Kondisi Bantaran Kali Noemuti yang Terancam Longsor
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Octho Nule, menyampaikan bahwa pihaknya telah menerima laporan dari Kepala Desa Kiuola terkait pelaksanaan evakuasi mandiri dua kepala keluarga yang terdampak longsoran tanah di wilayah tersebut. Laporan ini menunjukkan bahwa warga setempat merasa khawatir akan ancaman bencana alam yang terus mengancam kehidupan mereka.
Menurut Octho Nule, beberapa waktu lalu tim dari Dinas PUPR Provinsi NTT telah melakukan peninjauan langsung ke lokasi longsoran dan rumah-rumah warga yang terdampak. Ia menjelaskan bahwa kendala utama yang dihadapi adalah keterbatasan dana, meskipun belum ada informasi pasti apakah pekerjaan tersebut akan dilakukan pada tahun ini atau tahun depan.
Pembangunan bronjong dan perbaikan rumah warga yang terdampak longsor di Desa Kiuola sudah dalam tahap perencanaan. Alokasi anggaran dari APBD II sedang dipantau oleh pihak terkait. Sementara itu, Dinas PRKPP Kabupaten TTU telah membantu membangun satu unit rumah milik warga yang terdampak longsor di Desa Kiuola.
Perubahan Jalan dan Kondisi Warga
Kepala Desa Kiuola, Primus Rusae, memastikan bahwa ruas jalan kabupaten yang berada di pinggir bantaran Kali Noemuti putus total akibat tanah longsor. Ia mengakui bahwa kendaraan roda dua dan roda empat tidak lagi melintas di jalur tersebut. Saat ini, pengalihan arus lalu lintas ke wilayah yang lebih aman sedang dilakukan.
Ia juga menyebutkan bahwa bahkan orang-orang yang berjalan kaki tidak bisa melewati jalur tersebut karena kondisi tanah yang sering jatuh. Sebelumnya, pada awal tahun 2025, dampak longsoran cukup signifikan, termasuk beberapa tiang listrik yang tumbang. Meski demikian, tiang-tiang tersebut telah direlokasi ke tempat yang lebih aman oleh petugas PLN.
Primus Rusae juga memastikan bahwa dirinya telah melaporkan tentang evakuasi mandiri yang dilakukan warga di Bantaran Kali Noemuti. Laporan tersebut disampaikan di dalam grup Desa/Kelurahan Siaga Bencana dan mendapat respon dari BPBD TTU. Selain laporan di grup, Pemdes Kiuola akan menindaklanjuti laporan melalui surat resmi kepada BPBD TTU.
Situasi Evakuasi dan Persiapan Warga
Sebenarnya, kata Primus, sebanyak 3 kepala keluarga yang telah melakukan evakuasi mandiri. Namun, seorang korban bencana tanah longsor lainnya bernama Hironimus telah mendapatkan bantuan rumah layak huni dari Bupati TTU. Sebanyak 16 kepala keluarga di bantaran kali tersebut yang terdampak longsor. Dua orang telah melakukan evakuasi mandiri, satu keluarga mendapat bantuan rumah dari Bupati TTU, dan 13 kepala keluarga lainnya belum melakukan evakuasi mandiri karena belum memiliki pilihan lokasi evakuasi.
Primus mengimbau 13 kepala keluarga tersebut untuk segera melakukan evakuasi mandiri dalam waktu dekat. Ia meminta agar mereka segera pindah sebelum banjir terjadi di Kali Noemuti yang melintas tepat di jantung Desa Kiuola.
Pengalaman Warga yang Melakukan Relokasi
Warga RT 002/001, Dusun 1, Desa Kiuola, Bernadus Ratrigis menyebut, lokasi bencana tanah longsor tersebut telah ditinjau langsung oleh pemerintah kecamatan dan Tim Terpadu Penanggulangan Bencana Kabupaten TTU. Nyaris 6 kali kunjungan tersebut dilaksanakan sejak pertama kali fenomena longsor melanda pemukiman mereka. Meskipun demikian, kunjungan dari Tim Terpadu Penanggulangan Bencana Daerah Pemkab TTU tersebut tak kunjung menuai hasil alias nihil hasil.
Bernadus mengatakan, dirinya dan keluarga lainnya yang bermukim di bantaran kali tersebut telah bosan dan nyaris tidak percaya lagi jika mereka akan melakukan kunjungan berikutnya. Beberapa waktu lalu, ia dan keluarganya telah melakukan pemindahan rangka rumah ke lokasi baru. Sementara perabot rumah tangga telah dipindahkan terlebih dahulu.
Tanggung Jawab dan Harapan Warga
Fransiskus Satban, korban bencana tanah longsor di RT 002, RW 001, Dusun 1, Desa Kiuola, menyebut ia dan keluarganya memutuskan untuk melakukan evakuasi mandiri usai pagi tadi mendengar bunyi retakan tanah disertai pergeseran posisi rumah. Ia menjelaskan, sebelumnya beberapa fasilitas seperti WC, kandang ternak, dan dapur telah jatuh ke bantaran kali usai banjir mengikis bantaran kali.
Fransiskus mengaku saat ini telah memindahkan semua perabot rumah tangga di rumah milik keluarga di RT 11, RW 005, Desa Kiuola. Keputusan tersebut dilaksanakan usai semalam mereka dihantui rasa cemas lantaran sepanjang malam, pergeseran posisi rumah sangat terasa.
Ia berharap pemerintah daerah bisa membantu membangun rumah atau membangun bronjong di sepanjang bantaran kali tersebut. Dengan situasi ini, warga setempat membutuhkan dukungan lebih lanjut dari pemerintah untuk memastikan keamanan dan keselamatan mereka.


