Peran Seorang Dai dalam Masyarakat dan Kepatuhan terhadap Norma Sosial
Seorang dai, baik itu muda maupun tua, memiliki peran penting dalam masyarakat. Mereka tidak hanya bertugas menyampaikan ajaran agama, tetapi juga menjadi teladan bagi para pengikutnya. Namun, ketika seorang dai melakukan tindakan yang dianggap tidak pantas, maka hal tersebut bisa menimbulkan kontroversi dan kekecewaan dari publik.
Gus Elham Yahya, seorang dai muda yang dikenal dengan gaya dakwahnya yang ringan dan kekinian, kini menjadi sorotan banyak pihak. Video dan foto yang menunjukkan dirinya mencium anak perempuan di tengah aktivitas dakwahnya viral di media sosial. Tindakan ini dinilai tidak sesuai dengan norma kesopanan dan etika, terutama karena anak-anak perempuan yang dicium bukanlah kerabat dekat atau keluarganya.
Kejadian yang Menimbulkan Kontroversi
Penggemar Gus Elham, terutama ibu-ibu muda, seringkali hadir dalam acara pengajian yang ia selenggarakan. Mereka memandangnya sebagai sosok yang kharismatik dan mudah diajak berinteraksi. Namun, tindakan Gus Elham mencium anak perempuan justru menimbulkan reaksi negatif. Banyak orang merasa tidak nyaman melihat seorang dai muda melakukan hal tersebut, terlebih jika dilakukan di hadapan umum.
Bukan hanya masyarakat luas yang mengkritik, tetapi juga lembaga seperti Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyatakan bahwa perilaku Gus Elham tidak mencerminkan akhlak yang baik. PBNU menegaskan bahwa sebagai seorang dai, ia harus menjadi contoh dalam menjaga adab, terutama dalam berinteraksi dengan perempuan yang bukan mahram.
Relasi Kuasa dalam Konteks Sosial
Tindakan Gus Elham dapat dilihat melalui lensa relasi kuasa. Anak-anak perempuan yang diciumnya berada dalam posisi subordinat, sementara Gus Elham memiliki otoritas dan popularitas yang tinggi. Hal ini membuat mereka cenderung diam dan tidak berani menentang.
Michel Foucault, seorang teoritisi poststrukturalis, membahas bagaimana kekuasaan tidak hanya ada di tangan individu tertentu, tetapi juga meresap dalam struktur sosial. Dalam konteks ini, kekuasaan bisa berupa pengaruh yang dimiliki oleh seseorang seperti Gus Elham, yang memengaruhi cara orang lain berperilaku.
Tanggapan dari Pihak Berwenang
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) telah memberikan peringatan keras terhadap tindakan Gus Elham. Mereka menilai perilaku tersebut sebagai bentuk child grooming, yaitu upaya mendekati anak untuk membangun kepercayaan dengan tujuan berbahaya. PPPA juga menegaskan bahwa tindakan ini bisa masuk kategori tindak pidana berdasarkan UU No 35/2014 tentang Perlindungan Anak dan UU No 12/2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual.
Meski Gus Elham telah meminta maaf secara terbuka, hal tersebut belum cukup untuk menghapus dampak dari tindakannya. Banyak pihak berharap agar terjadi diskusi terbuka antara Gus Elham, Kementerian PPPA, dan organisasi perempuan untuk memastikan bahwa semua pihak memahami hak anak dan norma sosial yang berlaku.
Pentingnya Diskusi Terbuka
Menghindari kesalahpahaman dan memastikan keadilan adalah hal yang penting dalam kasus seperti ini. Jangan sampai masalah ini hanya berhenti di permintaan maaf tanpa ada penjelasan yang jelas tentang alasan atau motif Gus Elham melakukan tindakan tersebut.
Dengan diskusi terbuka, semua pihak akan lebih memahami situasi yang terjadi dan bisa mengambil langkah-langkah yang tepat untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa depan.


