BOGOR, PasarModern.com Di ruang sederhana yang dipenuhi tumpukan kain warna-warni, suara mesin jahit bersahutan pelan—irama yang belakangan menjadi denyut kehidupan baru bagi para ibu rumah tangga di Kampung Perca, Bogor.
Dari potongan kain bekas yang semula tak bernilai, mereka merangkai kreativitas, peluang, sekaligus pemasukan bagi keluarga.
Perjalanan Kampung Perca bukan muncul tiba-tiba. Awalnya, pada masa pandemi, banyak keluarga menghadapi ketidakpastian ekonomi yang merayap masuk ke ruang-ruang rumah.
Dari kebutuhan itu, peluang ekonomi baru terbuka.
Produksi pertama yang lahir dari tangan para ibu adalah masker kain cuci pakai.
Kain-kain sisa yang sebelumnya tak dilirik, justru berubah menjadi penyelamat di tengah kelangkaan masker medis.
Setelah masker, produksi berkembang mengikuti kebutuhan. Salah satu produk yang lahir dari masa darurat itu adalah sajadah muka.
Sehelai kain kecil yang membantu banyak orang tetap aman ketika bepergian.
Momentum pandemi akhirnya membuka jalan bagi lahirnya komunitas perajin yang terus bertahan hingga hari ini.
Kreasikan Limbah Kain
Ketertarikan Nina (55), salah seorang perajin, untuk bergabung dengan Kampung Perca muncul dari minatnya terhadap menjahit, meski awalnya belum mahir.
Ia melihat kesempatan untuk belajar sambil memanfaatkan kain sisa yang sebelumnya tidak termanfaatkan.
Lingkungan di Kampung Perca yang suportif membuatnya lebih percaya diri untuk mengembangkan kemampuan menjahitnya.
“Saya suka menjahit. Mesti belum dibilang lancar sih, tapi bisa. Kadang-kadang dari ibu saya, suka jahit saya ngeliatin aja, ternyata menyenangkan,” katanya saat ditemui, Senin (8/12/2025).
Selain belajar teknik menjahit, Nina merasakan manfaat dari adanya ruang berbagi ide dan inovasi dengan perajin lain.
Setiap anggota bisa saling memberi saran dan masukan, sehingga produk yang dibuat tidak monoton dan selalu berkembang.
Kreativitas yang muncul pun terkadang menjadi inspirasi bagi produk baru yang dapat dipasarkan.
“Misalnya kebuntuan kita, jadi tertolong ya. Apa yang menjadi inovasi itu bisa tersalurkan di sini,” kata dia.
“Jadi kan banyak orang di sini tentunya ide-idenya banyak juga. Oh saya punya inovasi seperti ini. Ada masukan-masukan tentang inovasi-inovasi untuk buat produk,” jelas Nina.
Inovasi pertamanya berawal dari membuat produk kecil yang praktis, kemudian berkembang sesuai kebutuhan pasar.
Ia mencoba memadukan kreativitasnya dengan fungsi produk agar lebih menarik dan bernilai jual.
“Saya waktu itu bikin sejadah muka sama sejadah travel ya,” ucap dia.
Jadi Sumber Penghasilan
Kegiatan menjahit di Kampung Perca bukan hanya menyalurkan hobi, tetapi juga memberi dampak nyata bagi penghasilan keluarga.
Nina merasakan kepuasan tersendiri ketika hasil karyanya diapresiasi dan dibeli orang.
“Cukup puas ya dengan hasil kita itu. Apalagi hasil kita itu orang dibeli, disukai itu suatu kebanggaan ya. Tentunya ibu-ibu juga sama seperti itu,” kata Nina.
Dampak ekonominya terasa langsung pada kebutuhan sehari-hari.
Penghasilan dari menjahit bisa digunakan untuk membeli kebutuhan dapur atau menambah pendapatan keluarga.
“Tentunya untuk istilahnya beli-beli bumbu, kebutuhan dapur untuk beli pulsa sebagainya. Kita sebelumnya mengharapkan dari tentunya yang punya gaji suami,” ujar dia.
Jumlah penghasilan yang diperoleh setiap bulan tidak selalu tetap, bergantung pada banyaknya pesanan dan jenis produk yang dibuat.
Namun, secara rata-rata, bisa memberikan tambahan sekitar satu juta rupiah per bulan.
“Kadang-kadang ya, kalau lagi rame-rame sih, ya sekitar sejuta juga kayaknya masuk, gimana pesanan,” kata dia.
Selain sisi ekonomi, kegiatan ini juga membuka kesempatan untuk memperluas jaringan sosial.
Nina bisa bertemu dengan banyak orang, termasuk relasi dari pemerintahan yang mendukung kegiatan mereka.
“Jadi selain memasarkan uang ya kita punya teman banyak, kita relasi dengan orang-orang pemerintahan, tentunya mereka datang ke sini, tentunya kita dekat-dekat dengan mereka,” ujar dia.
Produk yang dihasilkan perajin tidak hanya berguna untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga dapat membantu kebutuhan sekolah anak-anak atau keluarga lainnya.
Hal ini menambah nilai manfaat kegiatan Kampung Perca bagi para ibu rumah tangga.
“Bisa saja sih untuk kebutuhan sekolah. Kalau memang dia menjahit lebih banyak kan dia akan membantu juga. Ada yang penghasilnya hanya suaminya, hanya serabutan biasa,” ujar Nina.
Cara Mengatur Waktu
Meski sudah aktif di posyandu dan PKK, Nina mampu menyesuaikan jadwalnya untuk menjahit.
Ia mengatur waktu dengan fleksibel, memanfaatkan pagi, siang, sore, bahkan malam hari jika kondisi memungkinkan.
Aktivitas menjahit menjadi bagian dari rutinitasnya tanpa mengganggu kewajiban lain.
“Nah kalau ini kan kita kondisikan supaya di rumah selesai, ini kita bisa selesaikan, intinya bisa membagi waktu. Kalaupun misalnya memadai, waktunya malam tidak ngantuk, ya untuk menyelesaikannya bisa malam,” katanya.
Ia menekankan bahwa waktu senggang sebaiknya digunakan untuk hal-hal produktif, sehingga kegiatan menjahit sekaligus menjadi sarana memanfaatkan waktu luang secara positif.
“Maksudnya waktu senggang itu kalau bisa, jangan untuk diam diri. Waktu senggang itu tetap untuk yang positif aja,” jelas dia.
Dengan pengaturan waktu yang baik, Nina mampu menyelesaikan beberapa produk sekaligus.
Jumlahnya bervariasi tergantung tingkat kesulitan dan motivasi saat itu.
“Rata-rata kalau saya sih, misalnya bisa 3-4 langsung. Kalau kita terus tidak menikmati ini ya, kadang-kadang juga gitu sih Pak, ada malesnya gitu, akhirnya udah selesai, ditunda,” ujarnya.
Meski begitu, Nina tetap berkomitmen menyelesaikan pekerjaan tepat waktu.
Konsistensi menjadi kunci agar setiap produk dapat selesai sesuai target harian.
“Tapi kalau misalnya udah niatnya, harus selesai ini hari ini, ya kita punya niatnya paling selesai hari ini, ya kita kerjakan. Bisa selesai satu hari juga,” ungkap dia.
Tantangan terbesar biasanya muncul pada produk yang memerlukan perpaduan motif kain perca agar terlihat rapi dan estetis.
Proses ini membutuhkan ketelitian dan kesabaran ekstra.
“Mungkin aplikasi itu dibilang rumit juga tidak ya, tapi kayak seperti ini, memadukan perca supaya perpaduannya bagus. Menyesuaikan warnanya, supaya kelihatan terang seperti apa,” katanya.
Keahlian menyusun kain perca bukan sekadar naluri, tetapi hasil dari pembelajaran, bimbingan perancang, dan pengalaman bertahun-tahun.
Hal ini membuat setiap produk memiliki nilai jual dan estetika yang tinggi.
“Kan sebenarnya ya, kain perca gini-gini. Sebenarnya, kita ada tekniknya tersendiri, kita sembarangan kan. Jadi memadukan pemikiran juga di setting-nya seperti apa, supaya kelihatannya bagus, indah, dan mempunyai nilai jual yang baik juga,” jelas dia.
Jadi Lebih Percaya Diri
Selain Nina, ada Dede (39), perajin yang awalnya sama sekali belum mengenal dunia menjahit.
Ia bergabung karena dorongan teman yang memberitahu ada sebuah pelatihan.
“Awalnya justru aku nggak tau, tetapi ada yang ngajak, katanya dia dapet info dari kader, ada pelatihan katanya. Daripada diem di rumah, ayo katanya,” kata Dede.
Dede kemudian menemukan semangatnya ketika mulai belajar menjahit.
Aktivitas ini membuatnya merasa bahagia dan menemukan kemampuan baru yang sebelumnya tak ia sadari.
“Udah pas ke sini, eh ternyata belajar menjahit. Taunya aku tuh emang pengen bisa, pengen bisa jahit. Ketika tau di sini, ya uh semangat banget. Bahagia gitu ternyata,” kata dia.
Sebelum ikut kegiatan ini, Dede hanyalah ibu rumah tangga biasa yang jarang berinteraksi dengan lingkungan luar.
Menjadi bagian dari Kampung Perca mengubah rasa percaya dirinya secara signifikan.
“Aku tipe orang yang nggak bergaul kemana-mana. Soalnya dulu aja kalo misalkan pulang ke rumah sendiri, masih dianter suami. Ketika udah ikut ini, semuanya berubah. Jadi berani lah, jadi pede,” tuturnya.
Dede menambahkan bahwa kini ia mampu melakukan berbagai aktivitas sehari-hari dengan mandiri, sesuatu yang dulu terasa sulit.
“Mau pulang aja bisa sendiri, nggak usah dianter, ke pasar aja. Aku dulu nggak berani ketika disini banyak temen, banyak pengalaman, banyak cerita harus hebat gitu ya. Jadi bisa semua gitu,” ujar dia.
Proses belajar menjahit tidak instan. Dede membutuhkan waktu hampir setahun untuk memahami dasar mesin jahit dan tiga tahun untuk mampu memproduksi baju secara mandiri.
“Tiga tahun juga kita masih tetap belajar juga sih. Masih banyak yang harus diperbaikinnya juga,” ujarnya.
Kini Dede bangga bisa menghasilkan baju sendiri, bahkan membagikan hasil karyanya kepada keluarga dan saudara.
“Bangga. Aku sampai bilang ke keluarga aja, ‘sok Saha arek nyieun baju? (Ayo siapa yang mau buat baju?)’ Kebetulan saudara-saudara aku badannya pada gede-gede,” ujar dia sambil tertawa.
Menurut Dede, kemampuan menjahit ini juga memudahkan keluarganya untuk mendapatkan pakaian dengan ukuran yang pas, sesuatu yang sulit ditemukan di pasaran.
Tantangan Para Pengrajin
Nina menyatakan bahwa setiap produk yang dipesan sering memiliki bentuk atau detail berbeda, sehingga para ibu harus terus menyesuaikan kemampuan mereka.
Kondisi ini menjadikan Kampung Perca bukan sekadar tempat kerja, tetapi juga ruang belajar yang terus berkembang.
“Kesulitan pasti ada aja. Tapi kita coba terus, jangan menyerah kalau memang, oh ini kayaknya tantangan, itu harus dibuat tantangan, kadang orang pengennya beda-beda,” kata Nina.
Selain menghadapi tantangan teknis, para perajin juga berupaya menjaga kepuasan pelanggan.
Mereka ingin memastikan setiap pesanan sesuai harapan, meskipun bahan baku yang tersedia kadang terbatas dan tidak seragam.
Karena semua kain berasal dari donasi, motif dan jenis bahan tidak bisa selalu ditentukan.
“Kita kan kadang-kadang suka bilang ke orang, maaf ya Bu, kita tergantung ketersediaan perca itu sendiri,” ujarnya.
Selain memproduksi, para perajin juga berperan memberi pemahaman kepada pelanggan tentang karakter kain perca yang berbeda-beda.
Setiap potongan kain memiliki warna, ketebalan, dan bahan yang variatif, sehingga desain tidak selalu bisa diwujudkan persis seperti contoh.
Meski begitu, mereka berusaha sebaik mungkin agar pembeli tetap puas.
“Kami coba untuk edukasi, arahkan bahwa, tidak semua perca di sini itu sama, kita kan namanya bahan bekas, ketersediaan perca itu, untuk juga menghindari ketidakpuasan,” katanya.


