Modal Usaha Jadi Tantangan Koperasi Merah Putih Kaltim, 85 Persen Masuk Simkopdes

Posted on

Koperasi Merah Putih di Kalimantan Timur Menghadapi Tantangan Modal

Modal usaha menjadi kendala utama yang dihadapi Koperasi Merah Putih di Kalimantan Timur. Sebagai informasi, sebanyak 85 persen koperasi tersebut telah terdaftar dalam Sistem Informasi Manajemen Koperasi Desa (SIMKOPDES). Koperasi desa/kelurahan Merah Putih diketahui telah diluncurkan sejak 21 Juli 2025.

Namun, modal yang diharapkan melalui bank Himbara (Himpunan Bank Milik Negara) belum juga terealisasi. Padahal, Koperasi Merah Putih memiliki banyak inovasi untuk pengembangan. Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM (DPPKUKM) Provinsi Kalimantan Timur, Heni Purwaningsih, kepada PasarModern.com pada Senin (20/10/2025) di Samarinda.

Dia mengakui tantangan yang dihadapi koperasi cukup besar. Menurutnya, Bank Himbara perlu kehati-hatian dalam menyalurkan dana kepada koperasi Merah Putih. Pihaknya selalu memberikan dorongan dan semangat kepada para pengurus untuk bisa menjalankan operasional, namun disadari bahwa menjalankan bisnis tanpa modal hampir mustahil dilakukan.

“Bank Himbara untuk menyalurkan modal juga perlu kehati-hatian dan pengelolaan manajemen risiko yang baik,” ujar Heni.

Pengajuan Proposal Bisnis

Menurutnya, sikap hati-hati bank dalam menyalurkan pembiayaan bisa dipahami karena Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih memang belum memiliki aset dan usaha yang berjalan. Saat ini koperasi masih dalam tahap pengajuan proposal bisnis, sehingga belum ada kegiatan usaha yang layak dijadikan sumber pengembalian dana.

Kondisi tersebut menjadi catatan penting dari Bank Himbara, sehingga mereka sampai sekarang belum berani mengeluarkan pembiayaan. Bank memang mengalami kesulitan dalam menilai kelayakan usaha yang masih merintis dan belum memiliki track record operasional.

Melihat kendala tersebut, pemerintah pusat mengambil langkah strategis dengan membangun gerai-gerai yang nantinya akan menjadi modal kerja, modal usaha, atau investasi bagi koperasi.

“Ya, nah oleh karena itu pemerintah mengambil langkah itu, membangunkan gerai-gerai yang nanti itu menjadi modal kerja atau modal usaha atau investasi bagi koperasi,” beber Heni.

Sebagai informasi, pemerintah pusat telah melakukan peletakan batu pertama untuk pembangunan gerai di 800 titik koperasi seluruh Indonesia pada 17 Oktober lalu. Di Kalimantan Timur terdapat 16 koperasi yang menjadi bagian dari 800 titik tersebut.

Pembangunan gerai ini bertujuan untuk mempercepat operasional Koperasi Merah Putih. Dengan adanya sarana dan prasarana yang dibangun pemerintah, koperasi akan mendapat modal awal berupa toko atau gerai yang sudah diisi dengan barang dagangan.

“Jadi Koperasinya tinggal menjalankan itu. Itulah menjadi modal kerja dan modal investasi yang nanti akan dijalankan oleh Koperasi,” pungkas Heni.

Pelatihan bagi Pengurus Koperasi

Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM (DPPKUKM) Provinsi Kalimantan Timur mencatat 85 persen koperasi Merah Putih di Kaltim telah terdaftar dalam SIMKOPDES. Sekitar 2.000 pengurus koperasi akan mengikuti pelatihan untuk memperkuat dan mempercepat operasional.

Kepala DPPKUKM Provinsi Kalimantan Timur, Heni Purwaningsih, menjelaskan bahwa capaian ini merupakan bagian dari tahapan operasional Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih yang kini memasuki fase kedua. Setelah berhasil membentuk 1.037 Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih di seluruh Kaltim, fokus kini beralih pada penguatan operasional.

“Semua koperasi kita se-Kalimantan Timur ini sudah sekitar 85 persen sudah masuk di dalam SIMKOPDES, tinggal beberapa koperasi yang di daerah remote yang masih kita lakukan pendampingan,” ujar Heni, Senin (20/10/2025).

Menurut Heni, SIMKOPDES merupakan inisiatif Kementerian Koperasi sebagai leading sector yang bertujuan menciptakan database terintegrasi bagi seluruh Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih di Indonesia. Melalui sistem ini, setiap koperasi wajib mendaftarkan diri dan mengajukan rencana bisnis yang akan dikembangkan.

Pentingnya registrasi ke dalam SIMKOPDES adalah untuk memetakan data kelembagaan, data usaha, hingga perkembangan koperasi secara nasional. Dengan demikian, pemerintah dapat memantau dan memberikan dukungan yang lebih tepat sasaran kepada masing-masing koperasi.

Heni menambahkan bahwa koperasi yang belum terdaftar umumnya berada di daerah remote yang masih memerlukan pendampingan intensif. Pihaknya terus berupaya memastikan seluruh koperasi dapat terintegrasi dalam sistem tersebut.

Untuk mendukung operasional koperasi, Kementerian Koperasi telah menyiapkan program komprehensif melalui dana dekonsentrasi. Program ini mencakup pendampingan dan pelatihan bagi pendamping maupun pengurus Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih.

“Ada 278 pendamping yang nanti akan diterjunkan ke koperasi-koperasi Desa Merah Putih dan ada sekitar 2 ribuan pengurus koperasi yang akan dilatih se-Kalimantan Timur ini,” jelas Heni.

Setelah pendampingan dan pelatihan, upaya percepatan operasional koperasi juga didukung melalui kolaborasi antarkementerian. Kementerian Koperasi, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Keuangan, dan Kementerian Desa serta Danantara akan menandatangani Surat Keputusan Bersama (SKB) untuk mempercepat operasional usaha Koperasi Merah Putih.

Langkah strategis lainnya adalah pembangunan gerai fisik untuk mendukung aktivitas bisnis koperasi. Pada 17 Oktober lalu, telah dilakukan peletakan batu pertama untuk 800 gerai Koperasi Desa Merah Putih di seluruh Indonesia.

“Kemarin yang di launching di tanggal 17 Oktober kemarin, jadi ada 800 gerai peletakan batu pertama pembangunan gerai Koperasi Desa Merah Putih seluruh Indonesia, ada 800 dan sekarang ini sudah masif, itu nanti ada dibangunkan gerai untuk masing-masing Koperasi Desa Merah Putih seluruh Indonesia,” pungkas Heni.

Pembangunan Gerai Koperasi oleh Danantara

Pemerintah resmi memulai pembangunan unit gudang dan gerai Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di Kalimantan Timur (Kaltim) dan Kalimantan Utara (Kaltara) sebagai langkah strategis memperkuat fondasi ekonomi kerakyatan dan ketahanan pangan nasional.

Proyek ini melibatkan TNI dan PT Agrinas Pangan Nusantara untuk memastikan percepatan pembangunan berjalan sesuai target. Dalam program tersebut, Kodam VI/Mulawarman yang membawahi wilayah Kaltim dan Kaltara akan membangun 28 titik gudang dan gerai Koperasi Merah Putih terdiri dari 17 unit di Kaltim dan 11 unit di Kaltara.

Salah satu unit akan berdiri di Kota Minyak yaitu Balikpapan, tepatnya di depan Kelurahan Graha Indah, Balikpapan Utara, yang menjadi simbol awal penguatan koperasi rakyat di daerah.

Lebih lanjut, pihaknya akan terus berkomunikasi dengan PT Agrinas Pangan Nusantara Wilayah 6 Kota Balikpapan sebagai kontraktor pelaksana konstruksi.

“Keterlibatan pihak TNI itu lebih kepada pengamanan untuk mempercepat proses pembangunan gerai. Kemudian kami (Agrinas) bagian dari bidang konstruksi juga, selain dari sisi pangan,” ujar Manajer Marketing PT Agrinas Pangan Nusantara Wilayah 6 Kota Balikpapan, Edwin Dwi Putra, Sabtu (18/10/2025).

Pembangunan gerai Koperasi Merah putih ini didanai melalui anggaran Danantara sekitar Rp3 miliar. Konsep bangunannya satu lantai, dengan luas bangunan 20×30 meter persegi sesuai dengan arahan pemerintah pusat.

“Ditargetkan beberapa bulan ke depan untuk merampungkan semua. Kalau dari luasan bangunan memang dari petunjuk teknis (juknis), nanti akan ada beberapa kriteria yang harus dievaluasi atau dikeluarkan,” kata Edwin.

Gerai ini dibangun untuk mempermudah masyarakat. Hanya saja, jenis usahanya menyesuaikan dengan tipologi daerah masing-masing. Di samping itu, hasil usaha juga bisa ditampung di koperasi tersebut. Dalam artian, fungsi KDKMP juga akan menjaga stabilitas harga.

“Pokoknya segala sesuatu hal yang bisa mensupport ekonomi di masyarakat. Mulai dari penjualan, penerimaan hasil penjualan, atau penampungan peralatan pendukung juga bisa. Terutama akses pendanaan untuk masyarakat dalam mengembangkan hasil-hasil pertanian itu bisa diakses di koperasi ini,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *