Kondisi SPBU Swasta yang Mengalami Kekurangan BBM Non-Diesel
SPBU swasta di berbagai wilayah Indonesia, khususnya Jakarta dan sekitarnya, menghadapi tantangan besar akibat kekurangan stok bahan bakar non-diesel. Kondisi ini telah berlangsung selama sekitar dua bulan, sehingga banyak SPBU harus menutup sebagian dispenser mereka hanya untuk melayani penjualan bahan bakar diesel. Hal ini menyebabkan pengunjung SPBU menjadi lebih sedikit, terutama karena mayoritas konsumen SPBU swasta menggunakan bensin RON 90 atau 92, baik untuk kendaraan pribadi maupun sepeda motor.
Ketidaktersediaan bahan bakar bensin membuat para pengelola SPBU kehilangan sebagian besar pelanggannya. Akibatnya, banyak dari mereka melakukan pengurangan jumlah karyawan. Contohnya adalah SPBU Shell di Jalan Margonda Raya, Kota Depok, yang hingga Minggu (2/11) masih belum menjual BBM jenis bensin. Para petugas SPBU tersebut memanfaatkan momen car free day (CFD) untuk berjualan makanan dan kopi, bahkan berkeliling area CFD untuk menawarkan es kopi dengan harga Rp15 ribu per gelas atau paket 2 gelas seharga Rp25 ribu.
Menjual kopi dan makanan menjadi salah satu strategi untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Seorang petugas SPBU swasta di Depok, Ardi (nama samaran), mengatakan bahwa jam kerjanya berkurang drastis. Sebelumnya, ia bekerja antara 26 hingga 28 hari per bulan, namun setelah stok bensin kosong, hari kerjanya menjadi 10 hingga 13 hari dalam sebulan. Hal ini berdampak pada pendapatannya yang turun dari Rp 5 juta per bulan menjadi kurang dari Rp 2 juta per bulan.
Ardi berharap situasi ini segera mendapat perhatian serius dari pihak perusahaan maupun pemerintah. Menurutnya, penting bagi kedua pihak untuk mencari solusi agar distribusi BBM jenis bensin di SPBU swasta dapat kembali normal. Hal ini tidak hanya akan membantu masyarakat pengguna kendaraan tetapi juga memberikan kepastian dan kestabilan bagi para pekerja.
Perubahan Operasional dan Strategi Baru
Dari beberapa SPBU swasta, hanya BP-AKR yang sudah mulai memiliki stok RON 92. Pada Minggu (2/11), pengumuman “BP 92 Sudah Tersedia” dipasang di depan SPBU tersebut. Seorang petugas BP-AKR menyebutkan bahwa BBM jenis bensin RON 92 sudah tersedia kembali sejak Jumat (31/10). Sementara itu, Vivo di Jalan Radar Auri, Kecamatan Cimanggis, Depok, masih belum menjual BBM jenis bensin. Hanya menyediakan BBM jenis diesel yang dibanderol Rp14.410 per liter.
Di SPBU Shell di Jalan Raya Villa Bekasi Indah Mangunjaya, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, juga belum menjual bahan bakar. Devi, selaku Shift Manager SPBU tersebut, mengatakan bahwa saat ini fokus pada penjualan oli atau pelumas khusus untuk sepeda motor. Penjualan oli cukup ramai pada akhir pekan, namun cenderung sepi pada hari biasa. SPBU Shell Mangunjaya juga fokus pada penjualan oli motor sebagai upaya agar tetap mendapatkan pemasukan.
Selain itu, langkah inovatif dilakukan dengan meminta seluruh karyawan perempuan memasarkan produk melalui siaran langsung di media sosial TikTok. Para karyawan menjadwalkan live TikTok tiga sesi per hari dengan sistem kerja bergantian berdasarkan shift. Devi juga mengungkapkan bahwa ketiadaan stok BBM di SPBU Shell Mangunjaya berdampak besar, termasuk keputusan untuk merumahkan beberapa pegawai. Per 1 Oktober 2025, tiga karyawan telah dirumahkan.
Pengurangan Karyawan dan Perubahan Jam Kerja
Dari total semula 12 karyawan, kini hanya tersisa sembilan orang yang aktif bekerja. Devi menjelaskan bahwa kebijakan merumahkan pegawai bukanlah tindakan pemutusan hubungan kerja (PHK). Jika stok BBM kembali tersedia, karyawan yang dirumahkan akan segera dikonfirmasi untuk kembali bekerja. Jam kerja karyawan yang saat ini tetap bertugas juga mengalami penyesuaian. Jika sebelumnya mereka bekerja dari pukul 07.00 hingga 22.00 WIB, kini jam kerja dipersingkat hingga pukul 19.00 WIB.
Devi memastikan bahwa sembilan karyawan yang masih aktif tidak mengalami pengurangan gaji maupun keterlambatan pembayaran. Mereka juga dilatih ulang untuk menyesuaikan diri dengan tugas masing-masing sesuai kebutuhan saat ini. Para karyawan laki-laki misalnya, dilatih untuk melayani servis dan penggantian oli, sementara karyawan perempuan bertanggung jawab sebagai kasir sekaligus melakukan promosi dan penjualan oli melalui live TikTok.
Solusi dan Tantangan Distribusi BBM
Para karyawan SPBU swasta berharap distribusi BBM dapat kembali normal. Sebelumnya diberitakan, SPBU swasta seperti Shell, Exxon, Vivo, dan BP AKR mengalami fase kehabisan stok karena kuota impor BBM telah mencapai batas. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa pemerintah tidak akan menambah kuota impor BBM. Lalu muncul opsi SPBU swasta membeli bahan baku BBM dari Pertamina. Namun opsi ini batal dilaksanakan karena SPBU swasta menilai BBM dari Pertamina memiliki kandungan etanol yang terlalu tinggi.
Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa pemerintah akan mendorong pencampuran bensin dengan etanol menjadi E10 ataupun E20. “(Konsumsi) Bensin sekarang kita 42 juta ton per tahun, impor kurang lebih 22 sampai 23 juta ton. Bagaimana agar kita tidak terlalu banyak impor? Kita harus mendorong ke E10 dan E20,” imbuhnya, pekan lalu.
Campuran etanol dari 10 persen ke 20 persen itu, menurut Bahlil bisa membantu mengurangi impor bensin. “Etanol ini bahan bakunya dari jagung, tebu, singkong dan ini tidak hanya sekadar untuk mempertahankan energi kita. Tapi juga menciptakan lapangan kerja dan instrumen pertumbuhan yang bisa kita lakukan di daerah-daerah,” paparnya.
Bahlil membantah anggapan bahwa campuran etanol membuat kualitas bensin menurun. “Sangat tidak benar kalau ada diskusi-diskusi oleh berbagai kelompok yang mengatakan bahwa etanol ini adalah barang yang tidak bagus,” kata dia. Bahlil juga meminta SPBU swasta agar tidak memaksakan kehendak.
President Director & Managing Director Mobility Shell Indonesia Ingrid Siburian mengatakan belum mencapai kesepakatan komersial untuk pasokan base fuel dengan Pertamina Patra Niaga. “Saat ini belum mencapai kesepakatan business to business terkait aspek komersial untuk pasokan base fuel dari Pertamina Patra Niaga,” ujar Ingrid dikutip dari Kompas.com, Jumat (1/11).
Ingrid mengatakan pembahasan antarbisnis terkait pasokan impor base fuel atau bahan bakar murni terus berlanjut. Shell juga terus berkoordinasi dengan pemerintah terkait dan pemangku kepentingan agar produk BBM jenis bensin tersedia kembali di jaringan SPBU mereka sesuai dengan standar keselamatan operasional, prosedur, dan pedoman pengadaan BBM Shell.


