PasarModern.com.CO.ID – JAKARTA
Dalam rangka mencapai target setoran dividen di tahun 2025, emiten yang berada di bawah naungan Danantara diproyeksikan meningkatkan rasio pembayaran dividen. Target tersebut diperkirakan akan mencapai Rp 140 triliun, naik dari target sebelumnya sebesar Rp 85 triliun pada tahun 2024.
CEO Danantara Rosan Roeslani menyatakan bahwa perusahaan menargetkan untuk mengumpulkan dan menginvestasikan dana hingga US$ 40 miliar dalam lima tahun ke depan. Dana tersebut akan berasal dari modal ekuitas tanpa menggunakan leverage. Dengan penggunaan leverage empat atau lima kali, jumlah dana yang bisa diinvestasikan mencapai sekitar US$ 250 miliar.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga menyampaikan bahwa Danantara telah memegang dividen BUMN untuk tahun 2025 sebesar Rp 90 triliun. Selain itu, Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara atau Danantara berencana menyalurkan dana hasil dividen BUMN ke pasar modal, dengan sekitar Rp 16 triliun yang akan masuk ke sejumlah saham.
Beberapa emiten pelat merah telah menetapkan target pembagian dividen untuk buku tahun 2025. Contohnya, PT Jasa Marga Tbk (JSMR) yang berniat mempertahankan dividend payout ratio (DPR) sebesar 25% dari laba inti alias core profit. JSMR membagikan dividen sebesar Rp 1,13 triliun dari buku tahun 2024, yang setara dengan 25% dari laba bersih. Dividen per saham yang diperoleh pemegang saham JSMR adalah sebesar Rp 156,23 per saham, meningkat 312,61% dibandingkan periode lalu sebesar Rp 37,86.
Community and Retail Equity Analyst Lead PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Angga Septianus melihat bahwa kenaikan target dan kebutuhan dari dividen emiten Danantara dapat meningkatkan DPR mereka. Namun, DPR bisa tetap stabil jika laba per saham dan kinerja emiten meningkat. “Kebijakan dividen sudah diperhitungkan baik-baik tanpa membebani operasional perusahaan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Riset Praus Capital Marolop Alfred Nainggolan melihat bahwa jalan terbaik untuk mencapai target tersebut adalah dengan meningkatkan raihan laba emiten BUMN atau memperbaiki emiten BUMN yang semula rugi menjadi untung. Namun, performa laba BUMN hingga semester I kemarin mengalami penurunan dibandingkan tahun lalu.
“Untuk menutupi target wajib setoran dividen, tentu akan berasal dari peningkatan rasio DPR masing-masing emiten,” ujarnya. Jika Danantara memilih menaikkan DPR, SWF ini masih akan mengandalkan BUMN sektor perbankan karena dampak kenaikan DPR BUMN perbankan bisa tereliminasi dengan kebijakan penempatan dana pemerintah sebesar Rp 200 triliun di empat bank Himbara.
Selain itu, beberapa emiten bank pelat merah berpotensi menaikkan DPR untuk buku tahun 2025. BBRI meningkat dari 80% menjadi 86%, BMRI menargetkan DPR sekitar 60%–70%, BBNI berencana menaikkan DPR dari 50% menjadi 60%–65%. Sementara, BRIS dan BBTN kemungkinan tetap konservatif.
Meskipun ada kenaikan DPR, hal itu tidak memberatkan kinerja emiten perbankan pelat merah karena ROE perbankan BUMN masih tinggi. Contohnya, ROE BBRI ada di kisaran 19,9% dan BRIS di 18,2%. Cost of fund (CoF) emiten perbankan juga turun setelah penempatan dana pemerintah. BBRI membayar COF sebesar 86% dari laba 2024, BBNI 65%, dan BMRI sekitar 60%.
Alfred melihat, BUMN perbankan memiliki DPR yang tinggi, mulai dari 25% hingga 85%, dan disertai dengan perolehan laba yang relatif stabil. Setelah itu, BUMN pertambangan seperti ANTM dan PTBA juga punya DPR yang menarik. Lalu, diikuti PGAS dan TLKM.
Namun, untuk melihat keuntungan bagi pemegang saham akan dilihat dari besaran dividen yield yang diterima. “Meskipun emiten memiliki DPR yang tinggi, jika dividen yield-nya rendah, tentu tidak menjadi menarik,” paparnya.
Menurut hitungan Alfred, dividend yield dari BMRI dan ANTM berpotensi menarik. Hitungannya dilihat dari DPR para emiten di tahun 2024 yang dibagi price to earning ratio (PER) mereka saat ini. DPR ANTM di tahun 2024 sebesar 100% dengan PER 8,4 yang membuat potensi dividend yield-nya 11,9%. Dengan rumus serupa, potensi dividend yield BMRI di kisaran 9,5%, BBRI 8%, BBNI 8,7%, dan PGAS 9,1%.
Ke depan, kinerja emiten BUMN perbankan masih akan sejalan dengan prospek pertumbuhan ekonomi nasional. Sehingga, ada kemungkinan performa mereka di akhir tahun 2025 tak akan jauh berbeda dengan realisasi di semester I lalu. “Kecuali BBTN yang diperkirakan masih akan tumbuh labanya di tahun ini,” tuturnya.
Lalu, kinerja ANTM juga masih prospektif hingga akhir tahun 2025 lantaran masih terjadi kenaikan harga emas sepanjang semester II. Dalam jangka pendek atau hingga akhir tahun 2025, emiten BUMN kemungkinan juga masih dibayangi oleh aksi jual asing yang akan menjadi sentimen negatif bagi harga saham mereka. Namun sebaliknya, ANTM dan PGAS kemungkinan masih mencatatkan net buy asing hingga akhir 2025.
Angga melihat, PTBA, BMRI, BBRI, dan TLKM masih berpotensi menawarkan dividen yang menarik. “Potensi DPR mengacu ke historikal masing-masing perusahaan. Seharusnya (dividen tahun ini) tidak jauh dari angka tersebut, dengan asumsi laba per saham (earning per share/EPS) sama,” katanya.
BMRI Chart
by TradingView
Angga pun merekomendasikan hold untuk PTBA dan TLKM dengan target harga masing-masing Rp 2.320 per saham dan Rp 3.400 per saham. Sementara, rekomendasi buy disematkan untuk BMRI dan BBRI dengan target harga masing-masing Rp 4.900 per saham dan Rp 3.930 per saham.
Tak jauh berbeda, Harry mengunggulkan BBRI yang berpotensi akan memberikan dividen paling menarik, karena punya DPR 86% dan dividend yield cukup tinggi. Prospek emiten perbankan pelat merah juga tetap positif hingga tahun 2026 nanti berkat penurunan suku bunga, stimulus fiskal, dan potensi injeksi dana lebih dari Danantara.
Jika hanya melihat kinerja, BRIS dinilai bakal punya pertumbuhan laba yang paling cepat dari pembiayaan syariah (+16% YoY) dan juga dari gold financing. “Risiko global dan kenaikan NPL mikro masih ada, tapi stabilitas marjin dan provisi menjaga laba. Kombinasi dividen tinggi dan valuasi murah membuat sektor ini menarik,” katanya.
Harry pun merekomendasikan beli untuk BBRI, BMRI, BBNI, BRIS, dan BBTN dengan target harga masing-masing Rp 5.000 per saham, Rp 5.100 per saham, Rp 5.200 per saham, Rp 3.100 per saham, dan Rp 1.600 per saham.


