Ringkasan Berita
Kapten Miswar Maturusi dilaporkan hilang saat menjalani pelayaran internasional di kawasan Selat Hormuz, Timur Tengah. Korban diketahui merupakan warga asal Desa Pattedong, Kecamatan Ponrang Selatan, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Keluarga masih menanti kabar mengenai kondisi Kapten Miswar Maturusi, kapten kapal tugboat Musaffah 2 yang dimiliki oleh perusahaan Abu Dhabi Port.
Sosok CAPT Miswar Maturusi
CAPT Miswar Maturusi dikenal sebagai sosok kepala keluarga yang selama ini menjadi tulang punggung bagi keluarganya. Ia dikenal sebagai pribadi pekerja keras yang telah lama mengabdikan diri di dunia pelayaran. Ia memiliki satu istri dan dua orang anak. Selain menafkahi keluarganya, ia juga membantu menyekolahkan anak-anak dari sepupu dan keponakannya.
Istri korban bernama Marliani Ahmad, sementara kedua anaknya adalah Muhammad Qiratul Miswar dan Muhammad Hayatullah Miswar. Anak pertama Miswar bahkan telah mengikuti jejak pengabdian kepada negara setelah resmi menjadi anggota kepolisian sejak tahun lalu.
Pesan Centang Biru Tak Sempat Dibalas
Komunikasi terakhir korban dengan keluarga terjadi pada Rabu (4/3/2026). Saat itu, Miswar masih sempat berbicara dengan istrinya dan menyampaikan rencana perjalanan pelayaran yang akan dilakukannya. Pada Kamis (5/3/2026) siang, sekitar pukul 13.00 Wita, korban masih sempat membuka pesan dari anaknya melalui aplikasi percakapan. Namun, pesan tersebut tidak sempat dibalas, hanya “centang biru”.
Sejak saat itu, keluarga tidak lagi menerima komunikasi dari Miswar hingga akhirnya muncul kabar bahwa kapal yang dinakhodainya mengalami insiden.
Berlayar Sejak Februari
Dari informasi yang diterima keluarga, Miswar diketahui telah berangkat berlayar sejak 18 Februari 2026. Ia sebelumnya menyampaikan kepada keluarganya bahwa perjalanan menuju lokasi kerja diperkirakan memakan waktu sekitar satu hari. Selama ini, Miswar diketahui bekerja di wilayah pelabuhan Abu Dhabi. Tugasnya antara lain memandu kapal-kapal besar yang hendak masuk ke pelabuhan.
Kronologi Kapal Musaffah 2 Meledak
Kabar mengenai insiden kapal pertama kali diterima keluarga pada Jumat (6/3/2026) sekitar pukul 10.00 Wita. Informasi tersebut disampaikan oleh seorang rekan korban bernama Kapten Ismail yang menghubungi keluarga melalui telepon. Informasi awal yang diterima menyebutkan bahwa kapal yang dinakhodai beliau terkena ranjau laut. Hingga kini, keluarga masih menerima berbagai versi informasi terkait kejadian tersebut.
Beberapa pihak menyebut kapal tersebut sedang dalam perjalanan menuju pelabuhan Abu Dhabi untuk proses evakuasi. Ada pula informasi lain yang menyebut kapal itu tengah dibawa untuk menjalani proses perbaikan atau pengelasan setelah mengalami kerusakan. Dalam pelayaran tersebut, dua kapal disebut berangkat secara bersamaan, yakni Musaffah 2 dan Musaffah 1. Kapal yang dinakhodai Miswar dilaporkan berangkat lebih dulu menuju lokasi tujuan.
Kapal Sempat Gangguan GPS
Sebelum hilang kontak, korban disebut sempat menyampaikan kepada rekan-rekannya mengenai gangguan teknis pada kapal yang dipimpinnya. Menurut Sumarlin, Miswar beberapa kali menyampaikan bahwa sistem navigasi GPS di kapalnya mengalami gangguan. Selain itu, Miswar juga sempat menyampaikan bahwa dirinya melihat sesuatu di sekitar jalur pelayaran dan meminta bantuan panduan. Namun, ternyata tidak ada.
Tak lama setelah itu, komunikasi dengan kapal tersebut dilaporkan terputus.
Menunggu Kepastian Pemerintah
Hingga kini, keluarga mengaku belum menerima informasi resmi secara tertulis dari pihak perusahaan tempat Miswar bekerja. Informasi yang diterima masih bersifat lisan melalui rekan korban yang bernama Kapten Ismail. Kapten Ismail disebut menjadi perantara komunikasi antara perusahaan dengan keluarga korban karena mampu berbahasa Indonesia.
Sementara itu, pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) disebut telah mulai menghubungi keluarga untuk mengumpulkan data terkait korban. KBRI juga menyampaikan bahwa mereka akan menyampaikan jika ada perkembangan informasi dari sana.
Berharap Kapten Miswar Maturusi Selamat
Keluarga berharap pihak pemerintah Indonesia melalui perwakilan diplomatik di luar negeri dapat membantu proses pencarian korban dan memberikan informasi yang jelas mengenai kondisi yang terjadi. Mereka berharap pencarian bisa segera dipercepat mengingat hingga saat ini keluarga masih menunggu kepastian kabar mengenai korban.
Meski demikian, keluarga mengaku siap menerima apa pun hasil dari proses pencarian tersebut. Saat ini, keluarga di kampung halaman hanya bisa menunggu kabar sambil terus berupaya mencari informasi mengenai perkembangan terbaru.


