Hidup Itu Simple, yang Ribet Itu Pikiran
Pernah nggak sih, hidup terasa capek padahal nggak lagi ngapa-ngapain? Badan duduk, tangan main HP, tapi kepala lari ke mana-mana. Dari mikirin masa depan yang belum tentu kejadian, sampai menyesali masa lalu yang jelas-jelas nggak bisa diulang.
Padahal, kalau dipikir ulang dengan jujur, hidup itu sebenarnya cukup sederhana: makan saat lapar, istirahat saat lelah, dan berhenti saat sudah tidak sanggup. Yang bikin semuanya terasa rumit sering kali bukan kenyataannya, tapi pikiran kita sendiri yang hobi lembur tanpa dibayar.
1. Otak Manusia Suka Drama, Bahkan Saat Tidak Diminta
Fakta menarik, otak manusia dirancang untuk mengantisipasi bahaya. Masalahnya, di era sekarang, “bahaya” sering diterjemahkan sebagai overthinking. Chat belum dibalas lima menit? Pikiran langsung ke skenario ditinggal selamanya. Salah ngomong sedikit? Otak replay kejadian itu sampai tiga tahun ke depan.
Hidup sebenarnya cuma menyajikan satu kejadian. Tapi pikiran kita menambahkan soundtrack, efek visual, dan alur cerita tambahan. Akhirnya, satu masalah kecil terasa seperti film berdurasi tiga jam.
2. Kita Terlalu Sibuk Hidup di Masa Depan yang Belum Ada
Salah satu sumber keribetan terbesar dalam hidup adalah kebiasaan kita hidup di masa depan. Kita memikirkan hal-hal yang belum terjadi seolah-olah itu sudah pasti. Takut gagal sebelum mencoba. Takut ditinggalkan sebelum benar-benar ditinggal. Takut miskin padahal belum tentu.
Ironisnya, masa depan tidak pernah meminta kita untuk mengkhawatirkannya berlebihan. Tapi pikiran kita selalu merasa harus siap untuk semua kemungkinan, sampai lupa bahwa hari ini juga butuh dijalani.
Akhirnya, tubuh ada di hari ini, tapi pikiran melompat ke lima tahun ke depan. Tidak heran kita kelelahan.
3. Hidup Tidak Rumit, Tapi Ekspektasi Kita Terlalu Tinggi
Banyak orang merasa hidupnya ribet karena mereka punya ekspektasi yang terlalu tinggi dan sering kali tidak realistis. Kita ingin hidup berjalan sesuai rencana, padahal hidup tidak pernah menandatangani kontrak untuk patuh pada keinginan kita.
Kita ingin:
Sukses cepatBahagia terus selalu harmonisKarier naik tanpa hambatan
Saat realita tidak memenuhi standar itu, kita kecewa. Padahal masalahnya bukan hidupnya yang sulit, tapi harapan kita yang terlalu ideal. Hidup sebenarnya sederhana: ada naik, ada turun. Yang bikin ribet adalah keinginan agar semuanya selalu naik.
4. Pikiran Kita Suka Membandingkan, Padahal Hidup Bukan Kompetisi
Media sosial memperparah keribetan hidup. Kita membandingkan proses kita dengan highlight hidup orang lain. Melihat pencapaian orang lain, lalu merasa tertinggal. Padahal kita tidak tahu cerita lengkap di balik layar mereka.
Pikiran kita jarang adil. Ia selalu membandingkan kondisi terburuk kita dengan kondisi terbaik orang lain. Akhirnya, hidup terasa tidak pernah cukup.
Padahal hidup bukan lomba lari dengan garis finish yang sama. Setiap orang punya jalur, kecepatan, dan rintangannya sendiri. Tapi pikiran kita hobi memaksa semua orang berada di timeline yang sama.
5. Kita Terlalu Keras pada Diri Sendiri Tanpa Sadar
Lucunya, kita bisa sangat pengertian pada orang lain, tapi sangat kejam pada diri sendiri. Orang lain salah, kita maklumi. Kita sendiri salah, langsung menghakimi. Sedikit terlambat, merasa gagal. Sedikit salah langkah, merasa bodoh. Padahal hidup itu proses belajar, bukan ujian sekali jalan.
Keribetan hidup sering kali muncul karena kita menuntut diri sendiri untuk selalu kuat, selalu benar, dan selalu tahu apa yang harus dilakukan. Padahal tidak tahu juga bagian dari hidup.
6. Banyak Hal Tidak Perlu Dipikirkan Terlalu Dalam
Tidak semua hal butuh analisis panjang. Ada masalah yang cukup diselesaikan dengan tindakan sederhana. Capek? Istirahat. Tidak cocok? Pergi. Tidak bahagia? Evaluasi.
Tapi pikiran kita sering merasa harus menemukan makna besar di balik segalanya. Padahal hidup sering memberi jawaban yang sangat sederhana. Kita saja yang terlalu ingin jawaban rumit agar terlihat “masuk akal”. Kadang, hidup tidak meminta kita mengerti, cukup menjalaninya.
7. Pikiran yang Tidak Pernah Diam Membuat Hidup Terasa Berat
Kita hidup di era yang bising. Informasi datang tanpa henti. Opini orang lain masuk ke kepala kita tanpa disaring. Pikiran kita jarang diberi waktu istirahat.
Akhirnya, hidup terasa berat bukan karena bebannya, tapi karena kita membawanya tanpa jeda. Padahal, bahkan mesin pun butuh berhenti agar tidak rusak. Hidup itu sederhana jika pikiran diberi ruang untuk bernapas.
Hidup itu sebenarnya simple. Yang membuatnya ribet adalah pikiran yang terlalu sibuk, terlalu takut, dan terlalu ingin mengendalikan segalanya. Kita sering lupa bahwa tidak semua hal harus dipikirkan, dianalisis, dan dipastikan.
Kadang, hidup hanya butuh dijalani satu hari dalam satu waktu. Tidak perlu menaklukkan segalanya sekaligus. Tidak perlu memahami semuanya hari ini. Mungkin hidup tidak perlu dipermudah. Mungkin yang perlu ditenangkan adalah pikiran kita sendiri. Karena saat pikiran berhenti memperumit, hidup sering kali ikut terasa lebih ringan.


