Khutbah Jumat: Iri dan Dengki, Pembunuh Rasa Syukur
Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas topik khutbah Jumat dengan judul “Iri dan Dengki, Pembunuh Rasa Syukur”. Dalam Islam, khutbah Jumat memiliki peran penting dalam memberikan arahan dan penjelasan mengenai nilai-nilai keimanan serta etika hidup seorang Muslim. Khutbah yang singkat namun bermakna seringkali menjadi sumber inspirasi dan pengingat bagi jamaah.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dan Ahmad, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Dari Ammar Ibn Yasir (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Sesungguhnya panjangnya sholat dan pendeknya khutbah seorang khatib adalah tanda kepahaman seseorang tentang agama. Oleh karena itu panjangkanlah sholat dan persingkatlah khutbah; sesungguhnya dalam penjelasan singkat ada daya tarik.”
Hadits ini menunjukkan bahwa isi khutbah harus disampaikan secara singkat dan jelas agar mudah dipahami oleh jamaah. Dengan demikian, pesan yang ingin disampaikan dapat lebih efektif dan berdampak positif terhadap jiwa dan hati para pendengar.
Penjelasan Mengenai Sifat Iri dan Dengki
Sifat iri dan dengki merupakan penyakit hati yang sangat berbahaya. Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surat An-Nisa’ ayat 32:
“Janganlah kamu iri hati terhadap apa yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain.”
Rasulullah ﷺ juga mengingatkan umatnya untuk menjauhi sifat ini dengan sabdanya yang diriwayatkan Imam Muslim:
“Janganlah kalian saling memboikot, saling membelakangi, saling membenci, dan saling menghasud, namun jadilah kalian orang-orang yang bersaudara sebagaimana diperintahkan Allah.”
Iri dan dengki dapat merusak hubungan sosial, memicu konflik, serta menghambat perkembangan diri dan lingkungan. Iri hati timbul akibat merasa tidak puas dengan pemberian Allah kepada orang lain, sedangkan dengki adalah rasa benci terhadap kebahagiaan atau nikmat yang diberikan Allah kepada orang lain.
Peran Rasa Syukur dalam Keimanan
Sebagai umat Islam, kita dituntut untuk menjauhi sifat-sifat buruk ini dan menggantikannya dengan sifat-sifat yang lebih mulia. Kita harus belajar untuk merasa bahagia atas kesuksesan dan keberuntungan orang lain tanpa merasa iri atau dengki. Kita harus berusaha untuk membantu dan mendukung saudara kita dalam kebaikan, bukannya menghalangi atau merendahkan mereka.
Imam Al-Ghazali menyebut bahwa iri dan dengki memiliki tiga tahap. Pertama, tahap menginginkan agar kenikmatan orang lain itu hilang dan ia dapat menggantikannya. Tahap kedua adalah menginginkan kenikmatan orang lain itu hilang, walaupun ia tak dapat menggantikan nikmat tersebut dengan merasakan mustahil untuk mendapatkannya. Dan yang ketiga adalah tahap merasa tidak ingin jika kenikmatan orang lain hilang, tetapi ia benci jika orang lain mendapat nikmat lebih darinya.
Doa untuk Menghindari Sifat Iri dan Dengki
Agar kita terhindar dari sifat iri dan dengki, Imam Abdul Wahab As-Sya’rani dalam Kitab Tanbihul Mughtarrin menuliskan sebuah doa yang redaksinya berbunyi:
“Ya Allah, ampunilah para pendengki kami karena mereka dalam kesempitan hatinya tidak kuat melihat nikmat-nikmat yang dianugerahkan pada kami, bukan pada mereka. Andai berhati lapang, mereka tentu takkan iri dengki kepada kami.”
Semoga Allah menjauhkan kita dari sifat iri dan dengki yang dapat menjerumuskan kita kepada golongan orang-orang yang tidak bersyukur dan semoga kita terhindar dari orang-orang yang iri dan dengki kepada kita. Amin.
Khutbah Jumat: Memperkuat Ketakwaan
Dalam khutbah kedua, khatib mengingatkan kepada jamaah bahwa untuk perjalanan menuju ketakwaan yang lebih baik, kita perlu senantiasa memperbaiki diri. Takwa adalah pondasi utama yang menjaga kita dari godaan dunia yang sementara dan membimbing kita pada kebahagiaan abadi di akhirat. Kita harus senantiasa mengingat bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Mendengar, sehingga setiap tindakan dan niat kita menjadi bahan pertimbangan di hadapan-Nya.
Kita juga diajak untuk selalu merutinkan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, sebagai bukti cinta dan penghormatan kita terhadap beliau yang telah membawa cahaya Islam kepada dunia. Shalawat bukan hanya sekadar doa, tetapi juga sarana mendekatkan diri kepada Allah serta mengundang rahmat-Nya.
Dalam rangka menghindari sifat iri dan dengki, kita perlu memahami bahwa setiap individu telah mendapatkan takdir dan pemberian dari Allah yang berbeda-beda sesuai kadarnya masing-masing. Dengan memahami ini, kita dapat merasa lebih tenang dan puas dengan apa yang telah Allah berikan kepada kita.
Semoga Allah memberikan kita kekuatan untuk menjauhi sifat iri dan dengki serta meningkatkan rasa syukur atas segala nikmat yang telah diberikan-Nya. Amin.


