Inovasi Mahasiswa dalam Pengelolaan Sampah
Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi berupaya membangun mindset riset di kalangan perguruan tinggi, termasuk para mahasiswa. Hal ini bertujuan untuk menciptakan solusi yang dapat menjawab permasalahan masyarakat, salah satunya adalah masalah sampah. Sampah menjadi isu penting yang menghimpit banyak wilayah, termasuk Bandung Raya.
Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Komputer Indonesia (Unikom) melakukan kegiatan PKM Berdampak sebagai bentuk kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat. Program ini menunjukkan bahwa inovasi mahasiswa bisa menjadi solusi yang signifikan.
Teknologi Pencacah Sampah dan Budidaya Maggot Cerdas
Program PKM Berdampak diterapkan di Desa Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung. Warga setempat menghadapi tantangan dalam pengelolaan sampah rumah tangga, terutama sampah organik yang sulit diolah. Keterbatasan alat pencacah menyebabkan proses penguraian lambat dan sering menimbulkan bau yang mengganggu.
Untuk merespons tantangan tersebut, BEM Unikom meluncurkan program PKM Berdampak. Program ini merupakan hasil kolaborasi antara BEM Unikom, Codelabs, dan Labkat. Tujuannya adalah menciptakan solusi berkelanjutan melalui teknologi. Dalam program ini, limbah organik diubah menjadi sumber ekonomi baru melalui teknologi pencacah sampah dan budidaya maggot cerdas berbasis Artificial Intelligence (AI).
Dukungan dari Akademisi
Program ini dibimbing oleh Dr. Supriyati dan Dian Kartika, S.T., M.T. Keduanya memberikan arahan agar setiap tahapan berjalan efektif dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Program ini juga merupakan hasil sinergi antara BEM Nandanasena, Codelab, dan Labkat Unikom dengan partisipasi sekitar 16 mahasiswa dari BEM Nandanasena Uniko, 4 dari Codelab, dan 2 dari Labkat.
Penanggung jawab kegiatan, Moch Nafis Azhar, menjelaskan bahwa panitia berasal dari berbagai program studi seperti Teknik Informatika, Sistem Informasi, Ilmu Komunikasi, Manajemen, Akuntansi dan Komputerisasi Akuntansi. Ini menunjukkan keterlibatan lintas disiplin ilmu dalam program ini.
Harapan dan Tantangan
Dalam sambutannya, Supriyati menekankan pentingnya penerapan teknologi yang tepat di masyarakat sebagai langkah menuju lingkungan yang lebih bersih dan berdaya. “Kami berharap alat ini tidak hanya menjadi solusi dalam pengelolaan sampah, tetapi juga memicu perubahan pola pikir warga akan pentingnya daur ulang dan kemandirian lingkungan,” katanya.
Program PKM Berdampak ini juga menunjukkan keseriusan Unikom dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, terutama dalam aspek pengabdian kepada masyarakat. Melalui penggunaan teknologi berbasis AI dalam sektor lingkungan, Desa Mekarmanik diharapkan dapat menjadi model penerapan inovasi pintar di level desa, sekaligus memperkuat kerjasama antara perguruan tinggi dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang mandiri, bersih, dan berkelanjutan.
Tantangan BEM Berdampak
Ketua Pelaksana kegiatan, Andrias Darmayadi, menjelaskan bahwa program ini merupakan bagian dari tantangan BEM Berdampak yang mengedepankan pentingnya tindakan nyata mahasiswa dalam menangani isu lingkungan. “Tantangan ini berfungsi sebagai sarana bagi mahasiswa untuk menunjukkan bahwa inovasi harus memberikan dampak langsung.”
Kegiatan dimulai dengan penyerahan alat pencacah sampah otomatis dan sistem budidaya maggot berbasis AI kepada pemerintah Desa Mekarmanik. Inovasi ini diharapkan menjadi solusi konkret terhadap permasalahan pengelolaan sampah organik sekaligus mendorong warga agar lebih mandiri secara ekologis.
Respons Masyarakat
Warga menyambut antusias alat yang diperkenalkan karena selain mempercepat proses pengolahan, hasil cacahannya dapat digunakan kembali sebagai bahan dasar pakan maggot maupun pupuk organik. Dukungan nyata ini disampaikan langsung oleh Kepala Desa Mekarmanik Nanang. Menurut dia, Desa Mekarmanik membutuhkan solusi atas permasalahan penanggulangan sampah.
Ketua RW 04 dan RW 05 Desa Mekarmanik pun mengaku terbantu dengan adanya alat ini. Sebelumnya, pengelolaan sampah dilakukan secara manual dan membutuhkan waktu yang lama. Sekretaris Karang Taruna RW 04, Rahmat Hidayat, turut memberikan testimoni mengenai penerimaan mesin. “Alhamdulillah, sudah kita coba. Untuk sebelumnya pengelolaan sampah basah di RW 04 masih sangat susah, namun sekarang sudah terbantu dan bisa digunakan untuk pakan maggot.”
Pelatihan dan Kolaborasi
Setelah penyerahan alat, kegiatan berlanjut dengan sesi Pemaparan Teori Pembudidayaan Maggot, dilanjutkan dengan Praktik Budidaya Maggot secara intensif di lokasi budidaya. Dalam sesi praktik ini, warga Desa Mekarmanik tidak hanya diberikan informasi mendalam mengenai tahapan siklus maggot dan manfaatnya, tetapi juga diajak untuk ikut langsung mempraktikkan cara membudidaya maggot dengan baik.
Pelatihan disempurnakan dengan Pengaplikasian Sistem Maggot Cerdas berbasis AI, serta sesi games interaktif di mana peserta diminta mempraktikkan ulang budidaya maggot, menunjukkan tingkat penyerapan materi yang tinggi. Kolaborasi ini bukan sekadar seremonial. Apresiasi tinggi ditunjukkan masyarakat, yang menilai kegiatan ini sebagai nilai lebih yang mampu mendorong perubahan nyata.
Sekretaris Desa Mekarmanik secara khusus menyampaikan apresiasinya terhadap inisiatif mahasiswa. Diharapkan, kegiatan ini terus berlanjut sampai tahun ke-3 yaitu evaluasi kegiatan. Selain menyerahkan alat dan melatih, mahasiswa juga mendorong warga untuk berkomitmen menjaga keberlanjutan program. Kegiatan ditutup dengan diskusi interaktif yang membahas tantangan dan strategi dalam pengelolaan sampah berbasis teknologi, sekaligus memperkuat kerjasama antara mahasiswa dan masyarakat.


