MBS: Politik Ganda Saudi, Ajak Solidaritas Muslim Sementara Ingin AS Serang Iran

Posted on

Peringatan Menteri Pertahanan Arab Saudi terhadap Iran

Pada Jumat (30/1/2026), seorang pejabat tinggi Arab Saudi, yaitu Menteri Pertahanan Pangeran Khalid bin Salman (KBS), memberikan peringatan bahwa Iran akan semakin kuat jika Presiden AS Donald Trump tidak mengambil tindakan terkait ancaman serangannya. Pernyataan ini disampaikan dalam pengarahan tertutup di Washington, yang terjadi di tengah meningkatnya ketegangan kawasan. KBS, yang merupakan orang kepercayaan Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS), menyampaikan peringatan tersebut dalam pertemuan dengan para pejabat AS.

Perbedaan pendapat ini menunjukkan bahwa sikap pihak kerajaan sebelumnya yang menekankan kehati-hatian dan memperingatkan bahaya eskalasi konflik dengan Iran berubah. Tiga minggu sebelumnya, MBS dikabarkan telah meminta Trump untuk menghindari aksi militer karena risiko konflik yang lebih luas. Peringatan ini disebut-sebut turut memengaruhi Trump untuk menunda serangan.

Kunjungan KBS ke Washington

KBS melakukan kunjungan ke Washington saat AS meningkatkan kekuatan militernya di kawasan Teluk. Meskipun Trump memerintahkan penambahan pasukan AS, para pejabat Gedung Putih menyatakan bahwa belum ada keputusan resmi dan diplomasi tetap menjadi opsi utama. Dalam pertemuan di Gedung Putih pada Kamis (26/1/2026), KBS bertemu dengan sejumlah pejabat senior AS, termasuk Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, serta utusan Gedung Putih Steve Witkoff.

Pembahasan utama dalam pertemuan tersebut difokuskan pada kemungkinan serangan AS terhadap Iran. Namun, KBS meninggalkan pertemuan itu tanpa kejelasan mengenai strategi atau niat pemerintahan Trump. Dalam pengarahan tertutup lain dengan pakar dan perwakilan organisasi Yahudi, Menhan Saudi itu disebut telah mengatakan bahwa kegagalan bertindak secara militer setelah ancaman dikeluarkan selama berminggu-minggu akan memicu keberanian Iran.

Sikap Kerajaan Arab Saudi

Tindak-tanduk KBS di Washington seperti dilaporkan Axios jelas berbeda dengan sikap secara terbuka Arab Saudi yang menegaskan penghormatan terhadap kedaulatan Iran dan preferensi pada solusi diplomatik. Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman sebelumnya mengatakan, kerajaan tidak akan mengizinkan wilayah udaranya atau wilayah teritorialnya digunakan untuk aksi militer apa pun terhadap Iran.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam percakapan telepon antara putra mahkota, yang juga menjabat sebagai perdana menteri, dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Bin Salman menegaskan bahwa Kerajaan menghormati kedaulatan Republik Islam Iran, seraya menekankan bahwa Arab Saudi “tidak akan mengizinkan penggunaan wilayah udaranya atau wilayah teritorialnya digunakan dalam aksi militer apa pun terhadap Iran oleh pihak mana pun, terlepas dari tujuannya.”

Ia juga menegaskan kembali dukungan Arab Saudi untuk menyelesaikan perselisihan melalui dialog dengan cara yang meningkatkan keamanan dan stabilitas di kawasan tersebut.

Peran Presiden Iran

Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan apresiasi atas dukungan negara-negara Islam untuk Iran di tengah kekhawatiran akan kemungkinan serangan AS terhadap Teheran. Ia menekankan pentingnya persatuan di antara negara-negara Muslim. “Saya sepenuh hati percaya bahwa umat Islam dan negara-negara Islam adalah saudara, dan saya sangat yakin bahwa bersama-sama dan melalui kerja sama, kita dapat membangun kawasan yang aman, maju, dan berkembang bagi rakyat,” katanya.

Pezeshkian juga menekankan bahwa Iran tetap siap “untuk menyambut setiap proses yang mengarah pada perdamaian, ketenangan, dan penghindaran konflik dan perang, dalam kerangka hukum internasional dan sambil sepenuhnya menjaga dan menghormati hak-hak bangsa dan negara.”

Perspektif Strategis tentang Iran

Menurut analisis dari pakar hubungan internasional Universitas Padjadjaran, Teuku Rezasyah, Iran memiliki beberapa faktor yang membuatnya sulit untuk diusik atau dihancurkan oleh militer negara mana pun, termasuk oleh AS. Faktor-faktor ini mencakup:

  • Sejarah dan kesadaran historis: Iran merupakan salah satu pusat peradaban awal, seperti halnya China, India, dan Romawi. Kesadaran historis ini menumbuhkan semangat besar untuk menjaga marwah bangsa, baik di kalangan pemerintah maupun masyarakat.
  • Kepemimpinan yang dihormati: Kepemimpinan Iran relatif dihormati dan dicintai oleh masyarakatnya karena dianggap menunjukkan keteladanan ideologis serta berupaya memenuhi kebutuhan dasar rakyat dalam kerangka kemandirian nasional dan perlawanan terhadap dominasi asing.
  • Kekuatan militer mandiri: Iran memiliki kekuatan militer yang mandiri dan autentik, dengan teknologi pertahanan yang dikembangkan di dalam negeri tanpa ketergantungan signifikan pada pihak luar.
  • Kemampuan intelijen yang kuat: Iran memiliki kemampuan intelijen yang kuat dalam mendeteksi, menyisir, dan menindak jaringan lawan, baik di dalam maupun di luar negeri dan ketegasan dalam menghukum agen dan simpatisan asing menjadi faktor pencegah signifikan.

Dengan faktor-faktor ini, Iran tidak mudah digoyahkan apalagi dihancurkan. Oleh karena itu, skenario konflik terbuka yang melibatkan Iran berpotensi membawa dampak besar terhadap kawasan Timur Tengah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *