Bandara Kertajati dan Peran Pentingnya dalam Pembangunan Daerah
Pada situs berita Kompas.com, terdapat sebuah artikel dengan judul “In the Middle of Nowhere”, yang menyebutkan bahwa AHY mengungkap alasan mengapa bandara Kertajati (KJT) sepi. Pertanyaan ini menarik untuk diteliti lebih lanjut, karena keberadaan bandara yang sepi di tengah kota sering kali menjadi isu utama.
Dalam era pertumbuhan dan pembangunan yang pesat, lahan semakin langka, sehingga banyak bandara tidak lagi berlokasi di pusat kota. Contohnya adalah Jakarta, Medan, dan Yogyakarta, di mana bandara berada jauh dari pusat kota. Di luar negeri, kita juga bisa melihat contoh seperti kota London yang dilayani oleh enam bandara. Bandara terdekat dari pusat kota London adalah London City (LCY), sedangkan yang terjauh adalah Southend (SEN). Jarak antara keduanya mencapai 64 km.
Jika kita melihat sejarah, saat Bandara Soekarno-Hatta (CGK) mulai beroperasi, daerah sekitarnya belum sepadat sekarang. Ini menunjukkan bahwa meskipun lokasi bandara jauh dari pusat kota, bandara tetap dapat berkembang dan memengaruhi pertumbuhan kota sekitarnya. Contohnya adalah Bandara Stansted (STN) di London, yang menjadi bandara tersibuk ketiga setelah Heathrow (LHR) dan Gatwick (LGW), meskipun berjarak sekitar 63 km dari pusat kota. Bandara ini menjadi base operasi maskapai Ryanair, yang membuatnya sangat sibuk.
Bandara KJT berjarak sekitar 68 km dari Bandung, hampir sama dengan jarak STN dari London. Meskipun istilah “In the Middle of Nowhere” menggambarkan lokasi yang jauh dari kota dan penduduk yang sedikit, hal ini tidak sepenuhnya cocok untuk bandara yang memberikan manfaat besar bagi daerah dan negara.
Masalah Akses dan Fasilitas Pendukung
Permasalahan utama pada bandara KJT adalah akses. Akses menjadi kunci dalam menciptakan konektivitas antara bandara dan kota-kota sekitar. Akses bisa berupa jalan atau rel kereta api, yang membantu perjalanan pelaku perjalanan dan wisata. Selain itu, akses juga memperlancar pergerakan barang atau kargo antara pusat industri dan bandara, yang penting dalam perdagangan.
Fasilitas pendukung seperti hotel untuk kru pesawat yang menginap (RON) juga penting. Maskapai bisa menginapkan pesawat mereka di bandara tersebut jika tempat parkir di bandara hub atau base sudah penuh. Manfaat lainnya adalah adanya penerbangan awal pagi, yang menarik bagi pelaku perjalanan dan wisata. Fasilitas ini juga berguna bila bandara digunakan sebagai venue acara atau pameran.
Definisi Ramai pada Bandara
Definisi ramai pada bandara tidak hanya terkait jumlah penumpang, tetapi juga jumlah pergerakan pesawat. Banyak penerbangan merujuk pada jumlah bandara yang terhubung dengan KJT serta frekuensi penerbangan. Sebuah bandara dibangun untuk menciptakan hubungan (connection) dengan bandara lain, yang disebut rute penerbangan. Untuk mempercepat perpindahan antara dua titik, diperlukan pesawat—baik yang berjadwal maupun tidak—yang menawarkan kursi.
Hubungan dan Konektivitas
Konektivitas dalam transportasi udara mirip dengan kabel atau bluetooth dalam komunikasi data. Tanpa koneksi, perpindahan data tidak mungkin terjadi. Dalam konteks transportasi, connection artinya terhubungnya dua titik atau lebih, sedangkan connectivity merujuk pada kemampuan suatu titik untuk terhubung dengan titik lain dalam jaringan.
Pengaruh Ekonomi dan Trafik Bandara
Sepinya bandara KJT memiliki dampak ekonomi yang signifikan. Bandara ini dibangun untuk menggantikan Bandara Husein Sastranegara (BDO). Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa jumlah penumpang di BDO pada tahun 2020, 2022, dan 2023 adalah 182.823, 331.030, dan 347.899 orang. Jumlah ini akan berpindah ke KJT, tetapi karena kurangnya penerbangan, trafik beralih ke bandara lain seperti Halim Perdanakusuma (HLP) atau CGK.
Jika diasumsikan pajak bandara sebesar Rp. 10.000 per orang, maka pendapatan yang hilang per tahun mencapai Rp. 33 miliar. Selain itu, kerugian tahunan mencapai Rp. 60 miliar. Dengan kapasitas KJT yang bisa menampung 29 juta orang per tahun, harapan peningkatan trafik harus didukung oleh jumlah kursi, rute, dan frekuensi penerbangan.
Harapan Masa Depan
Harapan untuk kondisi bandara KJT membaik adalah dengan memperbaiki akses dan fasilitas pendukung. Namun, perlu diingat bahwa esensi bandara adalah sebagai tempat pergerakan pesawat. Hubungan antara KJT dengan bandara dunia sudah terbangun, tetapi perlu menarik minat maskapai untuk melakukan penerbangan dari dan ke KJT.
Bandara sebagai Pintu Gerbang Daerah
Bandara bukan hanya pintu gerbang keluar bagi penduduk, tetapi juga pintu masuk bagi investor, pelaku perjalanan, dan wisata asing. Keberadaan bandara juga membuka akses perdagangan ke pasar global. Segala apa yang dimiliki dan ditawarkan daerah menjadi daya tarik bagi para investor dan wisatawan.
Bandara sebagai Kota Mini
Bandara kini bukan hanya tempat pergerakan pesawat, orang, dan barang, tetapi juga seperti kota mini dengan berbagai amenities seperti kantor polisi, pemadam kebakaran, toko, dan hiburan. Contohnya adalah Bandara Singapore Changi (SIN).
Kesimpulan
Bandara KJT memiliki potensi besar untuk berkembang seperti Bandara CGK, menjadi hub, operating base, atau focus city. Untuk mencapainya, semua stakeholder perlu bekerja sama dalam jangka panjang. Keberadaan bandara dapat mengubah daerah sepi menjadi daerah berkembang selama direncanakan dan dikelola dengan baik.
Pembangunan bandara tidak cukup hanya pada fisik bangunan dan akses, tetapi juga bagaimana bandara dapat terkoneksi dengan sebanyak mungkin bandara di dunia. Dengan demikian, bandara dapat menjadi penghubung yang efektif dalam jaringan transportasi global.


