Guru Belajar dari Entrepreneur, Ngonten Jadi Sampingan Menguntungkan dan Edukatif

Posted on

Pengalaman Mengajar yang Berubah

Dua orang siswa saya, Rajwa dan Akil, sedang mengikuti bimbingan lomba. Mereka heran saat saya ajarkan membuat power point yang menarik. Bukan hanya itu, rancangan itu menjadi salah satu acuan setiap kali mereka mengikuti lomba. “Bunda buat sendiri powerpointnya?” tanya keduanya. Saya tertawa saat menjawabnya. “Namanya juga ‘power point’, jadi ada point-point penting yang kita ambil menjadi kekuatan yang membantu kita menjelaskan ide saat presentasi.”

Selama ini dengan rutinitas yang sama dan tumpukan banyak rencana pelajaran, berkas penilaian, dan kesibukan mengajar, eskul, wali kelas, saya sering berpikir bagaimana sebaiknya memanajemeni semuanya agar bisa mendapat prioritas yang sama. Dan tidak terjebak dalam kerja yang bisa membuat kita berada di lingkaran yang sama tanpa ada perubahan berarti.

Saya juga ingin bisa terus tumbuh sebagai pendidik di era digital yang serba cepat ini? Bukan sekedar mengajar, meskipun itu prioritas karena telah menjadi panggilan jiwa. Tapi di balik profesi yang identik dengan rutinitas kelas, saya mulai menyadari pentingnya berinvestasi pada diri sendiri, dalam bentuk yang mungkin berbeda dari biasanya.

Dari Guru ke Pembelajar

Sewaktu sekolah sering mengharuskan guru ikut webinar, saya menjadi punya keinginan untuk mengasah diri bukan lagi sebatas memperbarui metode mengajar, melainkan juga belajar memahami dunia baru di luar ruang kelas, yaitu dunia bisnis digital, content creation, dan platform daring yang kini mengubah cara manusia belajar dan bekerja. Substansinya memang masih berkaitan dengan proses mendidik, hanya saja wujudnya kini lebih cair dan lintas batas.

Saya meyakini bahwa guru sebagai pembelajar sepanjang hayat tidak boleh kendor agar tidak tertinggal. Di waktu luang saya mulai sering mengikuti berbagai webinar dan pelatihan daring gratis, terutama yang membahas cara menjadi pengusaha sukses lewat jalur pendidikan. Apalagi banyak ruang baru yang menggabungkan pengetahuan, kreativitas, dan keberanian untuk mencoba hal-hal baru.

Belajar dari Cerita Keberhasilan

Sering kali kita butuh motivasi dengan disertai bukti nyata. Irvan Maulana, seorang pengusaha muda, entrepreneur yang sukses membangun bisnis daring di bidang pendidikan, menjadi inspirasi bagi saya. Irvan bukan sosok yang tiba-tiba viral karena keberuntungan. Ia membangun kesuksesannya dari ketelitian membaca peluang, memahami kebutuhan orang, dan konsistensi dalam mengeksekusi ide.

Saya menyukai strategi dan tipsnya menemukan celah-celah potensi dalam materinya. Irvan menjelaskan prinsip yang terdengar sederhana, tapi sesungguhnya mendalam: carilah niche, celah pasar kecil yang paling membutuhkan solusi nyata. Niche sering menjadi sumber potensi yang tidak terduga. Jadi bukan sekadar ikut tren atau meniru orang lain, tetapi benar-benar mengidentifikasi siapa orang-orang yang paling membutuhkan sesuatu yang bisa kita tawarkan.

“Kalau kamu bisa menjawab kebutuhan spesifik seseorang, maka kamu sudah selangkah lebih maju dari pesaing,” katanya dalam webinar itu.

Mengasah Diri, Mengubah Pola Pikir

Bagaimanapun harus digarisbawahi jika tidak bijak sesuatu yang positif bisa menjadi bias. Ngonten bisa dianggap sesuatu yang tidak sesuai dengan kerja-kerja guru yang tepat. Menjadi guru sekaligus pembelajar di era digital bukan perkara mudah. Ada benturan antara idealisme pendidikan dan realitas industri konten yang kompetitif. Ada juga godaan untuk cepat-cepat mencari cuan, yang kadang membuat orang lupa pada nilai dasar, membantu orang lain tumbuh.

Beberapa waktu lalu viral seorang guru yang sibuk ngonten sementara kelas ribut dan anak-anak justru kebingungan di kelas. Kemampuan kita untuk terus beradaptasi, berpikir terbuka, dan belajar dari siapa pun, termasuk dari para pengusaha meskipun mungkin tak pernah mengajar di kelas, namun juga penting untuk membantu kita belajar tentang growth mindset.

Saya merasakan pengalaman seperti murid lagi saat mengikuti webinar, mencatat dan mencoba menerapkannya sesuai kebutuhan saya. Ketika membahas pentingnya membuat value proposition atau apa nilai yang kita tawarkan kepada audiens, saya membayangkan bagaimana konsep itu bisa diterapkan dalam dunia pendidikan. Bagaimana jika guru bukan hanya mengajar mata pelajaran, tapi juga menyiapkan “nilai tambah” bagi siswanya, yaitu kemampuan hidup, keterampilan digital, dan cara berpikir kritis?

Saya mulai merancang ide-ide kecil tentang pembelajaran yang memudahkan. Bagi saya, inilah bentuk baru dari ngonten yang mendidik, tidak sekadar memburu algoritme, tetapi membangun ekosistem belajar yang berkelanjutan.

Keseimbangan Antara Digital dan Refleksi

Memang ketika dijalani juga tidak semudah yang kita bayangkan, kita harus belajar untuk tetap kritis. Bagaimanapun dunia digital sering menjanjikan kebebasan, tapi di baliknya ada tekanan yang halus, harus selalu produktif, selalu relevan, selalu viral. Banyak orang terjebak dalam romantisme self-improvement yang tanpa henti, belajar terus, tapi tak pernah selesai.

Saya tak ingin terjebak di sana. Mestinya memang harus ada keseimbangan antara kecepatan digital dan refleksi. Belajar tidak harus selalu cepat, dan kesuksesan tidak harus selalu diukur dari jumlah pengikut atau nominal rupiah.

Kritik ini menurut saya penting, karena di balik semangat berinovasi, kita juga perlu menjaga nilai-nilai pendidikan itu sendiri, kesabaran, empati, dan tanggung jawab sosial. Jika guru ikut serta dalam dunia bisnis digital, maka etika harus tetap menjadi fondasi. Kita boleh beradaptasi, tapi tidak boleh kehilangan arah.