Kemacetan Bandung Mengancam, LRT Bandung Raya Jadi Solusi

Posted on

Permasalahan Kemacetan di Kota Bandung

Kemacetan di Kota Bandung menjadi isu yang semakin serius, terutama menjelang akhir pekan. Banyak peristiwa besar seperti konser musik, festival kuliner, kegiatan olahraga, budaya, dan pameran otomotif Gaikindo Indonesia International Show (GIIAS) berlangsung di beberapa titik strategis kota ini. Hal ini menyebabkan lalu lintas menjadi sangat padat.

Kemacetan di Bandung bukanlah hal yang baru. Di akhir pekan atau saat ada acara besar, kemacetan menjadi pemandangan biasa. Namun, situasi ini semakin memburuk karena penambahan ruas jalan yang tidak sejalan dengan jumlah populasi dan kendaraan yang terus meningkat. Akibatnya, Bandung kini menduduki posisi 12 sebagai kota termacet di dunia, lebih tinggi dari Jakarta yang sebelumnya selalu dianggap sebagai kota paling macet di Indonesia.

Dampak kemacetan tidak hanya terasa dari segi ekonomi, lingkungan, hingga kesehatan. Menurut Low Carbon Development Indonesia (LCDI), polusi udara menjadi faktor penyebab kematian kelima tertinggi di Indonesia. Sementara itu, Kementerian Perhubungan menyatakan bahwa kerugian ekonomi akibat kemacetan di Kota Bandung mencapai Rp 12 triliun per tahun.

Indeks Lalu Lintas Bandung Versi Numbeo

Berdasarkan data terbaru dari laman Numbeo per Januari 2025, Kota Bandung berada pada urutan 47 dunia sebagai kota dengan indeks lalu lintas tertinggi. Indeks lalu lintas yang dimaksud oleh Numbeo adalah ukuran gabungan yang mempertimbangkan waktu perjalanan, ketidakpuasan terhadap waktu yang dihabiskan di jalan, emisi CO2, dan inefisiensi sistem lalu lintas secara keseluruhan.

Komponen indeks lalu lintas meliputi:
Indeks Waktu: rata-rata waktu perjalanan satu arah dalam hitungan menit.
Indeks Ekspektasi Waktu: estimasi ketidakpuasan akibat waktu perjalanan yang panjang.
Indeks Ketidakefisienan: mengukur ketidakefisienan dalam sistem lalu lintas.
Indeks Emisi CO2: menghitung emisi CO2 yang disebabkan oleh perjalanan harian penumpang.

Data dari Numbeo menunjukkan bahwa:
– Indeks Lalu Lintas: 194,46 menit
– Indeks Waktu: 42,87 menit
– Indeks Ekspektasi Waktu: 2.576,20 menit
– Indeks Inefisiensi: 243,71 menit
– Indeks Emisi CO2: 7.263,55 gram

Setiap penumpang di Kota Bandung menghasilkan sekitar 1.743,25 kg CO2 per tahun akibat perjalanan ke tempat kerja atau sekolah. Untuk mengimbangi emisi karbon ini, dibutuhkan sekitar 80,08 pohon per penumpang untuk menghasilkan cukup oksigen.

Bandung Kota Termacet Versi TomTom

Perusahaan navigasi TomTom merilis laporan terbarunya mengenai tingkat kemacetan di seluruh dunia dalam TomTom Traffic Index 2024. Dalam laporan tersebut, Bandung menempati posisi pertama sebagai kota paling macet di Indonesia dengan rata-rata waktu tempuh 32 menit 37 detik per 10 km dan tingkat kemacetan mencapai 48%.

Di tingkat dunia, Bandung berada di posisi ke-8 sebagai kota termacet. Tingkat kemacetan hanya memperhitungkan faktor dinamis yang menurunkan kecepatan rata-rata di suatu kota. Dengan tingkat kemacetan sebesar 48%, Bandung memiliki dampak terbesar pada penurunan waktu tempuh dibandingkan dengan kondisi lalu lintas ideal.

Solusi Kemacetan: LRT Bandung Raya

Berbagai kalangan di Jawa Barat menilai pembangunan LRT Bandung Raya sebagai solusi mengurai kemacetan di Kota Bandung. Proyek ini telah lama dicanangkan, bahkan sejak era Walikota Bandung Ridwan Kamil. Kehadiran LRT ini menjadi harapan besar untuk mengurangi kemacetan.

LRT memiliki kapasitas daya angkut hingga 270 penumpang, jauh lebih besar dibandingkan monorail yang hanya mampu membawa 50 penumpang. Namun, prasyarat utama adalah pembangunan LRT harus nyaman dan aman agar masyarakat percaya untuk menggunakan transportasi umum.

Menurut Walikota Bandung M. Farhan, tingkat kepercayaan warga terhadap transportasi publik belum sepenuhnya tercapai. Saat ini, jumlah kendaraan plat D mencapai 2,3 juta unit, menunjukkan bahwa banyak warga masih memilih kendaraan pribadi.