Hari Kesehatan Nasional Diwarnai Masalah Stunting yang Belum Selesai?

Posted on

Peringatan Hari Kesehatan Nasional ke-61 dan Tantangan Stunting

Peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-61 tahun ini mengusung tema “Generasi Sehat, Masa Depan Hebat”. Namun, di balik semangat tersebut, Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam memastikan kesehatan generasi muda. Salah satu ancaman utama adalah stunting, yang masih menjadi masalah serius bagi kualitas generasi emas 2045.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa masa depan Indonesia sangat bergantung pada keberhasilan saat ini dalam menciptakan generasi sehat dan tangguh. Menurutnya, sebanyak 84 juta anak Indonesia akan mencapai usia produktif pada tahun 2045. Oleh karena itu, hanya ada dua dekade lagi untuk memastikan mereka tumbuh sebagai generasi yang sehat, tangguh, dan unggul.

Dalam sambutan HKN di Jakarta, Budi menjelaskan bahwa transformasi kesehatan nasional terus berjalan dengan fokus pada pencegahan dan peningkatan layanan primer. Fokus utamanya telah bergeser dari mengobati orang sakit menjadi menjaga agar orang tetap sehat. Ia juga menyebutkan bahwa prevalensi stunting balita turun di bawah 20 persen, yaitu menjadi 19,8 persen. Meskipun angka ini menunjukkan kemajuan signifikan, masih jauh dari target nasional sebesar 14 persen.

Budi menekankan bahwa perbaikan layanan primer melalui puskesmas menjadi kunci dalam upaya membangun sistem kesehatan yang tangguh. Hingga kini, 8.349 puskesmas telah menerapkan integrasi layanan primer, dan lebih dari 324.000 kader kesehatan di posyandu dilatih dengan 25 keterampilan dasar. Hal ini menjadi fondasi untuk mencegah penyakit dan meningkatkan gizi anak-anak Indonesia.

Edukasi Gizi di Masyarakat

Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Piprim Basarah Yanuarso, menilai bahwa persoalan stunting di Indonesia berakar pada minimnya edukasi gizi masyarakat. Menurutnya, banyak orangtua masih salah dalam memberi makanan pada anak. Masih banyak orangtua yang memberi makan anaknya asal kenyang, tanpa memperhatikan kandungan nutrisi.

Ia menegaskan bahwa protein hewani seperti ikan, telur, dan daging harus menjadi prioritas dalam pola makan anak. Sayangnya, hal ini belum benar-benar disadari oleh para orangtua. Ironisnya, banyak orangtua nelayan justru memberi anak mi instan, padahal ikan adalah solusi untuk mencegah stunting.

Piprim juga menyoroti program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) lokal yang sering disalahartikan di lapangan. Banyak PMT lokal malah berupa bubur kacang hijau atau nagasari tanpa protein hewani. Ia mengusulkan gerakan konsumsi telur nasional sebagai solusi konkret. Menurutnya, untuk mencukupi protein bisa dilakukan dengan rutin memberikan pangan seperti telur, ikan atau daging merah.

Mie Instan Bukan Solusi Gizi

Piprim menilai, saat ini, banyak masyarakat menjadikan mie instan sebagai pangan bergizi. Padahal, mie instant sama sekali tidak mampu mencegah stunting. Ia menegaskan bahwa edukasi di masyarakat masih kurang, dan pekerja di posyandu bahkan perlu edukasi secara konsisten agar pemahaman mengenai gizi bisa optimal.

Menurut Piprim, banyak keluarga yang tidak teredukasi gizi. Ada banyak orangtua yang cenderung asal-asalan dalam memberikan makanan untuk anaknya. Dia menegaskan bahwa orangtua sebaiknya tidak memberikan snack atau junk food untuk anak-anak, karena meskipun anak terlihat memiliki badan yang gemuk, bukan berarti memiliki gizi yang baik.

Program MBG Belum Sentuh Akar Masalah

Menurut Piprim, saat ini program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah, belum menyentuh akar masalah. Meski demikian, program tersebut dianggap bagus untuk menambah gizi. Ia menyarankan agar program MBG yang menyasar ibu hamil dan balita bisa diperluas.

Anggota Komisi IX DPR RI, Edy Wuryanto, juga menyoroti masih tingginya angka stunting di sejumlah daerah. Ia mengapresiasi program MBG namun meminta agar sasaran diperluas, sehingga masalah stunting bisa teratasi dengan tepat. Prioritas pertama harus ibu hamil, ibu menyusui, dan bayi di bawah dua tahun.

Akar Masalah pada Ketimpangan Ekonomi

Guru Besar Fisipol UGM sekaligus pengamat kebijakan publik, Prof Wahyudi Kumorotomo, menilai bahwa masalah stunting tidak cukup diselesaikan lewat program pangan instan seperti MBG. Ia menegaskan bahwa pencegahan stunting harus dimulai dari ibu hamil. Itu hanya bisa dilakukan kalau pendapatan keluarga cukup untuk membeli makanan bergizi.

Wahyudi juga menyoroti ketimpangan dalam pengalokasian anggaran. Menurutnya, pemerintah perlu memikirkan anggaran kesehatan di desa-desa, utamanya yang banyak warganya bermasalah dengan gizi. Ia menegaskan bahwa pemberdayaan ekonomi keluarga dan lapangan kerja layak jauh lebih efektif daripada program karitatif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *