Cacar Monyet: Penyakit Zoonosis yang Perlu Diwaspadai
Cacar monyet atau Monkeypox adalah penyakit zoonosis langka yang disebabkan oleh infeksi virus monkeypox, yang termasuk dalam genus Orthopoxvirus. Meskipun nama penyakit ini merujuk pada monyet, virus ini sebenarnya lebih sering ditemukan pada berbagai hewan pengerat dan primata di kawasan Afrika. Penyakit ini dapat menular dari hewan ke manusia maupun dari manusia ke manusia, sehingga memerlukan kewaspadaan dan persiapan sistematis dari sektor kesehatan.
Gejala Awal Cacar Monyet
Infeksi virus monkeypox memiliki masa inkubasi yang bervariasi, biasanya berkisar antara 6 hingga 13 hari, meskipun bisa mencapai 5 hingga 21 hari setelah paparan. Setelah masa inkubasi, penderita memasuki fase prodromal, yang ditandai dengan gejala sistemik seperti demam akut (di atas 38,5°C), sakit kepala berat, nyeri otot, sakit punggung, lemas, dan rasa menggigil. Ciri khas klinis yang sangat vital adalah munculnya limfadenopati atau pembengkakan kelenjar getah bening, yang biasanya terjadi di area leher, ketiak, atau selangkangan.
Fase Ruam Kulit (Erupsi)
Fase erupsi atau kemunculan ruam kulit merupakan tahap krusial dalam infeksi cacar monyet. Ruam ini biasanya dimulai 1 hingga 3 hari setelah timbulnya demam dan gejala prodromal lainnya. Lesi pertama kali muncul di wajah, lalu menyebar ke seluruh tubuh, termasuk telapak tangan, telapak kaki, dan area genital. Perkembangan lesi melalui beberapa tahapan: makulopapular, lepuh berisi cairan bening, nanah, koreng, dan akhirnya rontoknya keropeng. Proses ini biasanya berlangsung selama 2 hingga 4 minggu, dengan risiko komplikasi jika virus menyebabkan infeksi mata atau paru-paru.
Penularan Virus
Penularan cacar monyet dapat terjadi melalui dua jalur utama: dari hewan ke manusia (zoonosis) dan dari manusia ke manusia (antroponosis). Penularan zoonosis terjadi melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi, seperti primata, tupai, atau tikus, atau melalui konsumsi daging hewan liar yang tidak matang. Sementara itu, penularan antarmanusia terjadi melalui kontak langsung dengan cairan tubuh penderita, bahan lesi/koreng, atau benda-benda yang terkontaminasi (fomites). Percikan air liur saat batuk atau bersin juga bisa menjadi media penularan.
Kesiapan Faskes: Isolasi dan Pencegahan Infeksi
Prinsip utama dalam penanganan penyakit infeksi menular seperti cacar monyet adalah isolasi yang ketat untuk mencegah penularan lebih lanjut. RSUD Waled di Kabupaten Cirebon telah menunjukkan kesiapsiagaan dengan menyiapkan ruang isolasi khusus di lantai 3 gedung rumah sakit, dengan kapasitas 30 tempat tidur. Ruangan ini dirancang khusus untuk penanganan kasus infeksi dan infeksi menular, dilengkapi fasilitas penunjang dan didukung oleh tim pencegah infeksi nosokomial.
Ruang isolasi ini sebelumnya digunakan untuk merawat pasien Tuberkulosis (TBC) sensitif obat dan TBC resisten obat, menunjukkan bahwa standar ketat sudah terpenuhi. Selain itu, kesiapan penanganan diperkuat dengan adanya fasilitas highcare dan intensivecare, yang esensial untuk kasus cacar monyet yang memerlukan perawatan intensif.
Langkah Pencegahan yang Efektif
Masyarakat diimbau untuk tidak panik tetapi tetap waspada terhadap penyebaran cacar monyet. Langkah-langkah pencegahan utama berpusat pada penerapan protokol kesehatan dan menjaga kebersihan. Hal-hal yang perlu dilakukan meliputi rajin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, menggunakan masker terutama di tempat ramai, menghindari kontak fisik langsung dengan penderita, serta tidak menggunakan barang pribadi bersama penderita. Hindari juga kontak dan konsumsi hewan liar, serta pastikan daging dimasak hingga matang sebelum dikonsumsi.
Masyarakat yang mengalami gejala cacar monyet, terutama demam yang diikuti dengan munculnya ruam dan pembengkakan kelenjar getah bening, diimbau untuk segera memeriksakan diri di fasilitas kesehatan (faskes) terdekat. Deteksi dini dan penanganan yang cepat sangat penting, seperti yang ditekankan oleh dr. Mohammad Luthfi. Meskipun saat ini belum ada kasus cacar monyet yang dirujuk ke RSUD Waled, persiapan yang sistematis adalah kunci untuk memastikan pasien dapat segera diisolasi dan ditangani dengan tepat guna meminimalisir penyebaran virus monkeypox di masyarakat.


