Jelajah UMKM 2025: Perjalanan seabad Tahu Talaga Yun Sen menjaga DNA rasa

Posted on

PasarModern.com, BANDUNG — Kota Bandung telah lama dikenal sebagai surga kuliner yang tak pernah kehabisan daya tarik. Dari mulai kudapan kekinian, hingga makanan legendaris komplit ada di sana.

 

Jejak itu terlihat jelas dari banyaknya kuliner legendaris yang tetap terawat hidup memberikan cita rasa yang terjaga dari satu generasi, ke generasi lainnya, bahkan di antara gempuran jajanan dan hidangan modern yang silih berganti.

 

Salah satunya adalah Tahu Talaga Yun Sen yang menjelma menjadi sebuah warisan rasa, yang mampu berdiri kokoh sejak satu abad lalu. Meski sudah melintasi tiga generasi, Tahu Talaga Yun Sen mampu menjaga cita rasa meski zaman terus berubah.

 

Tepatnya di Jalan Sudirman 227, Cibadak, Kecamatan Astanaanyar, Kota Bandung, Tahu Talaga Yun Sen tak sulit ditemui. Meski akses masuk berupa gang kecil sepanjang kurang lebih 20 meter, pengunjung akan merasakan pengalaman berbeda saat memasuki area produksi sekaligus toko dari Tahu Talaga Yun Sen ini.

 

Lebih dari sekadar pabrik tahu, tempat ini adalah monumen hidup tentang menjaga kualitas, merawat kepercayaan, dan menghormati akar lokal.

 

Pemilik sekaligus penerus bisnis Tahu Talaga Yun Sen, Hendra Gunawan menceritakan perjalanan panjang usaha leluhurnya itu. Perjalanan pengolahan kedelai menjadi tahu ini bermula pada 1923.

Sejarah Tahu Yun Sen

Didirikan oleh Liu Phak Phine, kakek Hendra, pabrik ini awalnya bernama “Yun Sen,” yang bermakna ‘seterusnya maju’. Nama yang sarat optimisme ini lahir dari jerih payah Liu Phak Phine yang menghabiskan 15 tahun bekerja di perusahaan pertambangan kolonial Belanda.

 

Bersama sang istri, Mak Ilot yang merupakan Mojang dari Talaga, Majalengka, mereka menyulap rumah sederhana menjadi pabrik tahu. Kolaborasi kultural antara perantau dan pribumi ini menjadi fondasi kuat yang kini menjadi pijakan bisnis tahu terkemuka di Bandung itu.

 

Seiring waktu, nama ‘Talaga’ disematkan untuk melengkapi nama ‘Yun Sen’, mengabadikan tanah kelahiran Mak Ilot dan menjadi simbol akar mula bisnis ini bisa lahir.

 

Hendra yang merupakan lulusan Teknik Mesin dari California State University, Long Beach, AS, sekaligus generasi ketiga bisnis ini, memberikan sentuhan modern yang kekinian. Memadukan antara warisan leluhur dengan perkembangan zaman.

 

Hendra yang sudah memahami dengan alur bisnis leluhurnya, hadir dengan menerapkan standar produksi dan kualitas produk yang ketat, sekaligus berinovasi dengan meluncurkan tahu organik dan mengembangkan pemasaran hingga ke pelbagai daerah, dari Jakarta hingga Pulau Dewata, Bali.

 

Hendra mengatakan, tidak ada resep abadi yang diterapkan leluhurnya agar bisnisnya awet. Namun, ia mengakui ada satu nilai yang selalu dijaga secara estafet, yaitu kejujuran dan konsistensi yang tidak pernah pudar setiap kali kalender berganti.

 

Bagi dia, loyalitas pelanggan bukanlah semata keberuntungan, melainkan buah manis dari komitmen menjaga mutu. Di lorong sempit di Jalan Sudirman, hilir mudik mobil-mobil pelanggan setia silih berganti berdatangan yang menjadi bukti buah nilai yang ia anut.

 

“Kalau konsumen sudah percaya, jangan sekali-kali membohongi mereka karena begitu mereka dibohongi, mereka tak akan kembali lagi,” ujar Hendra kepada Tim Jelajah UMKM Bisnis Indonesia.

 

Demi menjaga kualitas prima dan higienitas, Tahu Talaga tidak segan membayar mahal untuk bahan baku terpilih, bahkan jika itu membuat harga produk mereka sedikit lebih tinggi. Namun, di mata konsumen setia, harga itu menjadi sebanding.

 

Fakta menarik lainnya, Tahu Talaga membuktikan bahwa bahan bermutu tinggi tak melulu harus diimpor. Mereka memilih untuk bermitra dengan produsen lokal, salah satunya menggandeng petani-petani di Jawa Timur yang teruji dalam menjaga mutu kedelai terbaik.

 

“Ada 2-3 suplier yang memasok kami,” kata Hendra.

 

Dengan dibantu 35 karyawannya, ia mampu mengolah 5-6 kuintal kedelai menjadi belasan varian tahu, dari tahu kuning hingga tahu sutra, juga dikembangkan susu kedelai dan olahan kedelai lainnya.

 

“Kami hanya membuat tahu pagi untuk dihabiskan siang, lalu bikin siang untuk sore. Tak ada yang ditaruh berjam-jam. Kami selalu fresh [segar],” jelas Hendra.

 

Kesetiaan pada kualitas, menjaga kepercayaan pelanggan, dan inovasi yang tak henti telah menjadikan Tahu Talaga Yun Sen bukan sekadar pabrik, melainkan menjadi bahan ajar inspiratif bagi siswa sekolah, kampus, bahkan pemerintahan.

 

Hendra mengatakan, tahu buatannya tak hanya bisa dinikmati di tempatnya saja, karena kini sudah banyak UMKM hingga restoran di Bandung, Jakarta hingga Bali yang menggunakan tahu produksinya.

 

Hendra pun mengatakan, saat ini pihaknya terus mengembangkan bisnis dengan menggandeng SMBC Indonesia, terutama dalam pengadaan mesin-mesin, penambahan boiler, pembelian bahan baku dalam jumlah besar untuk stok saat harga fluktuatif, hingga rencana pembukaan cabang baru.

 

Selain dukungan permodalan, Tahu Talaga juga memanfaatkan layanan digital SMBC Indonesia, TouchBiz, untuk mempermudah seluruh transaksi operasional, termasuk transfer dan pembayaran gaji karyawan.

 

Ke depan, perusahaan menargetkan ekspansi pabrik ke wilayah lain di Indonesia, khususnya di kota-kota besar seperti Surabaya, Jawa Timur dan Medan, Sumatra.

 

Tahu Talaga juga memiliki ambisi untuk melakukan ekspor ke negara-negara tetangga di Asia Tenggara, seperti Malaysia dan Singapura, yang dinilai memiliki pasar potensial karena tingginya minat konsumen di sana terhadap produk tahu Tahu Talaga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *