Gen Z: Gumoh naik jabatan, yang penting kerja dapat penghasilan

Posted on

Gen Z: Gumoh Naik Jabatan, yang Penting Kerja Dapat Penghasilan.

Di generasi sebelumnya, naik jabatan adalah simbol keberhasilan. Semakin tinggi posisi, semakin besar gengsi. Kursi empuk, titel panjang, dan panggilan “Pak/Bu” di depan nama menjadi tujuan hidup yang dikejar mati-matian. Namun ketika Gen Z masuk ke dunia kerja, narasi itu mulai bergeser.

Alih-alih berlomba naik jabatan, banyak Gen Z justru berkata, “Yang penting kerja, dapat penghasilan, hidup jalan.” Bukan karena mereka malas, bukan juga karena tidak punya ambisi, tapi karena mereka melihat realita kerja dengan kacamata yang lebih jujur: jabatan tinggi sering datang bersama beban yang tidak sebanding.

1. Gen Z Tidak Anti Ambisi, Mereka Anti Burnout

Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang Gen Z adalah anggapan bahwa mereka tidak mau berkembang. Faktanya, Gen Z sangat ambisius, hanya saja ambisinya berbeda. Mereka tidak lagi menjadikan jabatan sebagai satu-satunya tolok ukur sukses.

Gen Z tumbuh di era di mana burnout bukan sekadar kata keren, tapi kondisi nyata. Mereka melihat senior-seniornya bekerja tanpa jam pulang, selalu on call, hidupnya habis di kantor, tapi tetap tidak pernah merasa cukup. Dari situ, Gen Z belajar satu hal penting: naik jabatan tidak selalu berarti naik kualitas hidup.

Maka ketika ditawari promosi yang berarti tanggung jawab berlipat tapi kompensasi tidak sepadan, wajar jika mereka gumoh.

2. Jabatan Tinggi, Tapi Hidup Tidak Tinggi

Gen Z melihat banyak contoh orang dengan jabatan tinggi tapi hidupnya kosong. Pulang kerja masih bawa beban. Akhir pekan tetap mikirin pekerjaan. Liburan pun sambil buka laptop. Secara status naik, tapi secara mental turun.

Bagi Gen Z, hidup bukan hanya soal bekerja. Ada waktu istirahat, ada kesehatan mental, ada kehidupan personal yang juga harus dijaga. Jabatan yang mengorbankan semua itu tidak lagi terlihat menarik, seberapa pun mentereng namanya.

Mereka mulai bertanya, “Untuk apa naik jabatan kalau hidupku justru makin sempit?”

3. Realita Ekonomi Membuat Gen Z Lebih Praktis

Berbeda dengan generasi sebelumnya, Gen Z masuk dunia kerja di tengah kondisi ekonomi yang tidak ramah. Harga rumah mahal, biaya hidup naik, lapangan kerja kompetitif. Di situasi seperti ini, yang paling penting bukan titel, tapi arus kas yang stabil.

Bagi Gen Z, penghasilan yang cukup dan konsisten jauh lebih berharga daripada jabatan tinggi tapi penuh risiko. Mereka memilih aman, realistis, dan berkelanjutan. Selama kebutuhan terpenuhi dan hidup bisa berjalan, jabatan hanyalah bonus. Ini bukan mental karyawan kelas dua, tapi strategi bertahan hidup di dunia yang tidak ideal.

4. Gen Z Lebih Sadar Nilai Diri, Bukan Sekadar Posisi

Naik jabatan sering kali berarti harus tunduk pada sistem yang tidak selalu sehat: politik kantor, tekanan atasan, budaya kerja toksik. Gen Z tidak buta akan hal ini. Mereka melihat bagaimana posisi bisa membuat seseorang kehilangan suara, prinsip, bahkan harga diri.

Gen Z lebih memilih pekerjaan yang menghargai kontribusi, bukan sekadar jabatan. Mereka ingin didengar, bukan hanya diperintah. Mereka ingin bekerja dengan manusia, bukan sekadar struktur. Maka ketika naik jabatan berarti kehilangan kendali atas hidup sendiri, banyak Gen Z memilih menolak dengan sadar.

5. Work-Life Balance Bukan Manja, Tapi Kebutuhan

Bagi Gen Z, work-life balance bukan tuntutan berlebihan. Itu kebutuhan dasar. Mereka tidak mau hidup hanya untuk bekerja. Mereka ingin bekerja agar bisa hidup.

Naik jabatan sering berarti jam kerja tidak jelas, beban bertambah, dan ekspektasi tanpa batas. Sementara kompensasi emosionalnya nihil. Gen Z menilai ini sebagai transaksi yang tidak adil.bDan jujur saja, itu masuk akal. Karena hidup tidak bisa diulang hanya demi membuktikan loyalitas pada perusahaan yang bisa mengganti karyawan kapan saja.

6. Gen Z Melihat Karier Sebagai Jalan, Bukan Tangga

Generasi lama melihat karier seperti tangga, naik terus sampai puncak. Gen Z melihat karier seperti jalan panjang, bisa belok, berhenti, ganti arah, bahkan mundur sebentar.

Mereka tidak takut stagnan secara jabatan selama mereka berkembang secara skill dan pengalaman. Bagi Gen Z, belajar hal baru, menambah kompetensi, dan membuka peluang lain jauh lebih penting daripada sekadar naik level struktural. Karena mereka sadar, jabatan bisa hilang, skill tidak.

7. Trauma Kolektif Terhadap Dunia Kerja yang Tidak Manusiawi

Gen Z tumbuh menyaksikan orang tuanya mengorbankan hidup demi pekerjaan, tapi tetap tidak sejahtera. Mereka melihat PHK massal, ketidakpastian, dan perusahaan yang bicara “keluarga” tapi kejam saat krisis.

Semua ini membentuk pola pikir baru, jangan taruh seluruh hidupmu di satu tempat. Maka naik jabatan bukan lagi tujuan utama, karena ketergantungan penuh pada satu sistem dianggap berbahaya.

8. Yang Penting Kerja, Dapat Penghasilan, Hidup Jalan

Kalimat ini sering disalahartikan sebagai tanda kemalasan. Padahal maknanya jauh lebih dalam. Ini tentang prioritas. Tentang bertahan. Tentang menjaga diri. Gen Z memilih pekerjaan yang cukup, stabil, dan tidak menggerus kesehatan mental. Mereka tidak menolak berkembang, tapi menolak mati pelan-pelan. Dan itu bukan sikap kalah, itu bentuk kesadaran diri.

Gen Z bukan generasi yang anti naik jabatan. Mereka hanya generasi yang tidak mau dibutakan oleh jabatan. Mereka belajar dari kegagalan generasi sebelumnya, dari luka yang diwariskan sistem kerja yang tidak manusiawi. 

Bagi Gen Z, hidup yang seimbang, sehat, dan layak lebih penting daripada titel yang membuat mereka kehilangan diri sendiri. Dan mungkin, untuk pertama kalinya, ada generasi yang berani berkata, “Aku tidak ingin jadi hebat di kantor, tapi hancur di hidupku sendiri.” Bukankah itu justru bentuk kedewasaan yang paling nyata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *