Generasi wirausaha berdaya, ini kisah sukses perjalanan penjual lokal muda di Shopee

Posted on

PasarModern.com – Di balik setiap bisnis yang tumbuh, terdapat pelaku usaha yang berani untuk memulai. Bahkan, sebagian besar dari mereka merupakan pelaku usaha muda.

Seperti diketahui, merintis usaha di usia yang masih muda bukanlah hal mudah. Pasalnya, mereka kerap menghadapi tantangan dengan pengalaman yang masih terbatas.

Untuk menemani dan mendorong pertumbuhan bisnis para penjual, Shopee menghadirkan program “Sukses Berkarya Sebelum 30”. Program ini memberikan wadah sekaligus sorotan bagi anak muda Indonesia yang memiliki potensi luar biasa. 

Melalui program tersebut, Shopee merangkum kisah perjalanan generasi muda yang berani membuka peluang, berkarya, dan memberi dampak sebelum usia 30 tahun bersama Shopee.

Shopee telah menyorot puluhan pengusaha muda dari berbagai kategori melalui artikel dan video selama setahun.

Dari fesyen, kecantikan, home and living, kuliner hingga kerajinan lokal, masing-masing menghadirkan kisah yang mewakili wajah baru usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) Indonesia. 

Senior Director of Business Development Shopee Indonesia, Adi Rahardja mengatakan, Shopee melihat banyak anak muda yang semakin menginspirasi dan menjadi wajah baru penggerak ekonomi digital sepanjang 2025.

Selain menciptakan produk berkualitas, mereka juga membuka lapangan pekerjaan, menghadirkan kesempatan baru, dan menyalakan harapan bagi banyak orang di sekelilingnya.

“Kami bangga bisa menjadi rumah dan teman untuk perjalanan bisnis mereka. Melalui Sukses Berkarya Sebelum 30, Shopee mengajak anak muda lain untuk berani mewujudkan mimpi dan mengambil berbagai peluang yang ada,” kata Adi.

Cerita pengusaha muda

Pemilik brand Hairum, David, turut membagikan perjalanan bisnisnya dalam program Sukses Berkarya Sebelum 30. Ia menjelaskan, Hairum merupakan brand perawatan dan kecantikan lokal yang lahir dari filosofi sederhana bahwa merawat diri dimulai dari rambut.

Saat memulai usaha ini pada 2022, David masih berusia 22 tahun. Ia memulai bisnis bersama saudara dan lima teman terdekat. Tanpa investor dan tim besar, mereka hanya memiliki keyakinan bisa membuat produk yang peduli terhadap permasalahan rambut.

Namun, dibalik pertumbuhan usaha, terdapat berbagai kendala yang dihadapi, seperti salah kirim, ditipu, hingga burnout.

Meski sempat ragu untuk meneruskan usaha, titik terang muncul saat semakin banyak pelanggan menemukan produk mereka melalui Shopee. Selain membeli produk, konsumen juga berbagi cerita, testimoni, dan membangun kepercayaan terhadap Hanum.

Selain David, pemilik brand Sambal Nagih, Anita Hartati, juga berbagi cerita. Ia mengaku, usaha ini lahir dari keyakinan bahwa sambal bukan hanya rasa pedas, tetapi rasa rumah, rasa kebersamaan, dan identitas budaya.

Baginya, rasa pedas itu bukan hanya di lidah, tetapi juga dalam berbagai tantangan dan perjalanan bisnisnya. Filosofi ini dijalani dari proses produksi, pemasaran, hingga memenangkan kepercayaan konsumen di pasar kuliner yang sangat kompetitif.

Hal tersebut dilakoninya secara konsisten sampai Sambal Nagih bergabung di Shopee. Kini, merek ini menjadi jembatan untuk mengantarkan rasa “rumah” ke lebih banyak keluarga di berbagai kota sambil menjaga cita rasa budaya di tengah modernisasi.

Hal senada disampaikan pula pemilik brand Intresse, Susanne Melvina, dalam tayangan video. Susanne mengaku, mendirikan Intresse berangkat dari kecintaan mendalam terhadap tenun.

Dari awal, ia percaya bahwa kain bukan sekadar kain. Setiap helai kain menyimpan cerita, warisan budaya, dan harapan untuk generasi berikutnya.

Meski demikian, keyakinan itu tidak serta-merta menghapus kekhawatiran tentang pertanyaan, “Masih ada ruang kah untuk tenun di zaman sekarang?”.

Di tengah tren fesyen modern, ada rasa takut bahwa budaya justru perlahan terlupakan. Namun, kekhawatiran itu pula yang akhirnya menjadi alasan untuk terus bergerak.

Bersama Shopee, Intresse menemukan cara baru untuk lebih dekat dengan para pelanggan, khususnya generasi muda. Saat ini, produknya bisa terjual dari Aceh hingga Papua.

Selain itu, ada pula sosok di balik brand Kacamata Demodas, Priyanto Utomo atau  yang biasa dipanggil Tommy.

Ia bercerita, dirinya memulai usaha dengan keyakinan bahwa kacamata tidak hanya membantu orang melihat lebih jelas, tetapi juga tampil percaya diri dengan gaya mereka.

Meski demikian, perjalanannya menjual kacamata sesuai prinsip itu tidak mudah. Menurutnya, menjual kacamata itu cocok-cocokkan. Orang ingin mencoba dulu, melihat apakah bentuknya pas di wajah. Belum lagi stigma bahwa brand kacamata lokal sering dianggap sebelah mata.

Namun, di tengah tantangan tersebut, Shopee menjadi ruang baru untuk menunjukkan kualitas produknya. Shopee membantunya memperkenalkan frame secara live, menjawab pertanyaan real-time, dan memberikan edukasi mengenai kacamata kepada pelanggan.

Terakhir, ada cerita dari pemilik brand Bukipet, Asep Ruswandi. Asep bercerita bahwa merek besutannya ini tumbuh dari mimpi besar dan cinta pada hewan. Menurutnya, hewan peliharaan juga layak mendapat kenyamanan.

Di usia 25 tahun, Asep memulai bisnis pakaian, mainan, dan perawatan hewan. Meski usahanya kerap dipandang sebelah mata dan dianggap sulit untuk mendapatkan panggung, Asep tetap memilih untuk percaya pada mimpinya.

Shopee membuat perjalanan itu menjadi lebih mudah dengan mempertemukan produknya dengan pecinta hewan, membuka ruang interaksi yang lebih personal, dan mempercepat kepercayaan konsumen.

Wujudkan mimpi bersama Shopee

Keberhasilan seller muda di Shopee bukan hanya hasil dari produk yang ditawarkan, tetapi juga kemampuan mereka beradaptasi terhadap dunia digital yang terus berubah.

Pasalnya, mereka cepat belajar serta mengoptimalkan berbagai kampanye yang dihadirkan Shopee secara efektif.

Sebut saja fitur interaktif, seperti Shopee Live dan Shopee Video, untuk menjangkau audiens yang lebih luas. Selain itu, terdapat juga Shopee Affiliate untuk menciptakan pengalaman belanja yang personal dan interaktif.

Dari fase awal yang dipenuhi keraguan dan berbagai eksperimen, kini mereka memasuki tahap pertumbuhan yang lebih matang.

Misalnya, lebih dari 80 persen penjualan brand Hairum berasal dari Shopee. Bahkan, Hairum menjadi salah satu penjual di kategori Kecantikan yang sukses meraih total penjualan mencapai puluhan ribu produk.

Sementara itu, brand Demodas mencatatkan kenaikan omzet hampir 100 persen serta peningkatan kapasitas produksi dan penyerapan tenaga kerja baru pada 2024 dan 2025.

Selanjutnya, Bukipet mencatat lonjakan pesanan enam kali lipat saat 12.12 Birthday Sale 2024 dan menjadi penjual nomor satu di kategori pakaian hewan peliharaan. Sebanyak 77 persen penjualan merek ini berasal dari Shopee.

Lalu, saat Kampanye Big Ramadan Sale 2025, Sambal Nagih sukses meningkatkan pesanan hingga tiga kali lipat dan berhasil memperluas jangkauan ke berbagai daerah di Indonesia.

Tak lupa, Intresse mencatatkan penjualan empat kali lipat pada kampanye Big Ramadan Sale 2025. Langkah ini mampu memperluas jangkauan dan pangsa pasar Intresse ke taraf nasional baik dari Aceh sampai Papua.

Setiap bulan, jutaan pesanan dari UMKM muda terhubung melalui Shopee. Di balik angka tersebut, terdapat lapangan kerja baru tercipta, keluarga terbantu, serta mimpi yang kembali mendapatkan ruang untuk berkembang.

Saksikan kisah Sukses Berkarya Sebelum 30 selengkapnya di YouTube Shopee Indonesia untuk melihat bagaimana perjalanan kreator muda dalam membentuk wajah baru kewirausahaan lokal.

Adi melanjutkan bahwa melalui Shopee, pelaku usaha muda dapat terhubung langsung dengan pelanggan, berinteraksi secara real-time, membangun kepercayaan, dan memperluas pasar tanpa batas geografis.

“Kini, karya mereka tidak hanya diterima masyarakat Indonesia, tetapi juga telah menembus pasar internasional,” tutur Adi.

Untuk menemukan lebih banyak produk lokal berkualitas, kunjungi laman https://shopee.co.id/m/shopee-pilih-lokal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *