Perjuangan Guru di Wilayah Terpencil Maluku Tengah
Di tengah keterbatasan akses dan medan yang sulit dijangkau, para guru di Kabupaten Maluku Tengah terus berjuang menjalankan tugasnya mendidik generasi bangsa. Para guru dari wilayah-wilayah terpencil di Maluku Tengah menyuarakan pengalaman dan harapan mereka dalam memperjuangkan pendidikan yang layak bagi anak-anak di pelosok nusantara.
Perjalanan Berat untuk Mengikuti Ujian Nasional
Salah satu kisah datang dari Yones Franky Latumutuany, guru SD YPPK Manusela, sekolah yang dijuluki sebagai “negeri di atas awan” karena letaknya di dataran tinggi Seram Utara, Maluku Tengah. Untuk mengikuti ujian Asesmen Nasional, para pendidik dan siswa harus menempuh perjalanan kaki selama lima hari empat malam ke kota untuk mendapatkan akses internet dan listrik. Dengan medan yang tak biasa, karena harus menyusuri sungai dan hutan.
“Kalau asesmen nasional, kami biasa turun ke SD yang ada di pesisir. Pusatnya di kampung Siatele, Siramutara. Kami jalan kaki ke sana, anak-anak juga begitu. Kalau dari utara, dulu bisa lima hari jalan kaki. Belum bisa dipastikan berapa kilometer, jalannya masih jalan setapak, melewati lumpur juga. Kalau situasinya tidak memungkinkan, kami menunggu sampai air surut baru menyeberang. Kalau banjir besar, kadang menginap di hutan. Kami buat tenda, kalau tidak ada, pakai daun-daun saja,” ujar Yones kepada PasarModern.com, Rabu (29/10/2025).
Selama puluhan tahun, daerah ini nyaris terisolasi dari akses komunikasi. Para guru dan murid di sana hidup tanpa jaringan internet maupun sinyal telepon. Baru pada tahun ini, mereka bisa menikmati fasilitas komunikasi berkat pemasangan Starlink, layanan internet satelit yang diinisiasi oleh pemerintah daerah bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Maluku Tengah.
“Selama ini, berpuluh-puluh tahun kami belum pernah menikmati informasi maupun komunikasi secara langsung. Baru kali ini, setelah 80 tahun Indonesia merdeka, kami boleh menikmati komunikasi jarak jauh,” ujarnya.
Di sana, ungkap Yones, listrik negara belum sampai. “Sebelum ada Starlink, kami buta informasi, tidak bisa akses apa pun. Baru bisa dapat informasi kalau sudah turun ke pesisir,” lanjutnya.
Ruang Kelas yang Sangat Terbatas
Kisah serupa juga datang dari Ajeng, kepala sekolah di salah satu sekolah dasar di Pulau Sjahrir. Ia menceritakan betapa terbatasnya sarana pendidikan di pulau tersebut. Seluruh kegiatan belajar mengajar harus dilakukan hanya di satu bilik kecil, yang digunakan untuk enam tingkatan kelas sekaligus.
“Sekolah kami hanya ada satu bilik untuk ditempati kelas 1 sampai kelas 6. Anak-anak saya di pulau itu kalau mau ujian harus mendayung tiga sampai empat jam untuk sampai ke sekolah induk,” tutur Ajeng dalam kegiatan Temu Pendidikan (MUDIK) bertajuk “Mendaki, Mengabdi, Memberi Arti: Menyapa Anak Negeri di Atas Awan” yang turut dihadiri oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menangah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti.
Namun kini, dengan hadirnya jaringan Starlink, Ajeng menyampaikan rasa syukur karena sekolahnya memiliki peluang baru untuk melaksanakan ujian dan pembelajaran secara daring tanpa harus berpindah ke pulau lain.
“Kami sangat bersyukur karena sudah memiliki Starlink. Ke depan, anak-anak mungkin bisa mengikuti ujian dari sekolah mereka sendiri tanpa harus mendayung jauh lagi,” ucapnya penuh harap.
Perjuangan Guru di Daerah 3T
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Maluku Tengah, Hesein Mukadar, mengakui bahwa perjuangan para guru di daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) masih sangat berat. Ia menekankan pentingnya perhatian khusus terhadap kesejahteraan guru, terutama terkait tunjangan daerah terpencil agar mereka tetap mampu bertahan dan mengabdi di wilayah dengan kondisi sulit.
“Kami berharap tunjangan terpencil bagi guru-guru di wilayah 3T bisa terus ditingkatkan. Itu yang paling penting agar mereka bisa bertahan di pegunungan dan kepulauan dalam rangka pengabdian kepada anak-anak kita,” ujarnya.
Harapan untuk Pendidikan yang Merata
Melalui kisah para guru dari Manusela hingga Pulau Sjahrir, tergambar jelas tantangan pendidikan di wilayah terpencil Maluku Tengah. Namun dibalik segala keterbatasan itu, tersimpan semangat dan dedikasi tinggi dari para pendidik yang tak pernah menyerah memberikan ilmu kepada anak-anak negeri.
Mereka berharap perhatian dari pemerintah pusat maupun daerah terus berlanjut, agar pendidikan bermutu dapat dinikmati secara merata di seluruh pelosok Indonesia.
“Semoga perhatian untuk pertumbuhan pendidikan di Indonesia, khususnya kami di daerah-daerah 3T, bisa terus diberikan agar anak-anak kami mendapat pendidikan yang layak sama seperti di kota,” ungkap guru SD YPPK Manusela.
Dengan adanya bantuan teknologi seperti Starlink, harapan itu perlahan mulai terwujud. Kini, di tengah pegunungan dan pulau-pulau kecil, para guru dan murid di Maluku Tengah dapat melihat dunia lebih luas, bukan lagi hanya dari buku, tapi juga dari sambungan internet yang menembus awan.
Transformasi Pendidikan di Maluku Tengah
Di tengah keterbatasan infrastruktur dan akses yang sulit dijangkau, pendidikan di Kabupaten Maluku Tengah kini mulai bertransformasi. Melalui upaya pemerintah daerah dan kolaborasi lintas pihak, akses internet berbasis satelit Starlink mulai menjangkau sekolah-sekolah di wilayah pegunungan dan kepulauan yang selama ini terisolasi dari jaringan listrik maupun internet.
Bupati Maluku Tengah, Zulkarnain Awat Amir, menegaskan bahwa langkah ini bukan sekadar proyek digitalisasi, melainkan bagian dari perjuangan panjang untuk pemerataan pendidikan di seluruh wilayah. “Dan tidak hanya itu, saya pun tidak menutup mata dengan kondisi masyarakat kita yang jauh, yang ada di, kalau dibilang 3T, seperti di Pegunungan, di Kepulauan-Kepulauan, yang ada jauh aksesnya. Apalagi yang sampai akses listrik dan internet, tidak terjangkau,” ujarnya.
Ia menambahkan, upaya menghadirkan akses pendidikan yang layak di wilayah terpencil adalah tanggung jawab bersama. “Karena ini bukan PR Kabupaten saja, tapi pekerjaan rumah Republik ini. Saya sudah beberapa kali ke Kementerian SDM. Saya meminta solusi untuk bagaimana listrik bisa ada di atas. Dan terakhir itu akhirnya kita berpikir untuk pembangkit listrik panel surya,” lanjutnya.
Kini, upaya itu mulai membuahkan hasil. “Kita juga punya 3 Starlink di daerah Pegunungan dan insyaallah dalam tahun ini, kita akan menambah 27 Starlink lagi. Jadi total 30 Starlink yang akan kita distribusikan di daerah-daerah yang jauh dari jangkauan listrik dan internet hingga saatnya nanti kita punya studio pembelajaran. Semua guru mata pelajaran akan kita tempatkan di studio itu. Pengajaran akan dilakukan jarak jauh. Jadi mimpi saya, keinginan saya, anak-anak kita yang ada di Pegunungan, yang ada di daerah jauh, bisa menikmati pembelajaran seperti yang kita rasakan di ruang kelas,” jelas Zulkarnain.
Sebagai penutup, Zulkarnain juga menyampaikan apresiasinya kepada Program Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia yang dilakukan kemitraan pendidikan antara Pemerintah Australia dan Indonesia, atas dukungan pengembangan pendidikan di daerahnya. “Saya terima kasih kepada teman-teman Inovasi sudah banyak membantu dan memang kalau di dunia pendidikan, saya punya mimpi bahwa pendidikan kita, kita butuhkan output yang grafiknya dari waktu ke waktu terus meningkat. Tentang hal-hal penunjang fisik dan lain-lain, bukan kami abaikan, tapi itu dia harus lebih bermanfaat kepada kualitas dari anak-anak pendidikan,” ujarnya.


