Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di Kuartal III/2025
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III/2025 tercatat sebesar 5,04% secara tahunan (year on year/YoY). Angka ini berada di atas ekspektasi pasar meskipun masih menyisakan beberapa catatan, termasuk indikasi penurunan daya beli dan dampak terbatas terhadap pasar tenaga kerja.
Konsumsi rumah tangga, yang menjadi komponen utama dalam pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB), mengalami penurunan pertumbuhan. BPS mencatat bahwa pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada kuartal III/2025 sebesar 4,89% YoY, angka terendah sejak 2012 atau 14 tahun lalu, kecuali selama masa pandemi Covid-19.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Moh. Edy Mahmud menjelaskan bahwa semua komponen pengeluaran mengalami pertumbuhan positif, dengan konsumsi rumah tangga memberikan kontribusi terbesar terhadap PDB sebesar 53,14%. Meski demikian, pertumbuhan tersebut lebih rendah dibandingkan periode kuartal III sebelumnya.
PDB Indonesia pada kuartal III/2025 mencapai Rp6.060 triliun (harga berlaku) dan Rp3.444,8 triliun (harga konstan). Pertumbuhan ini lebih tinggi dari 4,95% YoY pada kuartal III 2024, namun melambat dibandingkan 5,12% pada kuartal II/2025.
Kontribusi Sektor Manufaktur
Sektor manufaktur tetap menjadi kontributor utama pertumbuhan ekonomi. Pada kuartal III/2025, sektor ini tumbuh sebesar 5,54% YoY, didorong oleh permintaan domestik dan luar negeri. Industri makanan dan minuman menunjukkan pertumbuhan terbesar, yaitu 6,49%, terutama karena peningkatan produksi CPO dan turunannya.
Kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB sebesar 19,15%, meningkat dibandingkan kuartal III 2024 (19,02%) dan kuartal III 2023 (18,75%). Dibandingkan dengan sektor lain seperti pertanian (14,35%), perdagangan (13,19%), dan konstruksi (9,82%), kontribusi manufaktur masih dominan.
Stimulus Pemerintah untuk Mendorong Pertumbuhan
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto optimis pertumbuhan ekonomi akan pulih pada kuartal IV/2025. Pemerintah akan menggelontorkan stimulus untuk mendukung perekonomian. Ia menyebutkan bahwa Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada September 2025 berada di level 115, meskipun itu merupakan level terendah dalam 3,5 tahun terakhir.
Selain itu, Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur naik ke 51,2 pada Oktober 2025, serta inflasi dan investasi di emas dan perhiasan meningkat. Dengan efek stimulus yang dirasakan, Airlangga memperkirakan target pertumbuhan ekonomi 5,2% bisa tercapai.
Kondisi Pasar Tenaga Kerja
Berdasarkan data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2025, jumlah penduduk usia kerja mencapai 218,17 juta orang, meningkat 2,8 juta orang dari Agustus 2024. Jumlah angkatan kerja sebanyak 154 juta orang, dengan 64,17 juta orang bukan angkatan kerja.
Jumlah pekerja penuh (full-time) pada Agustus 2025 sebesar 67,32% atau 98,65 juta orang, turun dari 68,08% pada Agustus 2024. Data BPS juga mencatat jumlah PHK sekitar 58.000 orang atau 0,77% dari total pengangguran 7,46 juta orang.
Tadjuddin Noer Effendi, pengamat ketenagakerjaan dari UGM, menyatakan bahwa penurunan jumlah pekerja penuh mencerminkan tren PHK yang terjadi. Banyak orang beralih ke sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan. Kebijakan fiskal yang dijalankan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa belum berdampak signifikan terhadap angkatan kerja.
Dengan pertumbuhan ekonomi kuartal III/2025 sebesar 5,04% YoY, Tadjuddin menyimpulkan bahwa perubahan terhadap angkatan kerja masih rendah. PHK masih terjadi, dan penyerapan tenaga kerja relatif rendah.


