Kala bank keliling jadi dewa penolong bagi warga yang malas pinjam uang ke keluarga

Posted on

JAKARTA, PasarModern.com Keberadaan bank keliling atau disebut “bangke” di Jakarta masih terus eksis dari tahun ke tahun karena masih dibutuhkan banyak warga.

Layanan bank tak resmi ini menawarkan jasa pinjaman uang dengan persyaratan yang mudah bagi warga yang membutuhkan.

Untuk meminjam uang, warga cukup menyerahkan KTP dan menandatangani surat perjanjian. Dalam waktu kurang dari satu hari, uang pinjaman bisa langsung cair.

Tak heran, banyak warga dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah kerap bergantung pada jasa bank keliling.

Salah satunya adalah Darto (47), warga Koja, Jakarta Utara, yang mengaku sudah bergantung dengan bank keliling sejak dirinya belum menikah.

“Ya, dari bujangan lah usia 25 – 27 tahun. Ya, karena kekurangan aja satu buat makan, kedua pengin foya-foya, jadi ambil bank buat happy, besoknya habis, besoknya setoran,” tutur Darto ketika diwawancarai PasarModern.com di Koja, Senin (8/12/2025).

Setelah menikah dan memiliki tiga anak, Darto semakin mengandalkan bank keliling untuk memenuhi kebutuhan keluarga, yakni biaya sekolah, berobat, makan, dan keperluan lainnya.

Pendapatannya sebagai tukang servis jam sering kali tidak cukup untuk membiayai kebutuhan hidup anak dan istrinya.

Lebih dari satu bank keliling

Darto mengaku kini meminjam uang dari tiga bank keliling berbeda karena kebutuhan ekonomi yang mendesak.

“Sekarang saya punya bank keliling tiga, pinjamannya Rp 1.000.000, Rp 1.000.000, sama Rp 2.000.000. Bayarnya (cicilan) per hari,” ucap dia.

Untuk pinjaman yang Rp 2.000.000, ia harus mencicil Rp 60.000 per hari selama 40 hari.

Sementara untuk dua pinjaman senilai Rp 1.000.000, cicilan per harinya sekitar Rp 30.000 selama 40 hari.

“Jadi, paling tidak saya bayar utang Rp 120.000 per hari. Tapi, kadang enggak semuanya bayar saya tinggal bilang aja enggak ada,” tutur Darto.

Darto mengatakan, masing-masing bank keliling memiliki ketetapan bunga yang berbeda-beda, ada yang hanya 20 persen, ada pula 30 persen.

Kendati demikian, ia merasa tak keberatan dengan besaran bunga tersebut karema persyaratan meminjam yang dianggap mudah dan cepat.

Dianggap ‘Dewa Penolong’

Setelah belasan tahun bergantung, Darto menilai bank keliling merupakan “dewa penolong” baginya.

“Dia dewa penolong di saat kita terdesak ekonomi, daripada ke saudara kita ngoceh dulu mulutnya baru minjemin,” tutur Darto.

Saat meminjam uang di bank keliling, ia cukup menunjukkan KTP dan mengisi tanda tangan tanpa harus menerima cibiran terlebih dahulu.

Di sisi lain, ketika terlambat membayar, ia mengaku petugas bank keliling jarang bersikap nekat ke nasabahnya.

Karena itu, Darto merasa tak khawatir jika pada hari tertentu ia tak bisa membayar cicilan utangnya.

“Kalau masalah kita enggak bayar karena enggak sanggup, pasti cuma ngoceh mulut doang tapi mereka rata-rata jadi malas nagihnya juga,” ucap dia.

Sama seperti Darto, warga lain bernama Ria (58) juga menilai bunga pinjaman di bank keliling tidak terlalu mencekik karena proses pencairannya yang mudah.

“Bunga 20 persen enggak mencekik udah paling murah, daripada minjam ama saudara ngasih kagak cuma jadi omongan aja,” jelas Ria.

Ria mengaku mulai mengandalkan bank keliling sejak dirinya berdagang nasi uduk pada 2002.

Ketika kehabisan modal, ia meminjam uang dari bank keliling dan membayarnya secara dicicil.

Selain itu, bank keliling juga menjadi satu-satunya penolong Ria untuk memenuhi biaya sekolah anaknya.

“Coba bayangin pas anak saya mau masuk kuliah uang pangkal kurang, minjam saudara malah diremehin dibilang ‘lagian enggak ada uang pakai kuliah segala’ akhirnya, saya minjam kekurangannya dari bank keliling langsung dikasih tanpa harus dihina dulu,” tutur Ria.

Kini, setelah anaknya bekerja, Ria tidak terlalu bergantung lagi pada bank keliling. Ia hanya memiliki satu cicilan kecil.

“Sekarang cuma satu, itu juga minjamnya cuma Rp 200.000, saya mau udahan ama dia enggak boleh malahan,” jelas Ria.

Terus tawarkan pinjaman

Salah satu cara kerja bank keliling adalah terus menawarkan pinjaman agar nasabah tetap bergantung. Semakin banyak nasabah, semakin besar pula pendapatan bank keliling.

“Dulu zaman saya itu delapan persen, tergantung lihat drop atau nagihnya. Kalau saya bisa nerima minimal Rp 4 juta dan ada targetnya,” ucap salah satu bos bank keliling bernama Carlos (38).

Petugas bank keliling bernama Roni (bukan nama sebenarnya, 24) juga mengaku pendapatannya tergantung dari jumlah nasabah yang dimiliki.

“Tergantung berapa banyak yang minjam dikali lima persen. Semakin banyak nasabah semakin besar gajinya,” tutur dia.

Namun, pendapatan mereka juga bisa terpotong apabila ada nasabah yang tidak lancar membayar cicilan.

Meski begitu, para petugas tetap berkeliling menawarkan pinjaman dari rumah ke rumah, bahkan tidak ragu memberikan pinjaman baru kepada nasabah yang baru selesai melunasi utangnya.

Sebab, kehilangan satu nasabah saja itu berarti gaji mereka akan turun.

Sulit pinjam di bank

Pengamat Ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Tauhid Ahmad menilai, bank keliling masih eksis sampai saat ini karena banyak masyarakat kesulitan mendapatkan pinjaman dari bank resmi.

“Saya kira dengan situasi yang saat ini banyak orang yang tidak layak dalam kredit perbankan dan mereka juga tidak melek teknologi maka itu banyak berkembang di kota-kota besar, bank keliling menyasar pekerja informal, ibu rumah tangga, atau yang berpenghasilan rendah,” tutur Tauhid kepada PasarModern.com, Senin.

Persyaratan dan proses yang sulit juga jadi tantangan tersendiri untuk masyarakat yang ingin meminjam uang ke bank resmi.

Alhasil, mereka memilih untuk mengambil jalan pintas dan menggunakan jasa bank keliling karena prosesnya yang mudah dan cepat.

“Tentu saja ini merupakan masalah besar bank keliling ini, karena market-nya cukup eksis di kota besar, termasuk Jakarta,” ungkap Tauhid.

Hal itu pula yang membuat warga menganggap bunga 20 hingga 30 persen di bank keliling dinilai murah.

Di sisi lain, sistem beroperasi dari rumah ke rumah itu lah yang membuat warga menganggap bank keliling sebagai dewa penolong.

Sebab, ketika warga terdesak ekonomi dan membutuhkan uang cepat, bank keliling hadir langsung di depan rumah dan siap untuk memberikan pinjaman tanpa proses dan syarat yang rumit.

Petugas bank keliling hanya meminta KTP dan tanda tangan nasabah yang ingin meminjam sebagai syarat pencairan uang.

Sulit diregulasi

Menurut Tauhid, bank keliling sulit diatur karena merupakan bisnis perorangan. Untuk membuat regulasi, pemerintah harus mendorong praktik ini menjadi usaha formal.

Meski begitu, Tauhid menilai pemerintah tetap perlu membuat regulasi agar ada kepastian keamanan dan batasan bunga agar tidak mencekik warga.

Namun, Pengamat Ekonomi dari Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Nailul Huda menilai bahwa bank keliling tetap sulit untuk diregulasi.

“Bank keliling ini berjalan tanpa regulasi dan tidak bisa diregulasi karena sifatnya yang berdasarkan individu. Ada yang butuh, dan ada yang menawarkan, maka terciptalah “pasar”. Pun diregulasi, hanya untuk pasal penipuan jika ada kasus penipuan di transaksi tersebut,” jelas Nailul, Senin.

Di sisi lain, keberadaan pinjaman online resmi dan berbunga lebih rendah sebenarnya sudah hadir di tengah masyarakat sehingga seharusnya bisa menggantikan peran bank keliling.

Namun, karena banyak masyarakat yang belum melek terhadap teknologi, mereka tetap mengandalkan bank keliling saat membutuhkan uang.

Meski sulit diregulasi, pemerintah tetap diminta turun tangan untuk membatasi beropersinya bank keliling, mengingat bunganya yang besar dan merugikan masyarakat tanpa sadar.

“Dibatasi operasinya karena merugikan, tapi memang tidak bisa dijerat seenaknya,” kata dia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *