Laporan Kinerja TOBA, INDY, dan ADRO Pasca Tinggalkan Batu Bara, Bisnis Hijau Berkembang?

Posted on

Perubahan Strategi Bisnis Emen Batu Bara

Sejumlah emiten di Indonesia terus mengurangi eksposur bisnis batu bara, yang tercermin dari penurunan kontribusi emas hitam dalam kinerja keuangan perusahaan besar seperti PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO), PT Indika Energi Tbk. (INDY), dan PT TBS Energi Utama Tbk. (TOBA) hingga akhir September 2025.

Berdasarkan laporan keuangan per akhir kuartal III/2025, ketiga emiten ini mencatatkan penurunan pendapatan. Turunnya kinerja tidak lepas dari tren harga jual rata-rata batu bara yang lebih rendah dibandingkan tahun lalu, serta porsinya pada keseluruhan bisnis yang berkurang.

Perkembangan Kinerja ADRO

PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO), yang dahulu bernama PT Adaro Energy Indonesia Tbk., resmi mengalihkan fokus dari emas hitam dengan memisahkan atau spin-off linia bisnis batu bara termal ke PT Adaro Andalan Indonesia (AADI). ADRO pun menyatakan tengah melakukan ekspansi strategis dan diversifikasi di segmen nonpertambangan batu bara. Tujuannya adalah untuk menciptakan portofolio bisnis yang lebih seimbang dan mencapai target untuk menghasilkan sekitar 50% pendapatan dari nonbatu bara termal paling lambat pada 2030.

Buntut dari langkah ini adalah pendapatan dan laba bersih yang tergerus selama periode Januari–September 2025 dibandingkan dengan kurun yang sama tahun sebelumnya. ADRO tercatat membukukan laba bersih US$301,5 juta atau setara dengan Rp5,03 triliun sampai akhir September 2025. Laba bersih ini mencerminkan koreksi sebesar 74,5% secara tahunan, dari US$1,18 miliar pada Januari–September 2024.

Dalam laporan keuangannya, manajemen ADRO menjelaskan bahwa penurunan laba bersih disebabkan oleh penjualan bisnis batu bara termal PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) melalui penawaran umum pemegang saham (PUPS). ADRO masih mengkonsolidasikan laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lainnya dari AADI sampai akhir September tahun lalu.

Dari sisi pendapatan, ADRO mengantongi pemasukan sebesar US$1,34 miliar sepanjang Januari–September 2025. Angka tersebut merefleksikan koreksi sebesar 12,97% secara tahunan dibandingkan dengan US$1,54 miliar yang diperoleh pada periode yang sama pada 2024.

Perkembangan Kinerja INDY

Sebagaimana ADRO, Indika turut melaporkan penyusutan pundi-pundi pendapatan dan laba selama Januari–September 2025. INDY membukukan penurunan pendapatan hingga 19,1% year-on-year (YoY) dari sebelumnya US$1,78 miliar, menjadi US$1,44 miliar per September 2025.

Sebagian besar pendapatan ini disumbang oleh Kideco, dengan nilai US$1,15 miliar. Sementara itu, lini bisnis INDY lainnya yaitu Indika Resources mencetak pendapatan sebesar US$47,2 juta, Tripatra sebesar US$176,2 juta, Interport sebesar US$93,1 juta, dan pendapatan lain-lain sebesar US$59,5 juta.

Adapun, turunnya pendapatan ini menurut manajemen INDY disebabkan terutama oleh penurunan kontribusi dari Kideco karena penurunan harga jual rata-rata dan dari Indika Resources karena penurunan volume perdagangan.

Perkembangan Kinerja TOBA

Bisnis pengelolaan sampah menjadi penopang kinerja PT TBS Energi Utama Tbk. (TOBA) hingga pengujung kuartal III/2025, bahkan ketika perseroan membukukan kerugian. Segmen ini tercatat melesat di atas 1.000% dalam kurun Januari–September 2025 dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Berdasarkan Laporan Keuangan periode Januari–September 2025, TOBA membukukan rugi bersih sebesar US$127,38 juta, berbalik dari laba bersih sebesar US$34,84 juta pada periode yang sama pada 2024. Kinerja negatif bottom line ini merefleksikan performa total pendapatan TOBA yang sepanjang Januari–September 2025 susut 14,40% YoY dari US$336,65 juta menjadi US$288,17 juta.

Namun, pendapatan TOBA dari segmen waste management atau pengelolaan limbah melejit 1.047%, dari US$9,75 juta per September 2024 menjadi US$111,92 juta pada akhir kuartal III/2025. Kontribusi lini bisnis ini terhadap total pendapatan juga melesat dari hanya 2,89% menjadi 38,84%.

Transisi Menuju Bisnis Hijau

Data-data keuangan tersebut menjadi pertanda bahwa transisi emiten batu bara ini ke bisnis hijau berada di jalur yang tepat. Apalagi, perseroan menargetkan bisnis batu bara sepenuhnya ditinggalkan pada 2030, atau bisa lebih cepat dari itu.

“Jadi pure waste [pendapatan didominasi dari manajemen limbah], dalam dua tahun ke depan itu mulai sudah tidak ada elemen batu baranya,” ujar SVP Corporate Finance and Investor Relations TOBA Mirza Rinaldy Hippy dalam paparan kinerja kuartal III/2025.

Inisiasi bisnis pengelolaan limbah TBS Energi telah dimulai sejak 2018 dan menunjukkan hasil kinerja yang nyata sejak perseroan melakukan ekspansi bisnis ke pasar Asia Tenggara pada 2023 dengan mengakuisisi Asia Medical Enviro Services (AMES), disusul CORA Environment pada 2025.

Untuk mempersiapkan CORA Environment menjadi salah satu motor bisnis utama pengganti batu bara, telah disiapkan investasi lebih dari 200 juta dolar Singapura (SGD) atau sekitar Rp2,56 triliun dalam lima tahun mendatang. Dana tersebut akan digunakan untuk memperkuat jaringan pengelolaan limbah, termasuk pembangunan infrastruktur daur ulang yang ditargetkan rampung pada 2026.

Saat ini, CORA memiliki 700 karyawan dan 300 armada operasional, menjalankan layanan pengumpulan, daur ulang, insinerasi, serta pemulihan sumber daya berbasis digital untuk meningkatkan efisiensi dan kepatuhan lingkungan.

“Saat ini, TBS sedang menjajaki peluang investasi dan akuisisi bisnis hijau di pasar regional, seperti Vietnam, Malaysia dan Thailand,” katanya.