Menerjang Sungai Ciliwung, Arief Kamarudin Tangkap Ikan Sapu-sapu Tangan Kosong

Posted on

Kehidupan di Tengah Sungai Ciliwung

Sungai Ciliwung bukan hanya sekadar aliran air bagi Arief Kamarudin (34). Bagi pria ini, sungai berwarna kecokelatan itu adalah tempat yang penuh makna. Ia menuruni bantaran tanpa alas kaki, lalu menceburkan diri untuk memburu ikan sapu-sapu dengan tangan kosong. Di sela akar pohon dan bebatuan licin di dasar sungai, Arief meraba lubang-lubang sempit tempat ikan sapu-sapu bersembunyi dan berkembang biak.

Dengan tangan kosong, ia memburu ikan invasif yang selama ini kerap dianggap sebagai “ikan sampah” di Sungai Ciliwung. Arief bukan nelayan profesional. Ia adalah seorang konten kreator yang tinggal tak jauh dari lokasi perburuan ikan sapu-sapu di wilayah Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Namun, aktivitas yang ia lakukan bukanlah hal baru baginya. Sejak kecil, Arief sudah akrab dengan sungai dan aktivitas menangkap ikan, mengikuti jejak sang ayah yang dulu juga gemar menjala.

Untuk mencapai lokasi tempat Arief biasa menangkap ikan sapu-sapu, perjalanan dimulai dari Jalan Raya Lenteng Agung yang selalu riuh oleh deru kendaraan. Dari jalan utama itu, pengunjung harus jeli mencari plang kecil bertuliskan Gang Kancil. Memasuki gang tersebut, suasana bising jalan raya perlahan berganti dengan aktivitas khas permukiman warga yang hangat dan dinamis.

Langkah kaki kemudian menelusuri jalanan yang semakin menyempit dengan kontur tanah yang sedikit menurun. Penanda berikutnya adalah Gang Ciliwung I, sebuah lorong yang menjadi akses utama menuju bantaran sungai. Di sini, rimbunnya pepohonan bambu mulai mendominasi pandangan, memberi kesan asri sekaligus tersembunyi di balik beton bangunan kota yang menjulang di kejauhan.

Setibanya di ujung jalan menurun, Sungai Ciliwung langsung terbentang di hadapan mata. Airnya berwarna kecokelatan. Di tepi sungai terdapat tumpukan batu kali yang disusun sebagai penahan erosi, menciptakan semacam dermaga alami. Di tempat inilah Arief biasanya mempersiapkan diri, memantau pergerakan ikan di bawah rimbunnya dahan pohon yang menjorok ke air.

Suasana lokasi tersebut terasa kontras dengan hiruk-pikuk Jakarta. Akar-akar pohon besar menjuntai hingga ke permukaan air, menciptakan celah-celah sempit yang menjadi tempat favorit ikan sapu-sapu bersembunyi dan bertelur. Sambil duduk di atas alas sederhana di tepi sungai, Arief kerap ditemani beberapa rekannya, mengamati riak-riak kecil di permukaan air.

Tanpa ragu, Arief menceburkan diri ke sungai. Dengan gerakan yang sudah terlatih, ia menyisir bagian pinggir, meraba sela akar dan bebatuan licin di dasar sungai. Meski air tampak keruh dan membawa sampah plastik di beberapa titik, hal itu tidak menyurutkan semangatnya.

Setelah beberapa saat, Arief muncul ke permukaan dengan senyum lebar. Seekor ikan sapu-sapu berukuran besar menggeliat di tangannya. Teknik menangkap ikan sapu-sapu dengan tangan kosong membutuhkan keberanian dan ketelitian tinggi. Pasalnya, sirip punggung ikan ini tajam dan kasar jika tidak dipegang dengan posisi yang tepat.

Aktivitas menangkap ikan dan berenang di sungai bukan hal baru bagi Arief. Sejak kecil, kegiatan ini sudah biasa ia lakukan. “Dari kecil, dulu bapak saya memang ngejala juga. Bahkan sebelum TK saya sudah sering diajak ngejala,” ujar Arief yang tengah membersihkan ikan sapu-sapu di Kali Ciliwung saat ditemui.

Ia mengingat masa kecilnya sering diajak ke Setu Babakan hingga area Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat. Namun kini, kondisi sungai jauh berbeda. Sampah menjadi pemandangan yang tak terpisahkan dari aktivitasnya. “Sekarang sampahnya sudah banyak banget. Di Kalijodo juga salah satunya. Buat orang luar mungkin ini hal baru, apalagi nangkap ikan di sungai penuh sampah. Tapi buat saya sudah biasa,” ucap Arief.

Awalnya, Arief tidak pernah berniat menangkap ikan sapu-sapu. Seperti kebanyakan nelayan tradisional di Kalijodo dan sekitarnya, target utama mereka adalah ikan baung. “Semua orang yang ngejala juga awalnya tidak mau dapat sapu-sapu, karena stigma-nya ikan ini tidak bisa dimakan dan dianggap ikan sampah,” ujar Arief.

Namun, seiring waktu, ikan baung makin sulit ditemukan. Yang tersangkut jaring justru ikan sapu-sapu. “Dari situ muncul pertanyaan, kok ikan lain hilang, yang ada sapu-sapu melulu?” tutur dia. Arief mulai mencari tahu. Ia membaca literatur dan mempelajari bahwa ikan sapu-sapu merupakan spesies invasif, bukan ikan asli Indonesia. Selain menjadi limbah, keberadaan ikan sapu-sapu turut mempercepat hilangnya ikan lokal.

Kesadaran itulah yang kemudian ia bawa ke media sosial. Sejak 2019–2020, Arief memang sudah aktif membuat konten seputar aktivitas menjala dan ikan. Namun, baru sekitar tiga bulan terakhir ia fokus mengangkat konten ikan sapu-sapu melalui media sosial, salah satunya di akun Instagram @ariefkamarudin. “Responsnya besar. Momentumnya dapat,” kata Arief.

Ia mengaku baru benar-benar memahami dampak ekologis ikan sapu-sapu setelah belajar dan mengalaminya langsung di lapangan. Meski sungai tercemar, aktivitas memancing masih berlangsung hampir setiap hari. “Ini hiburan gratis warga pinggir kali. Dari dulu memang sudah hidup berdampingan dengan sungai,” ujar Arief.

Menurut dia, sampah bukan persoalan baru, hanya tingkat keparahannya yang meningkat. Ia menilai dampak ekologis ikan sapu-sapu sangat nyata. Ikan ini memakan lumut dan alga, sumber makanan ikan lain. “Akibatnya ikan-ikan lain kalah saing, rantai makanan jadi putus. Bukan cuma ikan, tapi juga burung. Dulu burung pemakan ikan masih sering terlihat, sekarang hampir tidak pernah,” kata dia.

Risiko di sungai tetap ada. Arief mengaku masih sering menemui ular, mulai dari kobra, belang, sanca, hingga ular air. Ia pernah digigit ular air yang untungnya tidak berbisa. Soal buaya, ia yakin tidak ada populasi alami di Sungai Ciliwung. “Saya pernah digigit ular air, tapi alhamdulillah tidak berbisa. Kalau soal buaya biasanya ada laporan, itu buaya lepasan,” kata dia.

Telur, Sarang, dan Cara Memusnahkan

Dalam menangkap ikan sapu-sapu, Arief lebih sering menyisir pinggiran sungai. Di sanalah telur-telur ikan ini banyak ditemukan. Lubang sarang ikan sapu-sapu bisa mencapai satu meter ke dalam, biasanya dijaga oleh ikan jantan setelah betina bertelur. Telur-telur itu ia remas dan buang ke semak agar tidak menetas. Ikan yang tertangkap ia musnahkan.

“Kalau satu-dua saya patahkan. Kalau banyak, pernah sampai 40 ekor, saya kubur di seberang sungai,” kata Arief. Arief bahkan memperlihatkan proses mematahkan ikan sapu-sapu yang masih hidup. Darah segar memuncrat, memperlihatkan isi perut dan usus ikan yang panjang, hitam, menyerupai cacing.

Adapun aktivitas memburu ikan sapu-sapu ini biasanya Arief lakukan pada pagi dan malam hari. Durasi perburuan bisa berlangsung dua hingga enam jam, tergantung kondisi sungai. “Kadang jam 11 malam, jam 1 atau 2 dini hari. Saya jarang siang karena ramai,” ujarnya.

Ia menegaskan, ikan sapu-sapu sebenarnya bisa dikonsumsi jika hidup di air bersih. Namun di Jakarta, hal itu hampir mustahil. “Ikan ini menyerap logam berat, mikroplastik, pestisida. Dampaknya jangka panjang, bisa puluhan tahun baru terasa,” kata dia.

Arief berharap ada keterlibatan serius dari dinas terkait. “Sampah dan ikan invasif tidak bisa dipilih salah satu. Dua-duanya harus ditangani bersamaan,” ujar dia.

Populasi Ikan Sapu-sapu

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta Hasudungan A. Sidabalok menyatakan bahwa hingga kini belum ada kajian ekologis resmi terkait populasi ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung. “Sehingga belum dapat dipastikan apakah terjadi ledakan populasi yang signifikan,” ujar Hasudungan saat dihubungi.

Namun, ia menegaskan ikan sapu-sapu merupakan spesies introduksi dari Sungai Amazon dengan tingkat reproduksi tinggi dan daya tahan lingkungan yang kuat. Hasudungan menyebut dominasi ikan sapu-sapu berpotensi mengurangi keanekaragaman ikan lokal, sebagaimana ditunjukkan penelitian Hendrawan (2008). Meski memakan bahan organik, ikan ini dinilai tidak memperbaiki kualitas air secara signifikan. “Karena dominansi pencemaran limbah rumah tangga dan industri,” kata dia.

KPKP menilai ikan sapu-sapu bukan solusi pencemaran. “Bukan bio-remediator yang efektif, melainkan indikator perairan yang tercemar,” ujar Hasudungan. Sifat invasifnya justru menciptakan ekosistem perairan dengan keanekaragaman rendah.

Upaya pengendalian yang dilakukan KPKP antara lain edukasi publik agar tidak melepaskan ikan invasif ke perairan umum. Restocking ikan endemik pernah dipertimbangkan, tetapi tidak direkomendasikan karena kualitas air Ciliwung belum memenuhi baku mutu hidup ikan. “Pengendalian spesies invasif mahal dan harus dilakukan secara kontinu,” kata Hasudungan.

Ia juga membuka peluang pemanfaatan ikan sapu-sapu untuk pakan ternak, pupuk, atau tepung ikan non-pangan. Ikan sapu-sapu tidak dianjurkan untuk konsumsi manusia, mengingat risiko logam berat dan patogen. Pemanfaatan tersebut hanya diposisikan sebagai instrumen pengendalian populasi. Terkait peran warga, KPKP mendorong pendekatan co-management. “Masyarakat merupakan pelaku utama dalam menjaga dan mengelola ekosistem,” ujar Hasudungan, seraya menekankan pentingnya edukasi dan pendampingan agar aktivitas warga terintegrasi dengan kebijakan resmi.

Peringatan dari Peneliti BRIN

Dari sisi riset, peneliti senior Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) Dr. Dyah Marganingrum menilai kualitas air Sungai Ciliwung semakin terdegradasi akibat limbah domestik, industri, pertanian, serta persoalan sampah dan perubahan tata guna lahan. “Beban limbah telah melebihi kapasitas daya tampung sungai untuk melakukan self-purification,” ujar Dyah saat dihubungi.

Menurut Dyah, dominasi ikan sapu-sapu merupakan bio-indikator pencemaran. “Keberadaan ikan sapu-sapu menunjukkan telah terjadi gangguan keseimbangan ekosistem,” katanya. Jika spesies toleran semakin mendominasi dan ikan sensitif menghilang, Sungai Ciliwung dapat dikatakan memasuki fase krisis ekologis.

Ia menegaskan pemulihan sungai harus dilakukan secara terintegrasi lintas sektor. “Saat ikan sapu-sapu muncul, itu adalah peringatan untuk segera melakukan konservasi dan remediasi. Bila terlambat, penanganannya akan jauh lebih mahal,” ujar Dyah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *