Pasar Awi Campernik: Dorong Ekonomi Kota Cimahi, Mudahkan Pengunjung dengan Pembayaran Digital

Posted on

Pasar Awi Campernik: Wisata Budaya dan Ekonomi Lokal di Kota Cimahi

Di balik rimbunnya hutan bambu di ujung utara Kota Cimahi, terdapat pasar unik yang memiliki nuansa kearifan lokal bernama Pasar Awi Campernik (PAC). PAC menjadi tujuan wisata bagi warga sekitar maupun pengunjung dari luar kota. Selain itu, PAC juga menjadi bagian dari pemberdayaan ekonomi masyarakat Kota Cimahi.

Pemerintah Kota Cimahi menghadirkan PAC di tengah-tengah kawasan Taman Ecowisata Cimahi (Ewic) di Jalan Terobosan Kelurahan Cipageran Kecamatan Cimahi Utara. Di sini, tema lingkungan sangat terasa. Pengunjung akan disambut oleh terowongan bambu dan dekorasi yang banyak menggunakan ornamen berbahan dasar kayu bambu, termasuk lapak para pedagang.

Berbeda dengan pasar pada umumnya, PAC menjual berbagai jajanan tradisional ala pasar nenek moyang khas zaman dulu. Mulai dari nasi timbel, ketan bakar, colenak, baso tahu, baso aci, tahu gejrot, hingga minuman bir pletok, bandrek, bajigur, dan lainnya. Harganya cukup terjangkau, mulai dari Rp 5.000 sampai puluhan ribu rupiah.

Untuk menjajal makanan yang tersedia, pengunjung menggunakan koin unik dengan mata uang khusus bernama Pernik dengan nilai 5, 10, dan 20 yang setara dengan ribuan dalam rupiah. Koin ini bisa dibeli secara tunai maupun nontunai menggunakan Quick Response Code Indonesian Standart (QRIS) bekerja sama dengan perbankan.

Sebagai hiburan, kerap hadir kesenian tradisional seperti calung, seni tari, rampak kendang, dan kesenian khas Jawa Barat lainnya. Pasar ini hanya buka dua kali dalam satu bulan yakni hari Minggu di pekan pertama dan ketiga mulai pukul 06:00 WIB – 13:00 WIB.

Keberadaan PAC sebagai Destinasi Wisata Unggulan

Wakil Wali Kota Cimahi Adhitia Yudisthira menyebut PAC sebagai destinasi wisata unggulan Kota Cimahi. Ia menilai, pariwisata berdampak besar pada ekonomi daerah, menyejahterahkan masyarakat, pelaku UMKM hingga pekerja seni.

Ia menjelaskan, sistem pembayaran digital kini menjadi kebutuhan masyarakat termasuk di lokasi wisata berbasis budaya dan kearifan lokal. Hal ini mendukung upaya digitalisasi dan inklusi keuangan di sektor pariwisata. Keberadaan QRIS di berbagai tempat termasuk di lokasi wisata tentunya sangat membantu memudahkan dalam bertransaksi.

Peran BI Jabar dalam Digitalisasi Transaksi

Kepala Kantor Perwakilan BI Jabar Muhamad Nur menyatakan bahwa sistem pembayaran digital kini menjadi sebuah kebutuhan masyarakat. Di Jawa Barat terdapat 540 wisata alam, 277 wisata budaya dan 342 desa wisata, optimalisasi kinerja sektor pariwisata dinilai dapat memberikan kontribusi yang signifikan bagi perekonomian Jawa Barat ke depan.

BI Jabar juga telah meluncurkan berbagai program dukungan terhadap pariwisata Jawa Barat. Termasuk penyelenggaraan acara West Java Tourism Talk (WJTT) pada September 2024, Sunda Karsa Fest pada Juli 2025, dan berbagai kegiatan kolaborasi lain dalam mempromosikan potensi wisata serta produk ekonomi kreatif masyarakat.

Transformasi Keuangan Digital di Sektor Pariwisata

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani) Vicky Dzaky Cahaya Putra menilai, sektor pariwisata berpotensi menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru dan memperkuat daya saing ekonomi. Sistem pembayaran tunai menjadi elektronik turut mendukung transformasi keuangan digital.

Ia menjelaskan, di lokasi wisata seperti PAC, penggunaan koin khusus yang bisa dibeli pakai QRIS selain uang tunai. Di lapak pedagang rata-rata juga menyediakan QRIS maupun mobile banking yang banyak sekali digunakan masyarakat demi kemudahan bertransaksi secara non tunai di era digital.

Pentingnya Edukasi Literasi Keuangan Digital

Perlu edukasi kepada pelaku UMKM dalam penggunaan teknologi digital agar bisa bersaing di pasaran dan usahanya berkelanjutan. Juga dikenalkan literasi keuangan digital dengan harapan tidak ada yang kebingungan dalam jual beli di era sekarang.

Selain itu, koneksi internet harus mendukung terlaksananya transaksi digital. Jika koneksi tidak mendukung maka pembayaran terkendala. Karena itu, pemerintah juga harus mendukung penguatan infrastruktur.

Meski demikian, para pelaku usaha maupun masyarakat juga harus mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam bertransaksi digital. Harus diwaspadai penyalahgunaan data digital dan adanya penipuan ulah oknum yang menempelkan stiker QRIS tidak sesuai dengan merchant.

Layanan digitalisasi menjadi kebutuhan di tengah perkembangan zaman. BI dan perbankan perlu mengambil peran dalam meningkatkan pemahaman atau literasi keuangan digital kepada masyarakat. BI selaku bank sentral dan juga regulator mewakili pemerintah dan perbankan perlu menyampaikan literasi keuangan digital yang mudah dipahami dan dicerna masyarakat baik pelaku usaha maupun pembeli.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *