Pentingnya Peran Ibu dalam Kehidupan Seorang Muslim
Hari Jumat memiliki posisi yang khusus dalam kehidupan umat Islam. Pada hari ini, kaum lelaki Muslim yang telah balig, sehat, dan berakal diwajibkan melaksanakan salat Jumat dua rakaat sebagai pengganti salat zuhur. Salat Jumat dimulai dengan khutbah yang disampaikan oleh khatib. Khutbah ini berisi nasihat dan pengingat untuk memperkuat keimanan serta memperbaiki amal.
Khutbah Jumat juga merupakan bagian penting dari ibadah Jumat itu sendiri. Dalam Islam, Jumat disebut Sayyidul Ayyam atau Penghulunya Hari — hari yang dimuliakan karena banyaknya keutamaan dan limpahan rahmat Allah di dalamnya. Pada kesempatan Jumat yang penuh berkah ini, berikut disajikan contoh materi khutbah Jumat dengan tema “Ibu Adalah Kunci Surga,” sebagai pengingat betapa agungnya peran dan kedudukan seorang ibu dalam kehidupan seorang Muslim.
Keagungan Ibu dalam Agama Islam
Dalam khutbah tersebut, ditegaskan bahwa surga itu di bawah telapak kaki ibu. Hadits ini menunjukkan bahwa seorang ibu memiliki kedudukan yang sangat mulia hingga seolah-olah surga yang begitu indah dan agung saja tidak lebih tinggi daripada seorang ibu karena diibaratkan berada di bawah telapak kakinya.
Kita semua tahu bahwa telapak kaki adalah bagian paling bawah atau rendah dari organ manusia. Namun maksud hadits ini adalah bahwa tidak mungkin seorang anak bisa masuk surga tanpa ketundukan kepada seorang ibu.
Bakti kepada Ibu Lebih Besar Daripada Ayah
Rasulullah SAW mengisyaratkan agar bakti kepada ibu tiga kali lebih besar daripada kepada ayah. Hal ini disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abi Hurairah RA:
“Suatu hari datanglah seorang laki-laki kepada Rasulullah SAW. Orang itu bertanya kepada Rasulullah, siapakah di antara manusia yang paling berhak kami sikapi dengan baik. Nabi menjawab, ibumu. Orang itu bertanya lagi, siapa lagi setelah itu. Nabi menjawab, ibumu. Orang itu bertanya lagi, siapa lagi setelah itu. Nabi menjawab, ibumu. Orang itu bertanya lagi. Nabi kemudian menjawab, kemudian ayahmu.”
Dari hadits di atas dapat kita ketahui bahwa perbandingan bakti kita kepada ibu dan ayah adalah 3 : 1 atau 75 persen : 25 persen.
Pertanyaan yang muncul kemudian, atas dasar apa Rasulullah SAW mengisyaratakan perbandingan seperti itu. Jawabannya dapat kita temukan dalam surat Luqman, ayat 14, dimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Dan kami perintahkan kepada manusia untuk berbuat baik kepada ibu-bapa; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan susah payah dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepadaku dan kepada ibu-bapakmu. Hanya kepada-Ku lah kembalimu.”
Dari ayat di atas, dapat kita ketahui bahwa dalam kaitannya dengan proses kejadian dan kelahiran manusia ke bumi ini, terdapat 4 fase penting.
Fase-Fase dalam Proses Kelahiran Manusia
Fase pertama adalah fase yang melibatkan partisipasi dari ayah dan ibu dimana peran ayah sangat menentukan. Dalam fase ini, sel telur sang ibu tidak mungkin terbuahi tanpa pertemuannya dengan sperma sang ayah.
Maka bisa dimengerti bakti seorang anak kepada ayah dibandingkan dengan ibu adalah 1 : 3 karena dalam 3 proses berikutnya seorang ayah sudah tidak terlibat lagi.
Proses Kehamilan dan Melahirkan
Setelah selesainya proses pertama, yakni pembuahan sel telur oleh sperma, maka proses berikutnya atau kedua adalah kehamilan. Dalam proses ini, seorang ibu harus mengandung si janin dalam kandungan selama rata-rata 9 bulan. Selama 9 bulan ini, tidak ada partisipasi ayah sama sekali karena organ laki-laki memang tidak dirancang untuk bisa mengandung seorang bayi.
Setelah proses kedua selesai, disusul proses ketiga yang merupakan puncak dari proses kehamilan, yakni proses melahirkan. Lagi-lagi dalam proses melahirkan ini tidak ada keterlibathan seorang ayah. Seorang ibu harus berjuang sendiri untuk bisa melahirkan dengan selamat, baik selamat bagi dirinya sendiri maupun bayi yang dilahirkannya.
Masa Menyusui
Setelah proses ketiga selesai, disusul proses keempat, yakni menyusui. Dalam proses menyusui ini, sang ibu harus berhati-hati dan selalu menjaga diri sebaik mungkin karena apa yang terjadi pada dirinya bisa berdampak langsung pada si bayi. Sang ibu harus sanggup berjaga menahan kantuk, baik siang maupun malam.
Al-Qur’an memberitakan masa menyusui adalah dua tahun sebagaimana bunyi ayat:
“Dan menyapihnya dalam usia dua tahun.”
Masa dua tahun menyusui dengan ASI adalah ideal terutama bagi ibu-ibu yang memang memiliki kesempatan untuk itu. Tetapi bagi mereka yang memiliki masalah tertentu, maka setidaknya selama 6 bulan pertama dapat mengusahakannya sebab selama itu ASI bersifat eksklusif.
Kesimpulan
Mengingat beratnya tugas ibu, yakni tiga hal penting yang terdiri dari: mengandung, melahirkan dan menyusui, maka bisa dimengerti mengapa Nabi Muhammad SAW mengisyaratkan agar hormat dan bakti kepada ibu lebih besar daripada kepada ayah. Sebagaimana saya uraikan di atas, perbandingannya adalah 3 : 1. Perbandingan ini masuk akal dan adil.


