Manusia, Makhluk Tercepat di Alam Semesta

Posted on



Pada suatu pagi yang biasa saja, ketika matahari mulai naik dan burung-burung masih sibuk menghirup udara segar, sekelompok manusia di sebuah perumahan subsidi sudah memulai rutinitas tergesa-gesanya. Alarm-alarm mereka berbunyi keras demi membangunkan mata yang masih enggan untuk bangun dan lepas dari pelukan bantal serta guling. Tanpa memberi banyak pilihan atau waktu untuk bernegosiasi dengan diri sendiri, tubuh-tubuh lemah itu diseret paksa menuju rutinitas harian.

Sementara itu, di luar jendela, seekor kucing komplek masih santai menggeliat dan menguap panjang. Seekor burung gereja kecil hinggap di pagar taman, mengawali hari tanpa rencana lima langkah ke depan. Bahkan semut, makhluk kecil yang konon paling rajin, bekerja dalam ritme yang tidak pernah memburu dirinya sendiri.

Pagi itu rasanya semua makhluk hidup di alam berjalan dengan ketenangan naluriahnya masing-masing. Hanya manusia yang merasa harus mempercepat segalanya, seolah kehidupan adalah perlombaan dan ada wasit-wasit tak kasat mata yang sedang mencatat waktu-waktu mereka.

Kebiasaan terburu-buru itu seharusnya bukan bagian dari tindakan biologis manusia, melainkan warisan panjang dari budaya yang dibangun sedikit demi sedikit, sejak dahulu, lama sekali.

Kita dibesarkan dalam lingkungan yang terus mengatakan bahwa dia yang bergerak lebih cepat akan terus menang, sedangkan yang bergerak lamban akan terus tertinggal. Warisan itu merasuk ke dalam setiap aspek kehidupan: aktivitas di sekolah, pekerjaan, dan hubungan, bahkan juga pada cara kita memandang diri kita sendiri.

Akhirnya, budaya terburu-buru berubah dari yang tadinya hanya sebuah kebiasaan menjadi sebuah identitas yang lekat, sesuatu yang kita jalani begitu lama sampai-sampai kita sendiri lupa kapan terakhir kali hidup boleh berjalan dengan agak pelan.

Pada titik ini, lahir sebuah paradoks sekaligus ironi terbesar pada kehidupan umat manusia: kita ingin hidup lebih panjang, tapi menjalani segalanya dengan cara yang kita rasa paling memendekkan.

Bernafas cepat, makan cepat, berjalan cepat, berpikir pun dituntut untuk selalu cepat. Bahkan merasakan pun harus dilakukan dengan cepat. Seolah sedih, marah, dan kecewa harus segera dibereskan segera, agar tidak mengganggu produktivitas di masa depan.

Padahal hakikat kehidupan sebenarnya tidak pernah menuntut akan kecepatan. Alam tidak pernah mengenal istilah “deadline”. Alam justru bergerak dengan ritme yang sudah mapan, sejak sebelum manusia pertama dilahirkan.

Kesibukan yang Memperpendek Diri

Beberapa orang merasa bangga ketika bisa mengatakan, “Aku sibuk sekali akhir-akhir ini.” Mereka menyebutnya sebagai sebuah pencapaian, seakan kesibukan adalah medali yang membuktikan bahwa hidup mereka berjalan ke arah yang benar. Namun kalau kita amati lebih dekat, kesibukan sering kali hanyalah bentuk lain dari kehilangan kendali akan kehidupan yang sebenarnya. Orang yang terlalu sibuk kadang tidak benar-benar tahu apa yang sedang mereka kejar, mereka hanya takut berhenti karena khawatir akan menemukan kekosongan dalam jeda itu.

Berbeda halnya dengan pepohonan yang hanya tumbuh mengikuti musim, manusia harus membangun berbagai tujuan yang terus diperbarui. Seringkali kita menamainya dengan kata “resolusi” atau “target hidup”.

Bila satu target tercapai, maka target baru muncul dengan cepat mengisi kekosongan posisi target kita. Kita mendapat kenaikan jabatan di pekerjaan? Baik, lalu apa lagi? Finansial kita mulai stabil? Oke, lalu mau beli apa lagi? Masalah selesai? Bagus, sekarang cari masalah baru yang lebih besar agar hidup terasa penuh tantangan. Manusia dengan senang hati melompat dari satu kecemasan ke kecemasan lainnya, seolah seperti ketenangan adalah barang yang terlalu murah untuk dimiliki dan itu tidaklah berharga lagi.

Saat berhadapan dengan alam, pola ini semakin jelas. Manusia ingin memaksa tanaman tumbuh lebih cepat, ingin perjalanan ditempuh lebih singkat, ingin hasil datang lebih cepat. Kita lupa bahwa tidak semua yang melambat berarti mundur. Ada banyak hal yang memang membutuhkan waktu untuk bisa ‘matang’.

Kesibukan membuat kita merasa penting, tapi tidak selalu membuat kita merasa hidup. Dan ketika hidup terasa seperti daftar tugas tak berkesudahan, kita pun akhirnya terjebak dalam perasaan bahwa waktu yang kita punya tidak pernah cukup. Padahal jika kita mau lebih cermat melihat, yang kurang bukanlah waktunya, melainkan keberanian untuk memilih berhenti barang sejenak.

Waktu yang Terasa Selalu Mengejar Kita

Konsep waktu dalam hidup manusia (utamanya manusia jaman sekarang), sebenarnya lebih mirip sistem ekonomi ketimbang sistem alam. Kita membaginya, menukarnya, memaksimalkannya, menghitung investasinya, dan khawatir bila waktu terbuang secara “tidak produktif”. Akibatnya, waktu berubah menjadi sesuatu yang menakutkan, ia bak musuh yang selalu selangkah di depan kita.

Namun jika kita melihat kehidupan makhluk lain, rasanya waktu bukanlah sebuah ancaman bagi mereka. Seekor kura-kura tidak pernah merasa terlambat meski jalannya pelan. Seekor ikan tidak pernah terlihat panik ketika arus sungai berubah, ia hanya mengikuti arah arus yang baru. Tidak ada satupun makhluk di hutan yang mengeluh tentang quarter life crisis.

Manusia saja yang merasa hidupnya punya sebuah tenggat. Menikah harus di usia tertentu, sukses harus sebelum kepala tiga, memiliki rumah harus sebelum berkeluarga, memiliki keluarga harus sebelum dianggap gagal secara sosial. Semuanya dibuat dan diburui dengan standar kalender yang entah siapa yang pertama kali menetapkannya.

Dan celakanya, manusia semakin terjebak dalam logika waktu yang brutal ini. Teknologi membuat segalanya jadi lebih cepat lagi. Makanan-makanan instan, kiriman paket kilat, hiburan sekali geser, informasi sekali sentuh.

Kita seringkali lupa, bahwa semakin cepat dunia bergerak, semakin pelan pula rasanya langkah kita sendiri. Dan pada akhirnya, makna kecepatan yang awalnya untuk mempermudah hidup malah membuat kita semakin sulit merasa cukup.

Manusia menjadi makhluk yang tidak hanya terburu-buru, tetapi juga takut terlambat pada hidup yang bahkan tidak mereka pahami sepenuhnya.

Sosial Media dan Ilusi Kecepatan

Dulu manusia terburu-buru karena harus melindungi dirinya dari serangan hewan-hewan buas. Tapi sekarang, manusia terburu-buru karena takut tidak terlihat. Sosial media mengubah cara manusia memaknai waktu. Batas antar-momen semakin tipis, semuanya serba instan. Kita melihat kehidupan orang lain bergulir cepat, dan kita merasa harus ikut. Ada ketakutan tersendiri saat melihat teman-teman bergerak maju: yang satu menikah, yang lain punya pekerjaan baru, yang lain lagi punya pencapaian. Padahal kita tidak pernah benar-benar tahu apakah pencapaian itu benar atau hanya kemasan.

Dunia maya seolah mempercepat segalanya, termasuk perasaan iri, cemas, dan tekanan sosial. Kita menelan semuanya begitu cepat, sampai kadang lupa bertanya: apakah ini benar-benar penting untukku?

Namun manusia modern cenderung lebih takut berdiam diri daripada salah mengambil arah. Ketika berhenti, muncul rasa kosong yang tidak lagi nyaman. Maka dunia digital membantu mengisi kekosongan itu dengan berbagai hal yang bisa dikonsumsi cepat: video-video pendek, opini panas tanpa data yang jelas, berita cepat yang terindikasi hoax, hiburan-hiburan instan lainnya. Hidup serasa selalu bergerak, padahal yang bergerak hanyalah jari jemari.

Kita lupa bahwa ada banyak hal yang tidak mungkin dipahami secara cepat. Kepercayaan butuh waktu. Hubungan butuh waktu. Pengetahuan butuh waktu. Kedewasaan butuh waktu. Tidak ada versi cepat dari proses penting itu.

Kalau dunia terus memaksa kita bergegas, barangkali kita perlu membuat batasan sendiri. Sebab kalau tidak, kita akan menjadi makhluk yang bergerak terus tanpa tujuan; seperti kipas angin yang terus berputar tapi tetap berada di tempat yang sama.

Kompetisi Tanpa Pemenang

Salah satu alasan manusia selalu buru-buru adalah karena hidup diperlakukan seperti selayaknya sebuah kompetisi yang besar. Jarang sekali manusia bergerak karena keinginan pribadi; lebih sering karena ingin membuktikan sesuatu kepada ‘penonton’ yang bahkan mungkin tidak peduli juga.

Perlombaan hidup ini tidak pernah jelas mulai dari mana, dan lebih tidak jelas lagi kapan harus berhenti. Ada seseorang yang mendapat pekerjaan bagus, tapi kemudian ingin jabatan yang lebih tinggi. Yang memiliki penghasilan stabil, ingin penghasilan pasif. Yang hidupnya tenang-tenang saja, ingin terlihat lebih hebat. Yang hidupnya sulit ingin terlihat lebih kuat. Tidak ada yang ingin dianggap lambat, meski sebenarnya langkah pelan sering kali justru lebih selaras dengan apa yang kita butuhkan.

Yang membuat perlombaan ini menjadi semakin rumit adalah kenyataan bahwa semua orang sebenarnya sama-sama lelah, tetapi tidak ada yang mau mengaku. Dunia penuh dengan orang-orang yang berusaha terlihat kuat sambil menyembunyikan kenyataan bahwa mereka sejatinya sedang kehabisan napas. Akhirnya, semua terus berlari karena takut menjadi satu-satunya yang berhenti di lintasan lomba lari marathon ini.

Padahal kalau semua mau mencoba untuk berhenti saja sejenak, mereka mungkin akan menyadari bahwa tidak ada yang mengejar siapapun, tidak pernah ada yang tahu dimana posisi garis finishnya, bahkan tidak pernah ada medali kemenangan. Tidak ada yang namanya pemenang. Yang ada hanya perjalanan panjang yang seharusnya bisa dinikmati, bukan dikejar seperti target bulanan.

Saat Alam Mengingatkan Kita Cara Hidup yang Benar

Anehnya, di tengah semua percepatan itu, alam tetap setia menjadi guru yang sabar. Setiap musim, setiap perubahan cuaca, setiap pergantian hari, semuanya memberi pesan yang sama: hidup tidak perlu terburu-buru.

Ketika hujan turun, itu adalah cara alam menyuruh semua yang hidup di bawahnya untuk memperlambat gerak. Ketika malam tiba, itu adalah cara alam mematikan sejenak sebagian rutinitas kehidupan, agar semua bisa memulihkan diri. Bahkan badai sekalipun punya ritmenya sendiri; datang, meluapkan energi, lalu menghilang.

Manusia adalah satu-satunya makhluk di bumi yang menolak jeda ini. Kita seringkali tetap memaksakan untuk bekerja padahal saat itu tubuh meminta ‘jatahnya’ istirahat. Kita tetap memaksa untuk online di internet, padahal pikiran meminta tenang. Saat ini jeda dianggap sebagai sebuah kemewahan, padahal seharusnya menjadi kebutuhan dasar.

Jika manusia mau meminjam sedikit kebijaksanaan alam, hidup akan terasa jauh lebih ringan. Kita bisa belajar dari laut yang tidak pernah terburu-buru mencapai bibir pantai, dari awan yang bergerak pelan, dari pepohonan yang tidak pernah gelisah meski butuh bertahun-tahun untuk tumbuh.

Alam, pada dasarnya tidak pernah meminta manusia untuk hidup dengan sangat lambat. Alam hanya ingin manusia hidup sesuai ritmenya sendiri; bukan ritme dunia yang terlalu bising.

Seni Melambat

Di titik ini, harusnya kita sudah semakin sadar, bahwa yang kita semua butuhkan bukanlah penambahan kecepatan, melainkan tambahan akan keheningan. Bukan menambah target, melainkan mengurangi kecemasan. Bukan mempercepat langkah, melainkan memperdalam rasa hadir.

Seni melambat bukan ajakan untuk hidup malas-malasan. Bukan pula alasan untuk berhenti mengejar mimpi. Seni melambat adalah keberanian memilih ritme yang tidak memaksa kita kehilangan diri sendiri.

Manusia terlalu sering mengejar kehidupan yang layak, sampai-sampai kita lupa menjalaninya. Ada saat-saat ketika kita perlu berjalan pelan agar bisa melihat pemandangan, mendengar suara hati, atau sekadar merasakan bahwa kita benar-benar ada, bukan sekadar berfungsi.

Melambat sejenak adalah cara kita mengembalikan dan mengatur lagi kendali. Cara kita mengatakan pada diri sendiri bahwa hidup bukan perlombaan dan tidak ada yang harus dikejar sampai berdarah-darah. Melambat sejenak memberi kita ruang untuk bertanya ulang: Mengapa aku melakukan ini? Untuk siapa aku melakukan segalanya? Dan apakah aku bahagia dengan segalanya yang aku punya?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu sering tenggelam dalam kecepatan. Padahal jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuat hidup terasa utuh.

Penutup

Pada akhirnya, suka tidak suka, kita harus mengakui bahwa manusia memang makhluk paling tergesa-gesa di alam semesta. Tapi manusia juga makhluk paling yang paling adaptif. Ketergesaan bukanlah takdir, hanya kebiasaan yang bisa diubah bila manusia mau berhenti sejenak dan melihat ke dalam diri sendiri.

Dan mungkin, di antara detik yang terus berlari, manusia perlu mengingat satu hal sederhana: hidup bukan tentang seberapa cepat kita menggapai sesuatu, tapi seberapa ‘hadir’ kita dalam perjalanan menuju ke sana.

Karena pada akhirnya, tidak ada gunanya jadi yang tiba paling cepat, jika sepanjang jalan kita tidak sempat melihat apa-apa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *