Istri Shinzo Abe Menangis Setelah 3 Tahun, Tunggu Persidangan Yamagami

Posted on

Perjalanan Berduka dan Penerimaan Akie Abe

Tiga tahun setelah insiden tragis yang mengakhiri kehidupan mantan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe, istri almarhum, Akie Abe (63), akhirnya melepas air mata. Dalam wawancara dengan surat kabar Mainichi yang dimuat Minggu (26/10/2025), Akie berbagi tentang hari-hari penuh gejolak sejak tragedi pada 8 Juli 2022 dan refleksi pribadinya selama masa berkabung.

Akie mengenang pagi yang tampak biasa: sarapan bersama suami dan ibu mertuanya di rumah mereka di Fukaya, Tokyo, sebelum Abe berangkat berkampanye menuju Kota Nara. “Ia pamit dengan senyum, lalu pergi,” kata Akie. Beberapa jam kemudian, rumah tangga mereka diguncang oleh kabar penembakan. Akie bergegas membawa pakaian ganti suami dan berangkat menuju rumah sakit namun upaya itu berakhir tragis ketika Abe dinyatakan meninggal.

Sejak saat itu, Akie menjalani rangkaian acara publik yang melelahkan: vigil, pemakaman kenegaraan, serta pemakaman di Yamaguchi. Meski biasanya mudah menangis, ia mengaku sempat tidak mampu mengeluarkan air mata karena terperangkap dalam keterkejutan dan tugas-tugas yang harus dijalankan.

Buku Harian dan Titik Balik

Keputusan pindah dari rumah lama pada 2024 memberi Akie ruang untuk memilah kenangan. Saat merapikan barang-barang, ia menemukan buku harian Abe yang ditulis sejak masa kecil—di antaranya catatan harapan untuk bekerja bagi Jepang dan dorongan dari teman agar ia menjadi Perdana Menteri di masa depan. Membaca kembali tulisan itu memberi Makie kekuatan baru dan mengingatkan akan jejak panjang Abe di panggung politik Jepang, termasuk masa jabatannya yang mencapai 8 tahun 8 bulan, catatan terpanjang dalam era konstitusional Jepang.

Dari Kehilangan ke Aktivitas Sosial

Meski berduka, Akie secara bertahap memilih menjalankan aktivitas sosial yang pernah dilakukan sebelum tragedi. Salah satunya adalah memberikan ceramah di lapas dan pusat pembinaan remaja. Pengalaman itu membawanya pada refleksi mendalam ketika menerima surat dari seorang narapidana yang menyatakan penyesalan sebuah peristiwa yang membuka perspektif baru bagi Akie tentang penebusan dan kemanusiaan.

Menyinggung Terdakwa dan Proses Hukum

Persidangan terdakwa, Tetsuya Yamagami (45), yang didakwa menembak Abe, dijadwalkan dimulai pada 28 Oktober 2025. Mengenai terdakwa, Akie memilih menahan diri. “Saya ingin semuanya jelas, saya tidak bisa berbicara tentang persidangan lagi,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa meski ada banyak pertanyaan tentang motif, kekerasan bukanlah jalan keluar—dan kebencian hanya melahirkan kebencian.

Mengakhiri wawancara, Akie memandang kembali kehidupan suaminya dengan rasa campur: “Usia 67 tahun mungkin singkat, tetapi ia menyelesaikan pekerjaan besar. Saya ingin berpikir itu adalah kehidupan yang bahagia bagi suami saya,” katanya. Setelah tiga tahun, baru belakangan ini ia mengaku bisa meneteskan air mata—sebuah tanda bahwa proses berkabung dan penerimaan berjalan secara bertahap.

Kronologi Penembakan

Abe ditembak oleh Tetsuya Yamagami pada Jumat (8/7/2022) siang, sore hari sekitar pukul 17.05 waktu setempat, Shinzo Abe dinyatakan meninggal dunia akibat kehabisan darah. Shinzo Abe menghembuskan napas terakhir setelah kritis akibat ditembak dan sempat menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Shinzo Abe ditembak Jumat pagi saat sedang menyampaikan pidatonya dalam kampanye untuk anggota partainya di Kota Nara, Jepang.

Pelaku penembakan, Tetsuya Yamagami (41), seorang mantan anggota badan beladiri Marinir Jepang (MSDF) ditangkap tak lama setelah melakukan aksinya. Kepolisian Jepang mengungkap penembakan yang dilakukan Tetsuya Yamagami terhadap mantan PM Jepang Shinzo Abe karena dendam terkait kelompok agama tertentu di Jepang.

Sosok Pelaku

Pelaku pembunuhan, Yamagami tinggal di Omiya-cho Nara, pada tahun 2002-2005 bekerja sebagai anggota pasukan beladiri Marinir Jepang. Setelah itu tidak jelas pekerjaannya alias pengangguran sampai akhirnya Yamagami terdaftar di perusahaan pengiriman di Prefektur Osaka selama sekitar satu setengah tahun hingga Mei 2022. Dia kemudian dikirim ke gudang di Prefektur Kyoto untuk membawa barang bawaan dengan forklift, sebagai pekerja kasar.

Orang yang bertanggung jawab atas perusahaan pengiriman itu mengatakan, “Saya memiliki kesan yang tenang mengenai dia karena hanya ada sedikit kata.” Karyawan yang lain mengatakan, “Dia jarang menghabiskan waktu dengan orang-orang di sekitar saya, dan tampaknya dia makan siang di mobil pribadinya.” Pada bulan April, Yamagami menawarkan diri untuk pensiun dari perusahaan pengirim dengan mengatakan bahwa dia “sakit”. Dia berhenti pada pertengahan Mei setelah mengambil cuti berbayar.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *