Ringkasan Berita:
- Ichsan, Ketua Jurusan Seni Rupa dan Desain ISBI Aceh, meraih Golden Winner Insan Humas Diktisaintek 2025.
- Ia menegaskan humas bukan soal jabatan, melainkan kerja bersama, di mana dosen, pimpinan, hingga mahasiswa berperan membangun reputasi institusi melalui seni, tulisan, dan kreativitas.
- Keberhasilan ISBI Aceh menjadi bukti pendekatan kehumasan berbasis seni dan budaya diakui nasional, serta diharapkan menginspirasi kampus lain menuju Indonesia Emas 2045.
Laporan Wartawan Serambi Indonesia Yarmen Dinamika I Banda Aceh
PasarModern.com, BANDA ACEH – Tidak semua kemenangan lahir dari ambisi. Sebagian justru tumbuh dari kerja yang dijalani tanpa pamrih, tanpa kalkulasi target juara.
Itulah kesan pertama ketika berbincang dengan Ichsan, Ketua Jurusan Seni Rupa dan Desain Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh, yang Jumat (19/12/2025) malam lalu diumumkan meraih Golden Winner (Juara 1) Anugerah Insan Humas Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Diktisaintek) 2025 di Jakarta.
Prestasi itu bukan sekadar capaian personal.
Ia adalah potret kerja kolektif sebuah kampus seni di ujung barat Indonesia yang perlahan, tetapi pasti, membangun identitas kehumasan berbasis budaya, literasi, dan kreativitas.
Dari pimpinan kembali ke anggota tim humas
“Tidak ada yang aneh,” kata Ichsan sambil tersenyum ketika ditanya tentang posisinya saat ini.
“Dulu saya Pimpinan Humas di ISBI Aceh, sekarang saya ketua jurusan.
Tapi ketika dibutuhkan, saya kembali menjadi bagian dari anggota atau tim humas,” ungkapnya kepada PasarModern.comdi Banda Aceh, Minggu (21/12/2025).
Sebelum menjabat Ketua Jurusan Seni Rupa dan Desain ISBI Aceh pada 2025, Ichsan adalah Pimpinan Humas ISBI Aceh pada 2022–2024.
Unit yang mengelola publikasi, komunikasi publik, dan kerja sama itu menjadi ruang pembelajaran penting baginya sebagai akademisi ISBI.
Bukan hanya soal teknis kehumasan, melainkan juga tentang makna kerja kolektif (teamwork).
Menariknya, Achmad Zaki MA, yang kini menjabat Pimpinan Humas ISBI Aceh, adalah anggota tim humas ISBI Aceh ketika Ichsan menjadi pimpinan.
Kini, peran itu berbalik. Zaki menjadi pimpinan, Ichsan menjadi anggota tim.
“Tidak ada rasa ganjil. Tidak ada hierarki yang mengganjal,” ujar Ichsan.
“Kami nyaman. Semua mengalir tenang. Karena, humas itu bukan soal jabatan, melainkan soal kerja,” tambahnya.
‘Balas dendam’ berbuah tawa
Dalam dinamika itu, terselip cerita yang mengundang senyum. Saat Ichsan menjadi pimpinan humas, ia pernah merekomendasikan Achmad Zaki sebagai kandidat Insan Humas mewakili ISBI Aceh.
Namun, saat itu mereka belum memahami sepenuhnya alur penilaian, di samping rezeki juara belum berpihak.
“Tahun ini justru Zaki yang menunjuk saya,” kata Ichsan sambil tertawa.
“Saya sempat bercanda, ini agenda balas dendam ya?”
Zaki, menurut Ichsan, hanya menjawab ringan, “Karena Syeh (panggilan akrab dia ke Ichsan) banyak menulis.”
Jawaban itu tidak dibantah Ichsan. Menulis memang menjadi bagian dari napasnya.
Hingga kini, ia masih aktif menulis di Harian Serambi Indonesia, media yang ia sebut sebagai salah satu pilar penting ekosistem informasi di Aceh.
Insan Humas bukan soal kamera, tapi kerja
Anugerah Humas Diktisaintek 2025 mulai dibahas sejak pertengahan tahun. ISBI Aceh mengikuti lima kategori, yakni lomba laman, siaran pers, majalah, insan humas, dan Anugerah Kerja Sama.
Dari lima kategori, tiga berhasil dimenangkan ISBI Aceh.
Yang paling mengejutkan justru kategori Insan Humas. “Saat diminta menjadi tokoh Insan Humas, saya hanya berpikir menjalankan tugas,” ujar Ichsan.
“Tidak pernah terlintas soal juara,” timpalnya.
Proses produksi video Insan Humas dijalani apa adanya. Bahkan, Ichsan sempat merasa ada bagian yang kurang sempurna.
“Ada gambar yang bocor, ada yang kurang rapi, dan berulang. Namun, waktu tidak memungkinkan kami untuk mengulang.”
Yang ditampilkan dalam video itu, menurutnya, adalah fakta kerja kehumasan ISBI Aceh, bagaimana seni, sastra, puisi, sajak, pertunjukan, podcast, dan majalah dijadikan medium transfer informasi dan nilai kepada publik.
“Kami tidak membangun citra kosong. Yang kami tampilkan adalah kerja nyata,” tukasnya.
Semua kita adalah Humas
Salah satu gagasan terkuat Ichsan adalah pandangannya tentang kehumasan.
“Bagi saya, humas bukan hanya unit. Bukan hanya pimpinan. Semua kita adalah humas,” tegasnya.
Sebagai dosen, ketua jurusan, penulis, dan bagian dari tim humas, Ichsan mempraktikkan apa yang ia yakini bahwa reputasi institusi dibangun oleh kerja komunal, bukan oleh satu wajah atau satu jabatan.
Podcast Meudrah dan Majalah Daweut, terang Ichsan, menjadi contoh bagaimana Humas ISBI Aceh membuka ruang partisipasi.
Menulis, berbicara, berdiskusi, dan berkarya menjadi bagian dari strategi komunikasi kampus yang berada di dekat Bukit Jalin, Kota Jamtho, Aceh Besar itu.
“Kalau dosen tidak mau terlibat, kalau unit lain merasa humas bukan urusannya, maka humas akan rapuh,” katanya.
Jalan budaya kehumasan
Bagi Ichsan, keberhasilan ISBI Aceh di Anugerah Diktisaintek bukan hanya soal piala. Ia adalah pengakuan bahwa pendekatan kehumasan berbasis seni dan budaya memiliki tempat di tingkat nasional.
ISBI Aceh, dengan segala keterbatasannya, memilih jalur yang tidak lazim, menjadikan seni sebagai bahasa komunikasi publik. Di sanalah letak kelebihannya.
“Kami kampus seni. Kalau kami tidak bicara dengan bahasa seni, justru itu yang aneh,” ujarnya.
Harapan dari ISBI
Ichsan tidak ingin prestasi ini berhenti pada dirinya. Harapannya sederhana, tetapi jauh ke depan. Akan lahir lebih banyak Insan Humas dari berbagai latar belakang di kampus-kampus Indonesia.
“Ketua jurusan bisa jadi humas. Dosen bisa jadi humas. Mahasiswa pun bisa, selama mau bekerja, menulis, dan berbagi,” ujarnya.
Baginya, Anugerah Insan Humas bukan mahkota, melainkan tanggung jawab. Tanggung jawab untuk terus bekerja, membuka ruang, dan menginspirasi.
“Kalau ke depan lahir Ichsan–Ichsan lain di kampus lain, di Aceh, di Indonesia, itu jauh lebih membahagiakan daripada satu piala,” tutupnya.
Lalu, dari ISBI Aceh, sebuah pesan pun mengalir pelan, tetapi tegas, “Kampus kecil pun bisa memberi gaung besar, asalkan dikerjakan bersama. Mari bersama membangun negeri menuju Indonesia Emas tahun 2045,” ajak Teuku Ichsan. (*)
