Kisah Firdaus: Inovasi Migas di SP Akasia Bagus Indramayu

Posted on

Penjelasan Teknologi di Area Produksi SP Akasia Bagus

Dendy Gradienda, seorang supervisi dari Area Stasiun Pengumpul Akasia Bagus (SP ABG) di Kecamatan Terisi, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, sedang memantau garis indikator yang naik-turun pada separator. Dengan menggunakan radio genggam, dia melaporkan pengamatan kepada tim lain yang berada di ruang kontrol. Tujuannya adalah memastikan aliran energi dari bumi tetap terjaga dengan baik.

Separator menjadi gerbang pertama bagi hasil bumi yang naik ke permukaan. Di sini, material mentah dipisahkan menjadi minyak, gas, dan air. Dari balik layar kaca indikator, Dendy menggerakkan mesin dan peralatan migas besar untuk memompa denyut nadi energi agar tetap berdetak.

PasarModern.com turut memperhatikan bahwa indikator tak pernah diam. Angka-angkanya terus berganti, menunjukkan bahwa peralatan sedang mengantarkan minyak, gas, dan air ke tahap berikutnya.

Pengumuman BMKG Jatiwangi tentang suhu panas siang yang mencapai 36 derajat tidak dihiraukan oleh Dendy. Pria lulusan Politeknik Negeri Bandung ini terus melangkahkan kakinya sambil mengenalkan satu persatu peralatan migas raksasa di area produksi SP Akasia Bagus.

Material minyak yang telah keluar dari separator langsung dialirkan melalui pipa dalam tanah menuju tengki besar. Ribuan barel minyak per hari disalurkan ke Kilang Pertamina Internasional Balongan untuk diolah lalu dikirimkan ke SPBU hingga dapat dikonsumsi masyarakat luas. Begitupun dengan kandungan gas akan terus dialirkan melalui pipa-pipa raksasa.

Langkah Dendy berhenti di depan bangunan megah berwarna perak yang berjarak sekitar 200 meter dari separator. Dia menunjuk ke salah satu dinding bertuliskan “Amine Contactor ABG C-151-B” dengan logo Pertamina di atasnya. Dendy menjelaskan bahwa bangunan bertingkat lima lantai itu bekerja dengan teknik Acid Gas Removal Unit (AGRU)/ CO2 Removal Unit.

Inovasi ini merupakan teknologi tercanggih yang baru kali pertama ada di dunia. Teknologi ini dijalankan dengan sistem amine (MDEA) yang dapat menurunkan kadar karbon dioksida gas bumi dari semula 65 persen menjadi 5 persen agar dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan industri strategis nasional.

Proses Pengembangan Lapangan SP Akasia Bagus

Project Manager Pertamina EP Region 2 Zona 7, Ahmad Firdaus Fasa menyampaikan bahwa teknologi Acid Gas Removal Unit (AGRU) CO2 Removal Unit dengan sistem amine (MDEA) merupakan terobosan di lingkungan SP Akasia Bagus. Teknologi ini dapat menghasilkan kerja yang sangat optimal dengan jumlah produksi yang berkali lipat.

Pengembangan Lapangan SP Akasia Bagus dimulai pada tahun 2018. Sejak saat itu, Firdaus bersama seluruh tim terus mengoptimalkan produksi secara massif. Project yang mulai dibangun pada tahun 2020 itu semula mampu menghasilkan 1.750 barel cairan per hari (BOPD) serta produksi gas mencapai 3 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD).

Hasil produksi tersebut hingga kini masih terus digunakan untuk memenuhi kebutuhan minyak dan gas nasional. Namun, pada tahun 2020, Firdaus menemukan potensi migas yang jauh berkali lipat. Setelah kajian matang serta persetujuan, mereka memutuskan pengembangan lanjutan yang dimulai tahun 2021.

Pembangunan peralatan serta mesin CO Removal Unit akhirnya didirikan pada 2024. Hal ini untuk meningkatkan produksi minyak mencapai 9.000 BOPD dan gas 22 juta MMSCFD. Saat ini, rangkaian proses pengembangan dengan teknologi terbaru ini sudah mencapai 98 persen. Firdaus menargetkan seluruh pekerjaan rampung pada akhir November 2025.

Kontribusi SP Akasia Bagus dalam Kemandirian Energi Nasional

Kuwat Riyanto, Manager Oil and Gas Transportation Field, PEP Region 2 Zona 7 menyampaikan bahwa SP Akasia Bagus yang masuk Field Jatibarang merupakan satu dari tiga area kerja Zona 7. Pada 30 September 2025, Zona 7 memproduksi sebanyak 9,500 barel oil per hari (BOPD), dan 217.57 juta gas standar kaki kubik per hari (MMSCFD).

Capaian ini merupakan produksi tertinggi di wilayah region 2. Hasil migas yang cukup besar itu digunakan untuk menggerakkan proses produksi Pertamina hingga beragam industri dan masyarakat di Provinsi Jawa Barat, DKI Jakarta, hingga Banten.

Beberapa di antaranya adalah industri pupuk, industri listrik, industri kimia, hingga UMKM yang menjadi tonggak ekonomi masyarakat. Hasil produksi gas ini digunakan oleh 27 konsumen industri strategis nasional yang tersebar di tiga provinsi, industri pupuk untuk mendukung ketahanan pangan, listrik, kimia, lainnya untuk kebutuhan pokok masyarakat luas.

PEP Region 2 Zona 7 berupaya meningkatkan produksi minyak dan gas melalui produksi lapangan eksisting dengan optimasi produksi, kegiatan WO/ WI, pengeboran sumur baru TGP, ABG, JAS, PCT, ABG, dan lainnya. Begitu juga dengan pengembangan lapangan baru antara lain: AKP, BMH, HGD, TKP, NPDM, dan lainnya.

Kuwat memastikan seluruh tim bergerak untuk mengimplementasikan Amanat Asta Cita untuk Kemandirian sekaligus Swasembada Energi Nasional demi menuju Indonesia Emas 2045.