Pengalaman Suci dan Eko dalam Menghadapi Tantangan UMKM
Suci (58) menunjukkan ekspresi ngeri, ketika membaca artikel yang menyebutkan tentang rumah warga Girimarto Wonogiri yang dibakar oleh orang tak dikenal. Dalam berita tersebut, terdapat dugaan adanya ancaman dari penagih bank plecit. Fenomena ini belakangan marak terjadi di Solo Raya, Jawa Tengah, khususnya di desa-desa.
“Biasanya mereka berkeliling menawarkan bantuan hanya modal KTP. Lantas menawarkan pinjaman, bisa dibayar bulanan atau mingguan, tergantung orangnya (peminjam),” kata Suci saat ditemui PasarModern.com di lapak ayam geprek miliknya di Nguter, Sukoharjo, pada Sabtu (29/11/2025).
Menurut dia, selama ini bank plecit yang di daerahnya di Nguter, Sukoharjo, dikenal dengan nama ‘bank titil’ menargetkan korban ibu-ibu yang sedang merintis usaha (pelaku UMKM). Dia mengisahkan, ada tetangganya yang kala itu sedang “kepepet butuh” terpaksa mengajukan pinjaman. Namun nahas, ketika jualan sepi bikin angsuran macet. Walhasil, tetangganya itu kena teror saban hari. Penagih utang datang menggedor pintu tak kenal waktu. Akhirnya jadi omongan tetangga.
“Akhirnya semua dijual-jual. Perabotan rumah, gas elpiji, peralatan untuk dagang,” ucap Suci.
Berdasarkan pengakuan tetangganya itu, jumlah pinjaman tak sepadan dengan bunga. Ada yang meminjam Rp1 juta tapi karena telat bayar bisa kena bunga hingga dua kali lipat jumlah pinjamannya. Nominal sejuta-dua juta rupiah kata Suci amatlah besar bagi pedagang kecil seperti dia dan tetangga-tetangganya di desa.
“Dia sekarang akhirnya kabur ke Kalimantan sama suami dan anaknya,” Suci lirih menjabarkan nasib sang tetangga.
Suci pun mengenang ketika dirinya nyaris terkena rayu Bank Plecit, kala membutuhkan pinjaman untuk menambah modal usahanya. Hal itu terjadi pada medio 2021 lalu, kala pandemi mengguncang UMKM. Warung soto Suci ketika itu sepi pembeli, demi bertahan hidup, dia mulai memikirkan berjualan makanan lainnya.
Terbersitlah ide jualan ayam geprek, karena rumahnya dekat dengan sekolahan dan jadi akses pergi-pulang para pekerja pabrik. Tak mau merepotkan suami dan anak, dia mencari pinjaman modal Rp10 juta. Sempat ada bank plecit yang menawari dengan agunan hanya foto KTP asli saja.
“Tapi dipikir-pikir kok bunga terlalu tinggi. Lalu potongan uang yang dipinjam juga cukup besar,” kenang Suci.
Dia lalu teringat masih memiliki sertifikat tanah warisan almarhum ibu. Atas persetujuan suami, dirinya pun mengajukan pinjaman Kupedes di Bank BRI Kepuh, Sukoharjo, Jawa Tengah. Syarat mengajukan Kupedes itu menurutnya cukup agunan sertifikat, KTP, surat keterangan usaha, dan dia mengisi formulir.
Suci lalu dibuatkan buku rekening BRI yang juga bisa menjadi rekening tabungannya. Dalam sehari kata dia pinjaman langsung cair, di mana dirinya mengambil tenor dua tahun. Ketika lunas, sertifikat yang diagunkan juga mudah kembali tanpa kurang suatu apapun.
Kupedes BRI ternyata membuka pintu bagi Suci untuk mengembangkan bisnisnya. Insting ibu dua anak ini untuk membuka warung ayam geprek ternyata disambut baik pelanggan. Setiap hari lapaknya bisa menjual 6 kilogram ayam yang ludes dalam waktu 4 jam, belum lagi seperti lauk-lauk lainnya, aneka minuman, dan nasi.
Suci pun berencana membuka cabang lain, namun saat ini masih survei lokasi.
Kata Suci, dia amat beruntung tak tergoda pinjaman bank plecit. Dia tak bisa membayangkan apabila terjerat bank plecit dan ternyata malah tak bisa membayar. Teror demi teror atau gangguan mungkin saat ini bisa saja mengusik dia dan keluarganya.
“Apalagi kebanyakan mereka (bank plecit) itu pakaiannya rapi-rapi. Bahkan ada yang mengaku dari bank atau koperasi resmi, makanya banyak yang tergoda, apalagi ibu-ibu,” ungkapnya.
Dia berujar, kata tetangga-tetangganya banyak bank plecit menyaru sebagai bank BUMN sehingga seolah-olah resmi. Kesepakatan bunga di awal tidak sesuai dengan realita ketika angsuran sudah berjalan. Konon, perusahaan pembiayaan ini acapkali menggunakan jasa pihak ketiga untuk menagih dengan cara intimidatif dan berpotensi berujung kekerasan.
“Berbeda dengan Mantri BRI, yang rutin mengingatkan pembayaran angsuran lewat WhatsApp dan kata-katanya juga sopan,” pungkas dia.
Langkah Suci membuka lapak di desanya pun diikuti oleh para tetangganya. Salah satunya adalah Eko Ari (42). Dia membuka lapak es campur dan es buah dengan peran serta BRI. Berawal dari sang istri yang ingin mencari uang sendiri, Eko pun memutar otak.
Setelah menimbang-nimbang, dia memilih membuka lapak es campur dengan gerobak sederhana. Modalnya seingat dia adalah Rp5 jutaan, di mana Rp3 juta untuk beli gerobak, Rp2 jutaannya untuk membeli bahan baku dan peralatan.
Usaha es campur miliknya itu kini sudah berjalan 2 tahun dengan dihandle oleh sang istri langsung.
Layaknya warung kekinian, Eko pun melengkapi lapaknya dengan QRIS BRI. Di samping itu, pria yang berprofesi sebagai tukang fotocopy ini juga menginstal aplikasi BRImo untuk mengecek tabungan dan pemasukan-pengeluaran warung es miliknya.
Tidak dinyana, aplikasi BRImo ini malah membuatnya bisa mencari cuan sendiri lewat fitur dompet digital (seperti DANA dan ShopeePay), pulsa dan paket data, voucher game (seperti untuk Mobile Legend, PlayStation Store, Steam), dan voucher streaming (seperti Vidio, Spotify).
“Di sini di desa banyak yang isi Dana, isi pulsa, isi paket data Mas, saya yang gaptek ini malah baru tahu bisa lewat BRImo,” ucap Eko.
Hanya dari handphone produksi Tiongkok miliknya, Eko mengaku bisa mendapatkan recehan yang menurut dia jumlahnya lumayan untuk mentraktir istri. Kini, Eko berharap usahanya top up dan warung es milik sang istri bisa maju. Ayah dua anak ini tidak menampik jika BRI sangat membantu UMKM-UMKM di desa.
Dia sendiri jika pun kelak membutuhkan modal menyebut akan memilih BRI ketimbang bank plecit.
“Yang terpenting memang kalau belum punya modal itu bersabar. Jangan buru-buru pinjam ke bank abal-abal,” pesannya.
Tak cuma bank plecit yang kini meneror desa-desa dan berpotensi mematikan UMKM. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang terakhir memperbarui daftar pinjol legal pada 7 November 2025 melalui Direktori Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi (LPBBTI), OJK sudah memblokir 611 entitas pinjol ilegal yang beroperasi melalui situs maupun aplikasi.
Selain itu, OJK juga menindak 96 layanan pinjaman pribadi dan 69 penawaran investasi ilegal yang melakukan pemalsuan identitas, duplikasi situs, hingga penipuan rekrutmen kerja paruh waktu.
BRILink Bisa jadi Solusi Masyarakat Pedesaan Terhindar dari Bank Plecit
Menanggapi maraknya bank plecit di desa-desa, Dosen Bisnis dan Manajemen Universitas Bojonegoro (Unigoro) menekankan pentingnya agen-agen bank di desa menyampaikan edukasi keuangan kepada masyarakat, utamanya UMKM.
“Kasus pada desa desa pelosok yang minim akses. Saluran perbankan menjadi salah satu sumber literasi dan inklusi keuangan, baik itu layanan dan program-program yang ditawarkan agen agen keuangan. Dan dampaknya, minimal masyarakat desa bisa memahami skema pinjaman untuk peningkatan usaha. Tidak terjerumus pada pinjaman pinjaman dengan bunga yang besar,” kata Rizqi saat dihubungi PasarModern.com.
Selain itu kata dia, bank-bank di Indonesia saat ini juga harus melek transformasi digital. Aplikasi perbankan memang perlu, namun di samping itu harus punya kualitas sistem.
“Hanya saja sampai saat ini masing-masing layanan digital perbankan belum memiliki kualitas sistem yang tinggi yang merata. Ke depannya, digitalisasi perbankan tidak harus fokus pada pembuatan produk digital, namun pada keamanan dan ketangguhan sistem,” kata dia.
Rizqi yang aktif dalam agenda kemandirian ekonomi pemuda ini mengingatkan ada bahaya lain yang mengancam masyarakat desa selain bank plecit. Yakni judi online dan pinjaman online.
Untuk hal ini memang kata dia perlu kolaborasi masyarakat desa dan Agen BRILink misalnya, untuk memberi edukasi kepada nasabah. Ketika nasabah membayar angsuran di BRILink, para agen bisa memberikan literasi soal bahaya segitiga setan, yakni bank plecit, pinjol, dan judi online.
“Yang membentuk habit dan tekanan ekonomi untuk melakukan tindakan yang tidak bijak. Nah, kalau agen bank bisa maksimal melakukan literasi keuangan ke masyarakat. Ada potensi agen agen bank ini menjadi garda terdepan anti judol dan financial error di masyarakat,” tutupnya.
Komitman BRI Dorong Pertumbuhan UMKM hingga ke Desa-desa
Saat ini, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat pelaku UMKM sebagai pilar penting perekonomian nasional. Tidak hanya menyediakan akses layanan keuangan, BRI juga aktif menciptakan ekosistem usaha yang produktif dan berkelanjutan bagi pelaku UMKM di seluruh Indonesia.
Salah satu wujud nyata dukungan tersebut diwujudkan melalui program Klasterku Hidupku, sebuah inisiatif pemberdayaan berbasis komunitas. Melalui program ini, BRI membentuk kelompok usaha berdasarkan kesamaan sektor, kedekatan sosial, hingga wilayah geografis.
Hingga akhir Juni 2025, jumlah klaster usaha binaan BRI telah mencapai 41.217 klaster yang tersebar di berbagai daerah.
Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menegaskan bahwa program Klasterku Hidupku menjadi strategi penting dalam mendorong UMKM naik kelas. Ia berharap klaster-klaster yang sukses dapat menjadi inspirasi bagi UMKM lain.
“Kami berkomitmen mendampingi pelaku UMKM, tidak hanya melalui pemberian modal usaha, tetapi juga pelatihan dan program pemberdayaan agar UMKM semakin tangguh,” ujar Hery.
Dari keseluruhan klaster usaha yang diberdayakan, 82,19 persen berasal dari segmen produksi dan 17,81 persen dari non-produksi. BRI tak hanya membentuk klaster, tetapi juga memperkuat akses keuangan bagi para anggotanya. Dari total 468.820 anggota klaster, sebanyak 402.386 anggota (84,1 persen) telah memiliki rekening BRI.
Selain itu, BRI telah memberikan:
* 2.035 pelatihan dan literasi keuangan
* 548 bantuan sarana dan prasarana produksi
Upaya ini dilakukan untuk mendorong kemandirian usaha sekaligus memperluas inklusi keuangan nasional.
Akses Permodalan Semakin Meningkat
Program Klasterku Hidupku juga berdampak signifikan dalam penyaluran pembiayaan. Hingga Juni 2025, tercatat 170 ribu anggota klaster berhasil memperoleh akses pembiayaan dari BRI. Hal ini menunjukkan peningkatan kemampuan pelaku usaha untuk memperbesar kapasitas dan skala bisnis mereka.
Selain Klasterku Hidupku, BRI juga menjalankan sejumlah program pemberdayaan UMKM lain seperti:
* Desa BRILiaN
* Rumah BUMN
* LinkUMKM
* PARI (Pemberdayaan Replikasi Inovasi)
Seluruh inisiatif tersebut menjadi bukti nyata komitmen BRI dalam mendorong pertumbuhan UMKM sekaligus memperkuat ekonomi kerakyatan, bahkan sampai di desa-desa.


