Opini: Lepas FOMO, Hadir FOPO

Posted on

Mengenal FOMO dan FOPO dalam Era Digital

Saat ini kita hidup di zaman yang menganggap bahwa ketinggalan tren terasa lebih menakutkan daripada kehilangan makna hidup. Ketidaktahuan seseorang akan logika tren dan kebaruan zaman, seolah-olah membuat dia tertinggal begitu jauh dan bahkan terancam eksistensinya. Dari sinilah Fear of Missing Out (FOMO) bekerja secara diam-diam. Terminologi ini mendesak manusia untuk terus mengejar logika kebaruan yang ada. Lantas, kadangkala kita tidak sempat bertanya, apakah semua itu sungguh dibutuhkan atau bermakna bagi kehidupan?

Gelagat FOMO

FOMO berkaitan erat dengan meningkatnya kecemasan, rendahnya kepuasan hidup, serta ketergantungan pada pengakuan sosial. Hasrat akan sesuatu yang bersifat konsumtif mendorong seseorang untuk mengejar hal-hal baru yang menjadi potret kehidupan modern. Segala upaya dapat dilakukan untuk mengejar sebuah tren yang laris manis di khalayak umum. Entah berguna atau tidak untuk individu tersebut, itu bukanlah soal. Hal utama yang mau dikejar adalah rekognisi dan validasi di tengah publik.

FOMO bukan sekadar istilah populer yang ramai dipakai di media sosial. Dia menjelma sebagai suatu gejala sosial yang membentuk cara manusia memandang dirinya sendiri. Media sosial kerap menampilkan fragmen gaya kehidupan orang lain yang terlihat lebih modern, lebih berhasil, dan lebih bahagia. Di tengah ilusi yang diciptakan dalam ruang maya tersebut, kita mulai mengukur hidup berdasarkan standar eksternal itu. Ketika tidak ikut tren tertentu, muncul rasa takut akan ketertinggalan karena tak mampu menyesuaikan diri dengan kemajuan zaman.

Pada titik ini, kita seakan mengambil jarak yang begitu jauh dengan diri kita yang otentik. Kita menjadi manusia palsu. Dalam kehidupan sehari-hari, gelagat FOMO tampak nyata. Banyak orang membeli barang yang sedang viral bukan karena kebutuhan, melainkan karena takut dianggap ketinggalan zaman. Aktivitas yang dilakukan bukan melulu demi pemaknaan akan pengalaman personal, tetapi demi konten. Bahkan waktu istirahat pun terasa naif jika tidak produktif atau tidak bisa dibagikan.

Namun, ada pula individu-individu tertentu yang mencermati bahwa FOMO merupakan sesuatu yang bermanfaat. Mereka menilai FOMO bukan melulu mengenai rasa takut, tetapi dorongan untuk mencoba berkreasi dengan hal-hal baru. Bahwasannya, segala usaha untuk mengenal dan memasuki tren kehidupan modern adalah cara manusia hidup seturut tuntutan zaman yang sedemikian cepat. Pandangan semacam ini ingin mengubah pola pikir negatif menjadi sesuatu yang terlihat positif, tergantung dari lensa pandang mana yang diambil.

Di satu sisi memang cukup sulit meletakkan FOMO pada suatu kutub ekstrem (baik positif maupun negatif) karena nilai dari tren ini tak menentu dan dapat berubah secara cepat. Hanya saja FOMO selalu identik dengan gejolak seseorang untuk memuaskan diri dengan mengejar kebaruan. Kebaruan dipromosikan sebagai kebutuhan, bukan lagi pilihan. Ini sejalan dengan karakter manusia modern yang digambarkan oleh Zygmunt Bauman sebagai masyarakat cair.

FOPO dalam Ruang Publik

Belakangan ini, kesadaran akan dampak negatif dari FOMO mulai tumbuh. Banyak orang mencoba mengurangi ketergantungan pada media sosial, menolak ikut tren tertentu, atau memilih hidup lebih sederhana. Namun, pada titik inilah muncul kecemasan baru yang juga problematis, Fear of Other People’s Opinions (FOPO). Jika FOMO adalah ketakutan akan ketertinggalan, FOPO adalah ketakutan akan penilaian dari orang lain.

FOPO membuat individu hidup dengan kehati-hatian yang berlebihan. Setiap pilihan baik dari cara berpakaian, pandangan hidup, hingga keputusan karier, dibungkus dengan satu pertanyaan ketakutan yaitu apa kata orang tentang saya. Psikolog Adam Grant menyebut FOPO sebagai kondisi ketika manusia menyerahkan kendali hidupnya kepada opini publik. Dalam situasi ini, kebebasan personal menyempit karena adanya kontrol sosial yang ketat. Kita boleh memilih, tetapi hanya sejauh pilihan itu aman secara sosial.

FOMO dan FOPO sesungguhnya saling berkaitan. FOMO mendorong manusia untuk terus mengikuti apa yang sedang ramai, sementara FOPO menahan manusia agar tidak keluar dari batas aman penerimaan sosial. Keduanya sama-sama menempatkan pusat penilaian diri di luar diri manusia. Akibatnya, identitas menjadi rapuh dan tidak stabil. Apabila seseorang hidup dalam kesederhanaan di tengah maraknya sebuah tren modern, maka ia akan dianggap kuno dan tidak mampu beradaptasi dengan lingkungannya.

Fenomena ini membuat manusia sibuk menyesuaikan diri, tetapi miskin refleksi. Hidup dijalani sebagai respons terhadap tekanan sosial, bukan sebagai pilihan yang disadari. Dalam jangka panjang, kondisi ini melahirkan kelelahan emosional dan krisis makna. Banyak orang tampak sibuk dan aktif, tetapi merasa kosong dan tidak benar-benar hadir dalam hidupnya sendiri.

Momentum Kesadaran Diri

Di tengah situasi tersebut, kesadaran diri (self-awareness) menjadi kebutuhan mendesak. Kesadaran diri membantu manusia mengenali motif di balik tindakannya. Apakah ia bertindak karena nilai yang diyakini atau semata-mata karena takut tertinggal dan takut dihakimi. Tanpa refleksi semacam ini, manusia mudah terjebak dalam kehidupan yang ramai di luar, tetapi sunyi di dalam.

Menemukan nilai diri yang otentik memang bukan perkara mudah. Dibutuhkan keberanian untuk mengakui bahwa tidak semua tren layak diikuti dan tidak semua opini publik perlu ditaati. Filsafat eksistensial menegaskan bahwa menjadi diri sendiri selalu melibatkan risiko, termasuk risiko tidak disukai atau tidak dipahami. Namun, justru dalam risiko itulah manusia menemukan makna hidupnya.

Mengenali jebakan kebaruan menjadi langkah penting untuk keluar dari lingkaran FOMO dan FOPO. Tidak semua yang viral membawa nilai, dan tidak semua yang populer mencerminkan kebenaran. Menyaring tren bukan berarti menolak kemajuan, melainkan menjaga integritas diri di tengah tekanan sosial yang semakin kuat. Pada akhirnya, setelah hiruk-pikuk FOMO mulai dipertanyakan, tantangan terbesar kita adalah melampaui FOPO. Bukan dengan menarik diri dari ruang publik, melainkan dengan hadir secara lebih jujur dan reflektif.

Hidup yang bermakna tidak diukur dari seberapa sering kita diakui atau disukai, melainkan dari seberapa setia kita pada nilai yang kita hidupi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *