Naskah Khutbah Jumat 14 November 2025: Memperkuat Iman dan Tawakal kepada Allah SWT

Posted on

Khutbah Jumat: Takwa dan Tawakal kepada Allah SWT

Dalam khutbah ini, khatib diharapkan mengingatkan jamaah agar senantiasa menumbuhkan sikap takwa dan tawakal kepada Allah SWT dalam setiap aspek kehidupan. Sebab, barang siapa bertakwa kepada Allah, maka Allah akan memberikan jalan keluar dari setiap kesulitan dan menganugerahkan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Begitu pula, orang yang bertawakal kepada Allah SWT akan selalu mendapat kecukupan dan perlindungan dalam hidupnya, karena hanya kepada-Nya lah segala urusan dikembalikan.

Ayat Al-Qur’an yang Menjadi Dasar Khutbah

Allah berfirman dalam ayat yang terdapat dalam surah ath-Thalaq:

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak ia sangka-sangka. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya. Sesungguhnya Allah menciptakan (mewujudkan) apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu” (QS ath-Thalaq: 2-3).

Ayat ini menjadi dasar utama dalam khutbah ini, yang menjelaskan bahwa takwa dan tawakal adalah dua hal penting yang harus diterapkan dalam kehidupan seorang Muslim.

Hadis Nabi Muhammad SAW tentang Takwa

Imam Ahmad dalam Musnadnya dan al-Hakim dalam al-Mustadrak meriwayatkan dari sahabat Abu Dzarr radliyallahu ‘anhu bahwa ia berkata:

Rasulullah SAW suatu ketika mulai membacakan kepadaku ayat “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan mengadakan baginya jalan keluar” (QS ath-Thalaq: 2), hingga beliau selesai membacanya, kemudian bersabda:

“Wahai Abu Dzarr, seandainya semua orang mengambil ayat ini (sebagai pedoman), niscaya ia cukup bagi mereka.” Abu Dzarr berkata: Maka Rasulullah mulai membacanya dan mengulang-ulangnya.

Hadis ini menunjukkan betapa pentingnya ayat tersebut sebagai pedoman hidup bagi umat Islam.

Makna Takwa dalam Kehidupan

Sebagaimana kita tahu bahwa takwa adalah menjalankan seluruh kewajiban dan menjauhi semua perkara yang diharamkan. Telah diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas ra bahwa ia berkata:

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, maka Allah akan menyelamatkannya di dunia dan akhirat.”

Takwa juga menjadi benteng terbaik untuk melindungi seseorang dari dosa-dosa yang dapat menghalangi rezeki dan keberkahan dalam hidupnya. Sebagian ulama mengatakan:

“Perbuatan dosa akan menyebabkan seseorang terhalang dari berbagai macam nikmat di dunia, seperti kesehatan dan harta, atau hilangnya berkah dari hartanya, atau menyebabkan seseorang dikalahkan dan dikuasai oleh musuh-musuhnya.”

Tawakal kepada Allah SWT

Dalam lanjutan ayat di atas, Allah menegaskan:

“Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.”

Tawakal adalah bergantung kepada Allah semata dan mengandalkan-Nya dalam segala urusan, karena Allah Swt adalah pencipta segala sesuatu, pencipta manfaat dan mudarat. Tidak ada yang mengenakan bahaya dan memberikan manfaat secara hakiki kecuali hanya Allah.

Contoh dari Perilaku Nabi SAW

Imam Ahmad, Ibnu Majah dan al-Hakim meriwayatkan dari Amirul Mukminin ‘Umar bin al-Khaththab radliyallahu ‘anhu bahwa ia berkata:

Aku mendengar Nabi SAW bersabda:

“Jika kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, niscaya Allah akan memberikan rezeki kepada kalian seperti Ia memberikan rezeki kepada burung. Burung-burung itu keluar di pagi hari dalam keadaan perut kosong dan kembali ke sarang-sarangnya dalam keadaan perut yang terisi penuh.”

Tawakal Bukan Berarti Tidak Berusaha

Ma‘asyiral muslimîn rohimakumulloh,
Tawakal tidaklah bertentangan dengan melakukan sebab, ikhtiar dan usaha. Dalam Shahih Ibnu Hibban diceritakan bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Apakah aku melepas (tidak mengikat) untaku dan bertawakal kepada Allah?

Maka Rasulullah SAW bersabda kepadanya:

“Ikatlah dan bertawakkal-lah kepada Allah.”

Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman meriwayatkan dari pimpinan para shufi, al-Junaid al-Baghdadi ra bahwa ia berkata:

“Tawakal bukanlah bekerja atau tidak bekerja, tawakal adalah sesuatu yang adanya di hati.”

Akhir dari Ayat dan Kepercayaan pada Qadla dan Qadar

Di bagian akhir dari ayat tersebut ditegaskan bahwa Allah telah menjadikan ajal bagi tiap-tiap sesuatu. Allah telah menakdirkan akhir dan ajal setiap sesuatu secara pasti sehingga tidak bisa dipercepat atau diundur. Seseorang yang mati karena dibunuh, orang yang mati sebab ditabrak mobil dan orang yang mati di atas kasurnya, masing-masing mati sesuai ajalnya, masing-masing meninggal dengan qadla` dan qadar Allah.

Allah Swt berfirman:

“Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun” (QS. al A’raf: 34).

Allah Swt juga berfirman:

“Di mana pun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu berada di dalam benteng yang tinggi dan kukuh” (QS an-Nisa`: 78).

Demikian khutbah yang singkat ini, mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *