Marcello Tahitoe Puji Aurelie Moeremans: Sangat Berharga Apresiasinya

Posted on

Marcello Tahitoe atau Ello Beri Ucapan Selamat untuk Buku Aurelie Moeremans

Marcello Tahitoe, yang akrab disapa Ello, akhirnya angkat bicara mengenai buku Broken Strings yang ditulis oleh Aurelie Moeremans. Buku ini menjadi perbincangan hangat setelah versi Bahasa Indonesia-nya resmi dirilis. Ello, yang pernah menjalin hubungan asmara dengan Aurelie, memberikan respons singkat namun penuh makna terkait popularitas karya literasi tersebut.

Ditemui usai tampil di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Ello memilih untuk tidak membahas secara mendalam isi buku tersebut. Ia hanya menyampaikan ucapan selamat atas rilis karya Aurelie dan menegaskan bahwa ia ingin segera pulang untuk berkumpul bersama keluarganya.

“Oke habis ini gua harus cabut ya. Tipis tapi padat,” ujar Ello sambil tersenyum. Ia juga menambahkan, “Oke, saya cuma mau bilang selamat atas rilis karya literasinya. Luar biasa diterima apresiasinya.”

Ello tampaknya lebih memilih fokus pada apresiasi terhadap karya Aurelie daripada membahas detail kontroversial dalam buku tersebut. Salah satu isu yang muncul adalah kisah sensitif tentang pengalaman child grooming yang dialami Aurelie sejak usia 15 tahun. Dalam buku tersebut, ia juga menyebutkan kisah asmara setelah lepas dari sosok Bobby, yang diduga merujuk pada hubungannya dengan Ello.

Aurelie dan Ello diketahui pernah menjalin hubungan cinta selama hampir empat tahun, sebelum akhirnya berpisah pada 2015. Meskipun kisah cinta mereka telah berakhir, Ello tetap memberikan dukungan kepada mantan kekasihnya melalui pernyataannya.

Isu Child Grooming Menyebar ke Ranah Politik

Keberanian Aurelie Moeremans dalam mengungkap pengalaman masa lalunya melalui buku Broken Strings kini memicu gelombang besar di ranah kebijakan publik. Tidak lagi sekadar viral di media sosial, isu sensitif mengenai child grooming ini resmi meledak dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) di Senayan, Kamis (15/1/2026).

Adalah Rieke Diah Pitaloka, anggota Komisi XIII DPR RI, yang dengan lantang menyuarakan keresahan publik di hadapan Komnas Perempuan dan Komnas HAM. Ia tampak emosional saat mengulas bahaya predator anak yang selama ini bersembunyi di balik kedok kedekatan emosional.

“Saya ingin menyampaikan, kasus yang sedang ramai di media sosial adalah child grooming. Ini adalah sesuatu yang tabu untuk Indonesia selama ini. Tapi ada seorang perempuan bernama Aurelie Moeremans yang mengeluarkan buku e-book secara gratis yang berjudul Broken Strings Fragments of a Stolen Youth bagaimana masa mudanya dihancurkan, bukan hanya dirampas,” ungkap Rieke di tengah persidangan.

Kritik Tajam untuk Lembaga Negara

Dengan nada bicara yang meninggi, Rieke mempertanyakan sikap diam lembaga negara terhadap fenomena ini. Baginya, child grooming bukan sekadar masalah asmara biasa, melainkan modus operandi kejahatan sistematis.

“Inilah memoar yang terindikasi kisah hidup yang nyata. Dan ini bisa terjadi pada siapa saja, juga kepada anak-anak kita, ketika negara diam, kita yang ada di dalam posisi harusnya bersuara, memberikan introspeksi kita diam, saya belum dengar ada suara dari Komnas HAM dan Komnas Perempuan secara utuh, secara serius kepada kasus ini,” tegas Rieke.

Ia menjelaskan bahwa pelaku atau groomer biasanya membangun kepercayaan dalam waktu lama untuk mengeksploitasi korban secara seksual. “Child grooming ini bukan tindak pidana yang berdiri sendiri melainkan modus operandi, prosesnya sistematis, ketika pelaku atau groomer membangun kedekatan emosional kepercayaan dan ketergantungan pada anak atau remaja. Tujuan akhir adalah kekerasan atau eksploitasi seksual,” tambahnya.

Sentilan Pedas untuk Terduga Pelaku

Rieke juga menyoroti adanya upaya pembelaan diri dari terduga pelaku yang justru mengarah pada normalisasi kekerasan. Ia bahkan menyinggung adanya intimidasi terhadap rekan artis lain, seperti Hesti Purwadinata, yang ikut menyuarakan dukungan bagi Aurelie.

Bahkan, Rieke tidak ragu untuk mengusulkan pemanggilan sosok yang diduga sebagai pelaku, yakni Roby Tremonti, untuk dimintai keterangan dalam rapat DPR. “Bisa ada hukuman berlapis. Yang terindikasi pelaku itu berkoar-koar, kalau perlu komnas perempuan pangil dong. Atau kalau boleh dipanggil ke sini. Karena menurut saya dia campaign soal child grooming kalau seperti ini caranya, normalisasi kekerasan seksual atas nama pernikahan berbasis keyakinan agama,” ujar Rieke tajam.

Di akhir pernyataannya, Rieke memberikan peringatan keras bagi siapa pun yang melakukan praktik serupa di luar sana. “Pelaku di luar sana, enggak bisa anteng-anteng ya,” pungkasnya.

Respons Haru Aurelie Moeremans

Mendengar perjuangannya mendapat panggung di level tertinggi legislatif, Aurelie Moeremans tak mampu menyembunyikan rasa syukurnya. Melalui pesan singkat, ia menyampaikan apresiasinya kepada Rieke karena telah membantu memastikan isu ini tidak lagi disepelekan.

“Terima kasih,” tulis Aurelie singkat namun penuh makna.

Kini, bola panas ada di tangan pemerintah dan lembaga terkait untuk memastikan bahwa Broken Strings berikutnya tidak akan pernah ada lagi di bumi Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *