Misteri “Terserah” yang Diungkap Tetehku

Posted on

Kehidupan di Kampung dan Makna Kata “Terserah”

Di kampung kami yang jauh dari hiruk-pikuk kota, obrolan sehari-hari memang tidak jauh dari sawah, harga pupuk, atau urusan hajatan tetangga. Di antara obrolan sederhana itu, ada satu kata yang sejak saya kecil selalu jadi misteri, terutama kalau keluar dari mulut para wanita. Kata itu adalah “terserah”.

Kalau di bahasa Sunda kampung kami, seringnya jadi “kumaha dinya” atau yang lebih lengkap “kumaha dinya wae.” Jujur saja, saya sering kali mendengar kata ini terlontar dari para wanita, termasuk dari Teteh saya sendiri, kakak perempuan saya, saat dia bercakap dengan Aa, suaminya (kakak ipar saya). Contohnya gampang saja. Kalau sore-sore Aa pulang dari tempat penggembalaan dan tanya ke Teteh, (panggilan suami istri kakak saya, Teteh dan Aa), “Teh, besok kita mau ngarit (mencari rumput) di kebun mana?” Seringkali jawaban Teteh cuma, “Ah, kumaha dinya wae, Aa.”

Kadang dengan nada datar, kadang dengan nada yang agak berat. Buat saya yang sering menyimak obrolan mereka, kata itu seperti pagar pembatas yang tidak boleh dilewati.

Baru-baru ini rasa penasaran saya sudah tak tertahankan. Saya beranikan diri bertanya langsung pada Teteh saat kami sedang duduk-duduk di balai di kampung halaman, sambil mengupas singkong rebus. “Teh,” kata saya pelan, “sebenarnya maksud kata ‘terserah’ itu apa sih? Kok sering banget Teteh bilang ke Aa, padahal kadang Teteh kayaknya ada maunya sendiri.”

Teteh cuma tersenyum kecil. Katanya, kata “terserah cewek” itu memang punya banyak arti, bukan cuma berarti menyerahkan keputusan. Dan obrolan kami sore itu membedah habis rahasia “kode morse” para wanita kampung.

“Terserah” Ketika Bingung atau Lelah Memilih

Kata “terserah” yang pertama, kata Teteh, adalah yang paling jujur dan paling sederhana. Ini terjadi kalau kami memang betul-betul sedang bingung atau sudah terlalu lelah untuk berpikir. Hidup di kampung pun banyak pilihan, lho. Bukan cuma pilihan modern, tapi pilihan sehari-hari yang berulang yang sering membuat kepala pusing.

Paling sering soal urusan perut. Misal, Aa tanya, “Teh, hari ini kita masak apa? Masih ada sisa ikan asin, atau mau bikin sayur asem saja?” Kami di kampung kan tidak punya warung makan instan atau tukang sayur yang lewat setiap jam. Pilihan menu itu terbatas, dan kalau sudah berhari-hari menunya mirip, otak Teteh pun buntu memikirkan variasi.

Di saat seperti itu, “kumaha dinya” berarti, “Ya sudah, Aa putuskan saja. Saya sudah tidak punya ide lagi. Apapun yang ada di dapur, olah saja, saya ikut.” Ini adalah bentuk penyerahan diri karena kehabisan energi berpikir. Bukan karena marah, tapi karena tiris (capek) memikirkan hal yang sama berulang kali.

Kata Teteh, kalau laki-laki tanya, mereka biasanya hanya butuh satu jawaban pasti. Tapi kalau perempuan, kami memikirkan stok bumbu, waktu yang dibutuhkan, apakah nanti anak-anak mau makan, dan apakah sayuran itu akan basi. Semua itu sudah jadi beban mental harian, walau terlihat sepele.

Jadi, kata “terserah” di sini adalah jalan keluar. Sebuah sinyal lembut bahwa ia sedang meminta istirahat sejenak dari tanggung jawab mengambil keputusan yang kecil namun berulang. Teteh bilang, ini seperti istirahat sejenak dari mengolah padi.

Biasanya, kalau “terserah” yang ini keluar, Aa akan langsung berinisiatif. Dia akan bilang, “Ya sudah, kalau begitu saya nyambal terasi, kamu goreng tempe saja.” Dan masalah selesai. Tidak ada drama, karena nadanya memang netral, dan si cewek benar-benar menyerahkan pilihan.

Intinya, dalam konteks bingung atau lelah, kata “terserah” cewek adalah sebuah lampu kuning. Bukan bahaya, tapi sinyal: “Saya sudah penuh, tolong ambil alih kemudi sebentar.” Pria hanya perlu cepat mengambil keputusan, dan wanita akan menerimanya.

“Terserah” Sebagai Ekspresi Marah dan Protes Tersembunyi

Nah, yang ini kata Teteh adalah yang paling berbahaya dan sering menjebak para suami. “Terserah” jenis kedua adalah bungkus halus dari kekecewaan, rasa jengkel, atau marah yang sudah memuncak. Ini adalah bom waktu dalam komunikasi.

Kekesalan di kampung seringnya sederhana, tapi menumpuk. Misalnya, Aa janji mau membetulkan pagar kandang ayam yang sudah reot dari seminggu lalu, tapi setiap hari selalu lupa karena sibuk ngored (membersihkan gulma) di sawahan. Padahal, Teteh sudah mengingatkan berkali-kali.

Ketika Teteh bertanya, “Aa, kapan mau benerin pagar ayam itu?” dan Aa menjawab, “Iya nanti, atuh,” lalu tidak dilakukan juga. Malamnya, saat Aa bertanya soal rencana besok, dan Teteh menjawab, “Kumaha dinya wae,” nah itu adalah pertanda buruk yang harus diwaspadai.

Kata “terserah” yang ini artinya: “Saya kecewa dan marah karena kamu sudah berulang kali tidak menepati janji untuk hal kecil yang penting buat saya. Sekarang, saya tidak mau lagi ambil bagian dalam rencana kamu. Lakukan saja sesukamu, saya sudah malas ikut campur.”

Teteh bilang, kata-kata boleh sama, tapi nadanya beda. Kalau yang ini, nadanya pasti dingin, datar, dan matanya tidak menatap Aa. Itu adalah sinyal darurat. Ini seperti gunung yang sudah mau meletus tapi pintunya ditutup.

Kalau Aa salah merespons, misalnya dengan bilang, “Ya sudah kalau terserah, besok saya ke kota saja,” maka perang dunia pasti pecah. Teteh bilang, pria kampung pun sering tidak peka kalau “terserah” ini keluar, mereka pikir itu izin bebas. Padahal itu adalah bom waktu yang sedang berdetak.

“Terserah cewek” yang kedua ini adalah alat protes pasif. Tujuannya bukan memberi kebebasan, tapi memaksa Aa untuk introspeksi diri dan mengingat, “Saya salah apa?” sebelum mengambil keputusan. Ia ingin pasangannya peka terhadap kegagalan janji yang sudah menumpuk.

“Terserah” Sebagai Ujian Kepekaan dan Inisiatif

Jenis “terserah” yang ketiga ini, kata Teteh, adalah yang paling romantis dan paling butuh kepekaan. Ini adalah ujian kecil dalam hubungan yang tujuannya untuk menguatkan ikatan batin.

Teteh bilang, kadang kami para perempuan ini sudah tahu betul mau apa, tapi kami ingin pasangan kami yang inisiatif dan menunjukkan bahwa dia benar-benar kenal kami. Bukan karena tidak mau bicara, tapi karena ingin dimengerti tanpa diminta secara eksplisit.

Contohnya saat ada hajatan (pesta) di desa sebelah. Aa tanya, “Teh, kita mau datang ke hajatan Mang Ujang, mau pakai baju yang mana?” Teteh menjawab, “Kumaha dinya wae.” Padahal di pikiran Teteh, dia mau sekali pakai kain batik yang baru dibeli saat lebaran kemarin.

“Terserah” yang ini berarti: “Saya mau yang ini, tapi saya ingin kamu yang mengusulkan, agar saya merasa pilihan saya adalah prioritasmu. Ingat tidak saya suka yang mana?” Ini adalah permintaan halus untuk afirmasi dan bukti bahwa Aa memperhatikan hal kecil.

Kalau Aa menjawab, “Ya sudah, kalau begitu kita pakai baju sarung kuning saya, dan kamu pakai batik kembang-kembang yang baru itu ya, Teh, cocok dengan kerudungmu,” maka Teteh akan senang sekali. Itu artinya, Aa lulus ujian kepekaan.

Teteh menjelaskan, kepuasan emosional itu lebih besar daripada sekadar memilih sendiri. Karena ketika Aa yang inisiatif memilihkan apa yang Teteh suka, itu menunjukkan rasa sayang dan perhatian Aa. Ini adalah “kode morse” yang berhasil dibaca dengan sempurna.

Jadi, kata “terserah cewek” yang ketiga ini bukanlah penyerahan, melainkan undangan. Undangan bagi pria untuk menunjukkan bahwa ia ngarti (mengerti) dan merhatiin (memperhatikan) pasangannya lebih dari sekadar kata-kata.

Sore itu, saya sadar betul bahwa kata “terserah” atau “kumaha dinya wae” dari para wanita, termasuk dari Teteh saya, bukanlah sekadar lima huruf penyerahan keputusan. Itu adalah kode morse yang kompleks, bisa berarti lelah, marah, atau bahkan rindu untuk diperhatikan.

Di tengah kesederhanaan hidup kampung kami, obrolan tentang harga garam atau hasil panen pun punya lapis-lapis makna, dan kata “terserah” adalah kunci untuk memahami hati wanita yang sebenarnya tidak rumit, hanya butuh kepekaan yang lebih.