Melawan Zaman: Tukang Becak Bogor Bertahan di Era Modern

Posted on



BOGOR, PasarModern.com—

Di tengah lalu lintas yang terus bergerak dan perkembangan moda transportasi yang semakin modern, keberadaan becak di Kota Bogor kian terpinggirkan. Di Pasar Kebon Kembang, barisan becak yang terparkir rapi menjadi saksi bahwa profesi ini masih dipertahankan sebagian orang, meski pendapatan tak lagi pasti dan persaingan semakin berat.

Beberapa pengayuh becak yang sudah lanjut usia tetap setia menunggu penumpang. Salah satunya Karsun (62). Dengan becak berwarna biru yang catnya mulai pudar, ia menghabiskan hari-harinya di sekitar pasar, berharap ada pelanggan yang membutuhkan jasanya. “Karena enggak ada yang lain. Kerja sudah susah. Kerja lapangan yang lain juga susah,” ujarnya ketika ditemui PasarModern.com, Jumat (7/11/2025).

Karsun telah mengayuh becak sejak era Orde Baru, merantau dari Jawa ke Bogor. Dulu, becak menjadi moda utama di kota. Kini, hadirnya ojek online, motor pribadi, dan mobil membuat becak kehilangan tempatnya. Dulu, kata Karsun, becak adalah raja jalanan. Para pedagang, ibu-ibu pasar, dan pelajar berebut naik becak setiap pagi. Namun, kini ia hanya mengandalkan ibu-ibu ke pasar atau orang tua yang sudah tak sanggup berjalan ke depan gang.

Rutenya tidak menentu. Ia bangun pagi, duduk di becaknya, lalu menunggu keberuntungan menghampiri. Namun setiap hari, peluang itu makin kecil. “Kadang sampai jam 16.00 enggak ada penumpang sama sekali. Kalau gitu, paling utang ke warung,” tutur dia.

Masa Lalu yang Penuh Perjuangan

Karsun mengingat masa-masa ketika tukang becak kerap dianggap mengganggu lalu lintas dan diperlakukan keras oleh aparat. “Pakai dodol (pentungan) itu kan, karet, dari belakang. Sampai sehari tiga kali,” kenangnya. Ia bercerita para tukang becak sering dipukuli hanya karena berebut jalur dengan angkot di sekitar pasar. Dulu dipukuli aparat. Sekarang digerus modernisasi. Hidup Karsun seakan selalu berada di persimpangan yang tidak memihak.

Pendapatan tukang becak kini tidak bisa ditebak. Hari ini bisa dapat Rp 20.000. Besok mungkin tidak ada sama sekali. “Sekarang ini baru ini (dapat penumpang). Jam 07.00 tadi baru keluar,” katanya. Padahal dulu, meski tarif kecil, ia bisa membawa pulang cukup banyak untuk makan keluarga. “Dulu walaupun tarikan murah, bisa 10 liter beras sehari, malah lebih. Karena belum ada saingan kayak ojol,” ungkap Karsun.

Tekanan dari Perkembangan Zaman

Kini, tekanan datang dari perkembangan zaman. Becak bukan lagi moda utama. Banyak yang beralih profesi atau menjual becaknya sebagai besi rongsok. Dari ribuan becak yang pernah memenuhi Bogor—Karsun menyebut jumlahnya dulu mencapai 6.000—kini hanya tersisa ratusan. “Sekarang kemarin kumpul cuma 300 (becak),” ujarnya. Bahkan di beberapa tempat, becak sudah hilang sama sekali, digantikan ojek motor dan “caktur” (becak motor).

Bertahan Meski Pendapatan Tak Menentu

Karsun bertahan dengan becak miliknya. Itu pun ia beli bekas seharga Rp 1,2 juta. Pendapatan pengayuh becak sangat bergantung pada keberuntungan dan kondisi pasar. “Sekarang ini baru ini (dapat penumpang). Jam 7 tadi baru keluar,” kata Karsun. Jika dulu ia bisa membawa pulang cukup untuk membeli beras, kini ia kerap harus berutang terlebih dulu. Istrinya bekerja sebagai asisten rumah tangga dengan gaji sekitar Rp 1 juta per bulan. “Kalau saya enggak dapet uang, ya utang dulu. Nanti pas gajian ada, walaupun (istri) dikit gajinya Rp1.000.000. Alhamdulillah,” ujar dia.

Meski menyadari becak kian tergerus zaman, ia enggan berhenti. “Memang becak udah ketinggalan zaman. Tapi tetap bertahan kalau masih ada tenaga,” katanya. Karsun tahu zaman berubah. Ia tahu pesaingnya bukan hanya antar-becak, tapi juga melawan teknologi. Namun tubuhnya yang renta masih memilih jalan yang sama setiap hari, menjaga becaknya tetap bergerak. “Bukannya ngeluh ya. Ya begini kerjaannya,” tuturnya.

Keberadaan Becak Masih Dibutuhkan

Sebagian warga Bogor masih mengandalkan becak, terutama di pasar dan permukiman padat. “Kalau ke pasar pasti saya naik becak. Soalnya kalau jalan kaki berat banget bawa sayur,” kata Asri (56), pengguna becak langganan. Menurut dia, becak praktis, mudah dipanggil, dan bisa masuk gang sempit—keunggulan yang tidak dimiliki kendaraan lain. Selain itu, kata dia, pengemudi becak biasanya membantu mengangkat barang belanjaannya yang berat.

Ikatan antara Asri dan pengemudi becak langganannya juga tercipta karena kedekatan yang sudah terjalin bertahun-tahun. “Abang becaknya sudah langganan saya sejak lama. Kalau saya bawa barang berat, dia bantu angkat juga,” kata Asri. Menurut Asri, ada beberapa kelebihan becak yang membuatnya tetap relevan, terutama di wilayah perkampungan dan akses menuju pasar.

Potensi Becak sebagai Wisata

Warga lain seperti Isan (25) melihat potensi becak sebagai moda wisata tradisional. Ia menilai bahwa becak masih relevan bila dikelola dengan cara yang tepat. “Lebih cocok untuk kawasan wisata dan perkampungan. Di area kayak itu, justru becak punya fungsi yang nggak bisa diganti transportasi lain,” katanya. Isan melihat potensi becak sebagai daya tarik wisata yang menawarkan pengalaman lebih santai dan bernuansa tradisional.

Menurut dia, penataan zonasi dapat menjadi solusi agar becak tetap hidup tanpa mengganggu lalu lintas. Ia juga mendukung pembatasan becak di jalan utama demi menjaga kelancaran lalu lintas. “Menurut saya tinggal ditata saja. Buat zona wisata dan perkampungan di mana becak boleh beroperasi. Jadi ada batasan yang jelas, tapi keberadaan mereka tetap terjaga,” ujar Isan.

Pandangan Pengamat Transportasi

Pengamat transportasi Djoko Setijowarno turut menilai peran becak telah bergeser. Becak tidak lagi menjadi angkutan utama, melainkan transportasi pendukung jarak pendek. Djoko menyebutkan, kondisi fisik para pengayuh becak saat ini menjadi salah satu alasan mengapa becak tak lagi realistis dipertahankan sebagai moda transportasi harian di perkotaan. “Sekarang tukang becak itu rata-rata usianya sudah di atas 60 tahun. Jadi saya kira, becak-becak itu sekarang untuk wisata saja,” kata Djoko.

Menurut Djoko, peran becak sebagai alat transportasi umum sudah jauh bergeser dibandingkan satu hingga dua dekade lalu. Kini, becak lebih tepat ditempatkan pada zona terbatas seperti kawasan wisata, ruang publik, atau perumahan-perumahan yang jalannya sempit dan tidak dapat dijangkau kendaraan bermotor. Ia juga menekankan bahwa fungsi becak saat ini pada dasarnya telah berubah menjadi moda “feeder” atau penghubung jarak pendek. “Jadi bisa dibilang peran becak saat ini sebagai transportasi hanya untuk di daerah-daerah wisata atau di perumahan sebagai feeder,” kata Djoko.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *