Ruang Hidup Malam di Bawah Kolong Tol
Di bawah kolong tol Jalan Andi Pangerang Pettarani, Makassar kini menjadi tempat yang ramai dan dinamis. Tempat ini menjadi ruang hidup malam bagi anak muda, penjual kopi, dan komunitas jalanan. Fenomena unik ini menunjukkan bagaimana ruang publik bisa menjadi tempat interaksi sosial dan ekspresi.
Kehidupan Malam yang Dinamis
Saya pernah berkunjung ke tempat ini pada malam Minggu. Saat itu, saya memarkir sepeda motor di trotoar jalan kolong tol. Di sepanjang jalan, banyak kendaraan pengunjung yang berjejer. Tidak hanya itu, terlihat banyak penjual kopi yang menjajakan dagangan mereka. Mereka menggunakan sepeda motor listrik yang sedang tren saat ini. Kopi dijual dengan harga mulai dari delapan ribu rupiah, membuat banyak orang tertarik untuk duduk dan bersantai sambil menikmati kopi.
Anak muda sering memilih kolong tol sebagai alternatif utama karena lokasinya strategis dan suasana yang asik. Selain itu, ada juga pasangan kekasih yang datang untuk kencan di malam Minggu dengan modal yang tidak terlalu besar. Anak-anak jalanan juga memiliki basecamp di sini setiap malamnya, begitu pula dengan para pegiat skateboard yang mengasah skill mereka.
Corat-Coret Sebagai Simbol Perlawanan
Sambil menikmati malam, saya memperhatikan detail-detail kolong tol. Saya melihat bahwa setiap panggung penyangga tol telah dipenuhi corat coret tulisan dan gambar-gambar. Tulisan-tulisan ini mencerminkan kebebasan berekspresi dan juga bentuk kritik sosial terhadap ketimpangan dan ketidakpuasan terhadap sistem yang ada.
Salah satu kata yang menarik perhatian saya adalah “Papua” yang ditulis dengan huruf besar. Dari sederhana saja, saya mengartikan corat coret ini memiliki makna dalam. Bisa sebagai ungkapan dan kritik akan kemuakan dari sistem pemerintahan yang sedang berjalan hari ini baik di tingkat pusat hingga daerah. Bisa juga sebagai bentuk perlawanan hingga menjadi ruang ekspresi.
Menurut teori Marxis, seni merupakan bagian dari perjuangan ideologis dan politik. Antonio Gramsci juga memandang seni, lukisan, corat coret sebagai alat potensial untuk menantang struktur kekuasaan dan mitos budaya yang ada. Dengan demikian, fenomena ini dari gambar hingga corat coret di bawah kolong tol bisa dipandang sebagai sebuah simbol perlawanan.
Masalah Ruang Terbuka Hijau
Makassar sebagai kota yang memiliki sejarah panjang seharusnya banyak berbenah dan melakukan perbaikan. Kota ini digadang-gadang sebagai kota dunia, namun standar dan kelayakan sebagai kota dunia sangat tidak memenuhi syarat. Salah satu prasyarat kota dunia adalah memiliki ruang terbuka hijau sebanyak tiga puluh persen, tetapi Makassar tidak memiliki itu.
Masalah kota ini kompleks, antara lain tidak adanya sistem arus lalu lintas yang jelas hingga akhirnya setiap harinya pasti merasakan macet. Polusi udara yang ekstream juga menjadi masalah karena tidak adanya sistem pengangkutan sampah yang baik. Mobil angkutan sampah kadang beroperasi saat kendaraan sedang padat-padatnya, belum lagi pusat pembuangan sampah di Antang mencapai ambang batas dan tidak ada alternatif lain.
Tidak hanya itu, masalah-masalah mendasar seperti kekerasan kelompok, perang kelompok, dan tingkat kriminalitas yang masih sangat tinggi juga menjadi tantangan. Akibatnya, tidak ada ruang terbuka hijau seperti taman kota yang representatif.
Perlu Ruang Ekspresi yang Representatif
Fenomena corat coret di bawah kolong tol jalan Andi Pangerang Pettarani ini bukan hanya sebagai simbol kritik dan perlawanan, tetapi juga menunjukkan bahwa anak muda kota ini membutuhkan ruang ekspresi yang representatif dan tidak eksklusif. Ruang ekspresi ini harus dapat diakses oleh semua anak muda secara setara.
Kurangnya ruang ekspresi seperti taman kota yang representatif ini menjadi salah satu akar masalah anak muda kota ini sering melakukan tindak kriminal seperti tawuran, kekerasan hingga perang antar kelompok. Dengan demikian, dibutuhkan perhatian lebih oleh semua elemen termasuk Pemerintah dalam penciptaan ruang ekspresi ini.
