Perak Melampaui Ambang Batas Psikologis
Harga perak mencatat pencapaian penting di pasar global setelah sempat menembus level psikologis 100 dolar AS per ons pada perdagangan Jumat (23/1/2026). Lonjakan ini memperpanjang reli yang paling dramatis dalam beberapa dekade terakhir. Harga spot perak sempat menyentuh rekor tertinggi di 100,22 dolar AS per ons sebelum sedikit turun, tetapi tetap bertahan di atas ambang batas yang selama bertahun-tahun dianggap sebagai tolok ukur oleh pelaku pasar.
Kenaikan tajam ini didorong oleh kombinasi kuat antara partisipasi investor ritel, strategi perdagangan berbasis momentum, serta pasokan fisik yang semakin ketat. Reli harga perak juga terjadi bersamaan dengan rekor tertinggi baru pada emas dan platinum, menegaskan kekuatan yang lebih luas di seluruh kompleks logam mulia di tengah pelemahan tajam dollar AS.
Namun, di balik euforia tersebut, skala dan kecepatan kenaikan harga perak mulai memunculkan nada kehati-hatian di kalangan pengamat pasar. Meskipun antusiasme masih tinggi, volatilitas yang menyertai reli cepat ini membuat banyak analis menimbang ulang apakah pergerakan harga saat ini masih selaras dengan fundamental atau telah bergerak terlalu jauh.
Momentum Mengangkat Perak Melampaui Emas
Salah satu indikator yang paling banyak disorot untuk menggambarkan besarnya reli perak adalah perbandingannya dengan emas. Untuk pertama kalinya dalam 14 tahun, rasio emas-perak menyempit hingga sekitar 50 banding 1. Artinya, hanya dibutuhkan sekitar 50 ons perak untuk membeli satu ons emas. Angka ini turun drastis dibandingkan lebih dari 100 ons perak yang dibutuhkan pada April tahun lalu.
Rasio emas-perak selama ini dipantau ketat oleh para pedagang sebagai tolok ukur valuasi relatif antara kedua logam mulia tersebut. Penyempitan rasio yang tajam dalam waktu singkat ini mengindikasikan bahwa kinerja perak telah melampaui ekspektasi banyak pelaku pasar. Rhona O’Connell, analis di StoneX, mengatakan perak sedang berada di tengah-tengah kegilaan yang dipicu sendiri. Ia mencatat, perak diuntungkan oleh penguatan emas dan harga satuannya yang relatif lebih rendah, yang membuatnya lebih mudah diakses oleh investor ritel dibandingkan emas.
Meski reli tersebut berhasil menarik arus investor dalam jumlah besar, O’Connell memperingatkan bahwa kenaikan harga yang terlalu cepat juga meningkatkan risiko pembalikan arah secara mendadak ketika momentum mulai memudar. Dinamika perdagangan berbasis momentum sering kali menciptakan pergerakan harga yang berlebihan sebelum akhirnya terkoreksi.
Fundamental atau Gelembung Harga?
Lonjakan harga perak yang begitu cepat memicu perdebatan tajam mengenai apakah harga saat ini masih mencerminkan fundamental pasar atau justru sudah memasuki wilayah gelembung spekulatif. Sejumlah ahli strategi menilai harga perak telah melampaui nilai wajarnya jika dilihat dari sisi permintaan industri dan prospek jangka menengah.
Michael Widmer, pakar strategi Bank of America, memperkirakan harga perak yang “wajar” berada di kisaran 60 dolar AS per ons. Menurut Widmer, permintaan dari sektor energi surya, yang selama ini menjadi salah satu pendorong utama konsumsi perak, kemungkinan telah mencapai puncaknya pada 2025. Ia juga menilai, harga yang terlalu tinggi berpotensi menekan konsumsi industri secara lebih luas, terutama di sektor-sektor yang sensitif terhadap biaya bahan baku.
Dalam pandangan ini, reli harga perak saat ini lebih banyak didorong oleh faktor investasi dan spekulasi dibandingkan peningkatan berkelanjutan pada permintaan fisik industri. Namun, pandangan berbeda disampaikan oleh pelaku industri dan analis yang melihat adanya kekuatan struktural yang lebih dalam di balik lonjakan harga perak.
Arus Investasi Menguat, Pasokan Tertinggal
Kinerja luar biasa perak sepanjang 2025 menjadi fondasi bagi lonjakan harga yang berlanjut pada awal 2026. Menurut data LSEG, kenaikan harga perak pada 2025 merupakan yang terkuat sejak pencatatan dimulai pada 1983. Reli tersebut didukung oleh arus investasi yang masif, terutama dari investor ritel. Pembelian koin dan batangan perak berukuran kecil meningkat tajam, mencerminkan tingginya minat investor individu yang mencari alternatif aset lindung nilai dengan harga lebih terjangkau dibandingkan emas.
Selain itu, arus masuk ke dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) berbasis perak fisik terus berlanjut sejak akhir 2025, memperkuat tekanan pada sisi permintaan. Di sisi pasokan, pasar perak menghadapi keterbatasan yang signifikan untuk merespons lonjakan permintaan tersebut. Sekitar 20 persen pasokan perak tahunan dunia biasanya berasal dari aktivitas daur ulang. Namun, keterbatasan kapasitas pemurnian bermutu tinggi membuat limbah perak tidak dapat diproses dan dikembalikan ke pasar dengan cepat.
Asimetri Produksi dan Volatilitas Harga
Ponmudi R, CEO Enrich Money, menyoroti adanya kendala struktural yang melekat pada sisi pasokan perak. Berbeda dengan emas, sebagian besar produksi perak primer dunia merupakan produk sampingan dari penambangan logam dasar seperti tembaga, timbal, dan seng. Struktur produksi ini membatasi kemampuan industri pertambangan untuk dengan cepat meningkatkan output perak sebagai respons terhadap kenaikan harga.
“Asimetri pasokan ini memperkuat volatilitas kenaikan harga,” kata Ponmudi. Menurutnya, ketika harga perak melonjak, produsen tidak serta-merta dapat menaikkan produksi karena keputusan investasi dan ekspansi tambang lebih banyak ditentukan oleh prospek logam dasar utama, bukan perak itu sendiri. Ia juga menambahkan, pengurangan persediaan yang terjadi berulang kali dalam beberapa tahun terakhir telah secara signifikan menggerus cadangan perak di atas permukaan tanah.
Antisipasi Normalisasi dan Risiko Ambil Untung
Meski tekanan pasokan masih terasa kuat, sebagian analis memperkirakan akan terjadi sedikit pelonggaran kelangkaan fisik dalam waktu ke depan. Normalisasi arus perdagangan diperkirakan dapat terjadi, terutama setelah Washington memutuskan untuk menahan diri dari penerapan tarif baru usai peninjauan logam-logam penting pada Januari 2026. Langkah tersebut dinilai berpotensi meningkatkan likuiditas di pasar tradisional dan meredam laju kenaikan harga perak.
Dengan arus perdagangan yang lebih lancar, sebagian tekanan ekstrem pada pasokan fisik dapat berkurang, meskipun tidak serta-merta menghilangkan ketatnya pasar secara keseluruhan. Namun, dengan harga perak yang telah mencerminkan optimisme besar, banyak pengamat memperkirakan potensi aksi ambil untung dalam waktu dekat. David Wilson, ahli strategi komoditas senior di BNP Paribas, menilai bahwa koreksi harga merupakan risiko yang tidak bisa diabaikan. Aksi ambil untung setelah reli yang hiruk pikuk dan didorong oleh investor kemungkinan akan terjadi lebih cepat daripada nanti. Ia memperingatkan, tanda-tanda pelemahan di pasar fisik dapat memicu penurunan harga yang lebih tajam, terutama jika sentimen pasar berbalik dalam waktu singkat.
Pergerakan ini menempatkan perak kembali ke pusat perhatian global, tidak hanya sebagai aset investasi, tetapi juga sebagai komoditas strategis yang semakin penting dalam lanskap ekonomi dan teknologi dunia.


