Mendidik Santri Mandiri di Pabelan Magelang

Posted on



Pondok Pesantren Pabelan di Magelang, Jawa Tengah, menjadi salah satu pondok pesantren tertua di Indonesia.



Menjelang Hari Santri Nasional yang diperingati setiap tanggal 22 Oktober, kami membuka arsip-arsip lama dan menemukan tulisan menarik tentang pesantren dari penulis Majalah HAI bernama Agam. Tulisan tersebut tayang d Majalah HAI edisi Maret 1993 dengan judul “Pesantren Pabelan Mendidikan Santri Mandiri”. Kami tuliskan secara verbatim apa yang tertulis di edisi tersebut. Inilah artikel lengkapnya…

PESANTREN PABELAN MENDIDIK SANTRI MANDIRI

Punya OPP yang lebih mandiri dari OSIS. Pelanggar aturan diganjar sanksi lewat persidangan. Berbahasa Arab dan Inggris jadi keharusan.

Jam belum lagi lewat dari pukul 20.00, tapi suasana di desa Pabelan seperti sudah lewat tengah malam. Gelap turun menyelimuti jalan-jalan desa. Penerangan hanya terpancar lewat kelip lampu tempel dari satu-dua rumah yang terdapat di sepanjang jalan desa.

Namun begitu melewati petak-petak kebun dan sawah yang berselang-seling dengan rumah, gelap yang turun membuat mata makin sulit melihat. Desa Pabelan terletak sekitar satu kilometer dari jalan besar yang menghubungkan kota Yogyakarta dan Magelang. Bangunan pesantren Pabelan dapat ditemui sekitar lima kilometer dari pintu gerbang desa. Pada malam hari, tak ada kendaraan umum yang melintas di sana. Suasana gelap. Kecuali peronda, jarang sekali orang melintas di malam hari. Nyanyian riuh rendah dari cengkerik, tokek, dan katak bermunculan.

Tiba di jalan masuk pesantren yang dipagari pohon-pohon besar, suara riuh binatang sawah mulai berkurang, tenggelam oleh alunan ayat-ayat suci yang dilagukan bersama dari pondok-pondok santri. Ayat yang dibaca bertadarus di keheningan malam itu menggetarkan hati mereka yang mendengarnya.

Bertadarus atau membaca ayat suci bergantian merupakan kegiatan rutin yang dilakukan santri sehabis shalat Tarawih, yang dilakukan sekitar pukul 20.00. Biasanya tadarus dilaksanakan hingga pukul 21.00. Setelah itu, setiap santri dibolehkan beristirahat. Kecuali tiga atau empat orang santri senior (kelas 6) yang dipilih bergiliran untuk meneruskan bertadarus di masjid pesantren hingga jauh malam.

Khusus pada bulan Ramadhan, santri dibangunkan kembali pada pukul 03.00 untuk melaksanakan ibadah sahur. Lantas setelah shalat Subuh berjamaah, pada pagi dan sore hari dilakukan olahraga bersama. Sedangkan siang hari, setiap santri belajar di kelas masing-masing.

Pola pendidikan yang diberikan pesantren ini pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan sekolah agama lainnya. Semua materi yang bersifat teoritis diberikan di ruang kelas. Materi disusun berdasarkan kurikulum Departemen Agama. Di samping materi yang sudah baku tadi, pesantren juga memberi materi tambahan yang dikenal dengan sebutan KMI (Kulliyatul Mu’allimien Al-Islamiyah). Bahan pelajaran KMI antara lain nahwu syaraf (tata bahasa Arab), insya (mengarang bahasa Arab), terjemahan Al Qur’an, fiqih (hukum islam), dan ibadah. Ada pula beberapa kegiatan lain yang sifatnya pilihan. Mungkin ini bisa diibaratkan dengan kegiatan ekskul yang ada di sekolah umum.

Kegiatan tadi terdiri dari kursus menjahit, drumband, teater, merenda, membuat kaligrafi, latihan berpidato, membaca ayat suci dengan berlagu, dan kursus adzan. “Materi itu diusahakan selengkap mungkin agar terbina santri yang berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas, dan berpikiran bebas,” ungkap Kyai H. Hammam Dja’far.

Langsung dipulangkan

Balai Pendidikan Pondok Pesantren Pabelan secara resmi berdiri tahun 1965. Namun sesungguhnya dalam bentuk pondok, pesantren ini telah berusia ratusan tahun. Alkisah, awalnya pondok pesantren ini didirikan oleh Kyai Raden Muhammad Ali sekitar tahun 1800.

Namun ketika perang Diponegoro pecah, sebagian besar santri turun membantu perjuangan, sehingga keadaan pesantren pun makin lama makin mundur sampai akhirnya terhenti sama sekali. Beberapa saat sebelum bala tentara Jepang mendarat, pesantren ini kembali dihidupkan oleh salah satu keturunan Kyai Muhammad Ali yaitu Kyai Anwar.

Lagi-lagi kegiatan pesantren ini sempat terhenti ketika terjadi perang gerilya disamping juga akibat masa-masa genting sebelum dan sesudah proklamasi kemerdekaan. Melihat kondisi yang memprihatinkan ini, salah seorang keturunan Kyai Anwar yang baru menyelesaikan pendidikan di pesantren Gontor (1965), Jawa Timur, yakni Kyai Muhammad Dja’far, berusaha menghidupkan lagi.

Hingga saat ini, kendati dalam kondisi kesehatan yang kurang baik, Kyai Muhammad masih saja terlibat erat dalam membina santri di pondoknya. Pada santri yang baru masuk, misalnya, diberikan pendidikan selama satu bulan yang langsung ditangani oleh sang kyai. Yang tak mempunyai kemauan kuat, bisa langsung dipulangkan.

Usai pendidikan satu bulan ini, santri dapat memilih kelas yang disediakan berdasarkan kemampuan. Ada enam jenjang pendidikan yang diberikan. Mulai dari kelas satu (setingkat satu SLTP) hingga kelas enam (setingkat kelas tiga SLTA). Setelah lulus kelas enam, santri masih diwajibkan tinggal setahun untuk membantu membina para calon santri. Sekaligus mempraktekkan hasil pelajarannya selama ini.

Selain dibimbing oleh kyai dan pembina, para santri itu pun diharuskan mampu membimbing dirinya sendiri. Untuk itu dibentuk Organisasi Pelajar Pondok (OPP) santri putri dan putra. Tugas OPP boleh dibilang lebih berat ketimbang OSIS di sekolah umum.

“Jika OSIS hanya bertanggung jawab dalam kegiatan pendidikan formal, maka OPP harus mengatur santri di pondok baik dalam pendidikan di kelas maupun di luar kelas. Pokoknya dari pergi sampai kembali tidur, kami harus tahu apa tugas mereka,” kata Datu Boyke Syeahputera, ketua OPP putera.

Agar mendapatkan kerja yang baik, para pengurus OPP ini bersidang tiap bulan untuk menganalisis hasil kerja mereka. Dalam mengurus lebih dari empat ratus santri yang ada sekarang ini, OPP membagi bidang pekerjaannya jadi sembilan bagian. Yakni bagian sekretaris, bendahara, pengajaran, kesehatan, olah raga, kesenian, infomasi, penerangan, dan keamanan.

“Bahkan kami juga memiliki tim mata-mata dari anggota santri dan penduduk desa untuk mengontrol santri yang tidak menaati kewajibannya,” ujar Edi Kuntjoro, cowok Riau yang menjadi anggota bagian keamanan.

Kewajiban santri itu antara lain, harus berbahasa Inggris atau Arab setiap hari, tak boleh meninggalkan pondok kecuali atas izin pembina, dan tidak melalaikan tugas. Setiap pelanggar tentu saja mendapatkan sanksi.

“Sanksi diberikan lewat persidangan,” jelas Dewi Mutmainah, santri asal Pekalongan yang menjadi ketua OPP puteri. “Tapi agak sulit memberi sanksi yang keras buat wanita, sebab wanita cenderung lebih perasa, mudah sekali menangis. Nggak tega kan,” tambahnya.

Menurut Sakiyah Sanusi, salah satu santri putri yang kini duduk di bangku kelas lima, ada satu sanksi yang paling ditakuti santri putri. Yakni menyapu halaman pondok pesantren putra. “Nggak hanya malu tapi citra kita sebagai santri puteri juga kan jadi turun,” tuturnya.

Seorang santri bisa saja dikeluarkan jika melakukan pelanggaran yang berat. Pelanggaran berat masuk dalam kategori P3 (Perkelahian, Pencurian, Pacaran). “Sekali saja melakukan salah satu pelanggaran P3 itu, wah ampun deh,” timpal Datul yang mengaku dulunya sempat kena sanksi digunduli.

Kendati sanksi dan tugas yang dihadapi lumayan berat, namun temyata menjalani pendidikan di pesantren memberi pengalaman yang amat berharga. Paling tidak begitulah menurut Aan Anshari, santri asal Jepara yang kini duduk di kelas tiga. “Di sini, saya bisa bergaul dengan berbagai macam santri dari seluruh daerah di Indonesia,” katanya. Bahkan Syahrum Mubarak yang awalnya sering mau kabur dari pondok, kini mengaku merasa kerasan.

“Sebab sekarang setiap pulang ke Palembang, tak hanya kawan-kawan, orang tua juga banyak yang hormat dan menjadikan saya tempat bertanya,” kata santri kelas tiga asal Palembang itu.

Itulah artikel tentang Pesantren Pabelan di Magelang, mengawali perjalanan kita menyambut Hari Santri Nasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *