak berlangsung ekstrem, dampaknya dinilai masih bisa diserap dalam APBN tahun berjalan.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa pemerintah telah melakukan simulasi terhadap berbagai skenario harga minyak untuk satu tahun ke depan. Perhitungan tersebut menjadi dasar dalam menjaga ketahanan fiskal di tengah ketidakpastian global.
“Kalau krisis seperti ini berkepanjangan, tahan tidak anggarannya, anggarannya seperti apa. Kalau analisis kami yang ada sekarang sih masih cukup baik, jadi tidak ada masalah,” ujar Purbaya di Istana, Selasa (3/3/2026) malam.
Menurut dia, kinerja penerimaan negara menunjukkan perbaikan signifikan pada awal tahun. Penerimaan pajak dan bea cukai pada Januari–Februari 2026 disebut tumbuh sekitar 30 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
“Itu angka yang signifikan sekali. Artinya ada perbaikan yang signifikan di ekonomi dan perilaku orang-orang, pajak dan bea cukai,” katanya.
Ia menegaskan pemerintah telah menghitung skenario kenaikan harga minyak pada level tertentu selama satu tahun anggaran. Selama kenaikan masih dalam batas simulasi, APBN dinilai mampu menyerap tekanan tersebut.
“Jadi masih bisa diserap kalau harga minyak naik. Kalau terlalu tinggi, tapi kalau ekstrem sekali akan kita hitung ulang,” ujarnya.
Stok BBM dan Upaya Peningkatan Ketahanan Energi
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa cadangan BBM di Indonesia masih kuat hingga 20 hari. Hal itu diungkapkan Bahlil ketika mengikuti rapat dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Senin (2/3/2026).
Bahlil kemudian menyampaikan akan menambah kapasitas penyimpanan (storage) stok bahan bakar minyak (BBM), dari yang semula hanya 25–26 hari menjadi 90 hari atau tiga bulan. “Faktanya, ketahanan energi kita, storage kita itu maksimal di angka 25–26 hari, tidak lebih dari itu,” ucap Bahlil dalam Konferensi Pers Perkembangan Terkini Timur Tengah dan Implikasi terhadap Sektor ESDM yang digelar di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (3/3/2026).
Pernyataan tersebut merespons perbandingan antara ketahanan energi Indonesia dengan Jepang. Stok BBM Indonesia dapat bertahan kurang dari 30 hari, sementara Jepang memiliki stok BBM untuk 254 hari ke depan.
Ketimpangan tersebut disebabkan terbatasnya storage atau penyimpanan BBM yang dimiliki Indonesia.
“Sekarang, kalau kita impor sebanyak itu (Jepang), kita mau taruh BBM di mana? Itu permasalahan kita,” ucapnya.
Oleh karena itu, lanjut Bahlil, pemerintah sedang berupaya membangun storage dengan kapasitas mencapai 90 hari atau tiga bulan agar selaras dengan standar internasional. Saat ini studi kelayakan (feasibility study) pembangunan storage sedang berlangsung. Bahlil menargetkan storage mulai dibangun pada 2026 dan direncanakan berlokasi di Sumatera.
Untuk ketahanan minyak saat ini, Bahlil menyampaikan stok minyak mentah (crude), BBM, serta LPG rata-rata berada di atas standar minimum ketahanan nasional. Adapun standar minimum yang ditetapkan pemerintah adalah 23 hari.
“Jadi, menyangkut dengan persiapan hari raya Idul Fitri, bulan puasa, alhamdulillah saya menyampaikan bahwa stok BBM, crude, LPG itu semua rata-rata di atas standar minimum nasional,” ucap Bahlil.
Ketahanan Energi Indonesia dalam Konteks Konflik Regional
Ketahanan energi Indonesia menjadi sorotan masyarakat di tengah perang antara Amerika Serikat–Israel dan Iran.

Sebuah kapal terlihat berlabuh di lepas pantai Dubai, Uni Emirat Arab, menyusul penutupan Selat Hormuz oleh Iran , 1 Maret 2026. – (EPA/Stringer)
Pada Sabtu (28/2), Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangkaian serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk Teheran. Serangan tersebut dilaporkan menimbulkan kerusakan dan korban sipil. Iran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel dan fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Pada Ahad (1/3), Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat–Israel. Televisi pemerintah Iran mengonfirmasi kematian Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan tersebut.
Media Iran melaporkan Selat Hormuz telah “secara efektif” ditutup menyusul serangan Amerika Serikat–Israel, meski belum ada pengumuman resmi mengenai blokade formal.
Adapun Selat Hormuz menangani sekitar seperlima perdagangan minyak dunia serta volume besar ekspor gas alam cair dari Qatar dan Uni Emirat Arab. Sekitar 20 persen konsumsi minyak harian global atau sekitar 20 juta barel melintasi koridor tersebut.
Bahlil mengatakan pemerintah menyiapkan skenario alternatif menyusul penutupan Selat Hormuz akibat konflik Israel–Amerika Serikat dan Iran. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi dampak berkepanjangan terhadap pasokan energi global dan stabilitas dalam negeri.

Pengendara mengisi bahan bakar minyak (BBM) jenis pertalite di SPBU di kawasan Jalan Pemuda, Rawamangun, Jakarta Timur, Senin (13/5/2024). – (Pasarmodern.com/Thoudy Badai)


